Home Lintas Jateng Wuih Pasar Burung Depok Solo Masuk Standar Nasional

Wuih Pasar Burung Depok Solo Masuk Standar Nasional

Solo, 8/12 (Beritajateng.net) – Dari 43 pasar tradisional di Solo, baru satu yang memenuhi standar nasional yaitu Pasar Burung Depok karena fasilitas yang tersedia memenuhi kriteria yang ditetapkan pemerintah.

“Sementara 42 pasar tradisional lainnya belum masuk kriteria disebabkan kurangnya fasilitas penunjang di dalamnya,” kata Kepala Dinas Pengelola Pasar (DPP) Pemkot Surakarta Subagio di Solo, Senin seperti dikutip Antara.

Ia mengatakan pemerintah pusat telah membuat standarisasi untuk pasar tradisional di Indonesia. Hal itu dipaparkan pemerintah saat mengundang sejumlah kabupaten/kota yang dinilai mampu menghidupkan pusat kegiatan ekonomi, yakni Pemkot Surakarta, Pemprov DKI Jakarta, dan Pemkot Surabaya.

Dikatakan Kota Solo diundang dalam acara tersebut lantaran dinilai sudah mampu membuat pasar tradisional menggeliat dan menunjukkan taringnya di saat maraknya pusat perbelanjaan serta toko modern.

Subagio mengatakan dalam pertemuan itu, pemerintah memaparkan pasar tradisional diwajibkan menyediakan fasilitas bagi para pedagang dan pengunjung, di antaranya syarat umum yakni penetapan areal, bisa diakses masyarakat. Untuk syarat teknis meliputi sarana penunjang yakni pos kesehatan, pojok ASI, tempat bermain anak, area merokok, tempat parkir, tempat pembuangan sementara (TPS), dan tempat pengolahan sampah.

“Dari persyaratan itu baru Pasar Depok yang masuk kategori pasar tradisional berstandar nasional. Kelebihan Pasar Burung Depok itu sudah memiliki tempat pengolahan sampah. Sedangkan pasar yang lainnya belum memiliki,” katanya.

Ia mengatakan Pemkot Surakarta bertekad untuk memperbaiki dan melengkapi sarana prasarana 42 pasar tradisional yang sudah ada. Hanya saja, hal itu memerlukan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Semuanya dilakukan secara bertahap.

Dikatakan walaupun belum masuk standar nasional, namun Subagio mengatakan ada beberapa pasar yang mendekati kriteria tersebut. Pasar yang dmaksudkan adalah Pasar Nongko, Kadipolo, Gede, Gading, Nusukan, dan Jungke. Namun, pasar tersebut masih perlu dipoles agar sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah.

Selain itu, Pemkot juga berusaha menata para pedagang. Hal ini diwujudkan dengan pembuatan zonasi di pasar. Tidak hanya bagi pedagang lama, melainkan pedagang baru yang berasal dari pedagang kaki lima (PKL). Penataan itu dimaksudkan untuk mewujudkan pasar tradisional yang rapi dan mengurangi persaingan antarpedagang.

Menyinggung mengenai sumbangan pasar dalam pendapatan asli daerah (PAD) Subagio mengatakan untuk tahun ini sebesar Rp20 miliar.

“Dengan sisa waktu yang tinggal beberapa minggu ini target tersebut optimistis akan bisa terpenuhi,” katanya.(ant/pj)

Advertisements