Home Ekbis Wow, Converter Gas BRT Semarang Jadi Role Model JCM Internasional

Wow, Converter Gas BRT Semarang Jadi Role Model JCM Internasional

475
0
Converter Gas BRT Semarang Jadi Role Model JCM Internasional

Jakarta, 9/2 (BeritaJateng.net) – Program Converter Gas BRT Trans Semarang dijadikan “Succes Story” (Cerita keberhasilan) project JCM Indonesia, khususnya di bidang transportasi. Institute for Global Environmental Strategies (IGES) bekerjasama dengan Kemenko Perekonomian menggelar “Seminar on Climate Actions and The Joint Crediting Mechanism (JCM) in Indonesia”, bertempat di Hotel Aryaduta, Tugu Tani, Jakarta.

Pada acara tersebut, Dicky Edwin Hindarto, Advisor untuk Joint Crediting Mechanism (JCM) Indonesia dalam seminar menyatakan, Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang mempunyai komitmen paling tinggi di dalam penurunan emisi.

Selama 5 Tahun lebih JCM Indonesia sudah mengerjakan 32 project di Indonesia terkait Kehutanan, efisiensi Energi dan energi terbarukan. Yang semua project tersebut adalah bermuara dalam upaya penurunan/pengurangan emisi.Dalam skema JCM (Join Credit Mecanism) skemanya melibatkan banyak pihak. Antara lain, Kementerian di Jepang, Kementerian di Indonesia, Kota di Jepang, kota di Indonesia, perusahaan di Jepang, Perusahaan di Indonesia, BUMN di Indonesia dan juga entitas pihak Ketiga.

Dalam kesempatan ini, Ade Bhakti Ariawan Kepala BLU UPTD Trans Semarang diberikan kesempatan bercerita kepada seluruh peserta seminar, tentang keberhasilan project Converter Gas yang mengalihkan penggunaan bahan bakar Bus Trans Semarang yang tadinya 100% menggunakan solar, kini bisa menggunakan gas (CNG) dengan perbandingan 70% Gas : 30% Solar.

Seperti diketahui bahwa project converter gas yang dilaksanakan di Trans Semarang sudah dilaunching tanggal 9 januari yang lalu.

Ade bercerita, pembicaraan tentang project ini dimulai pada bulan September 2017, kala itu yang kebetulan Kota Semarang dan Kota Toyama (Jepang) tergabung dalam jejaring 100 Kota Dunia berketahanan Tangguh. Dari pembicaraan awal itu, munculah ide-ide dari kedua kota untuk merealisasikan hal-hal yang sifatnya nyata dan bisa langsung dirasakan manfaatnya bagi kedua Kota.

Munculah beberapa ide saat itu, seperti Solar Panel untuk Sekolah, micro Hydro untuk perkampungan, dan bahan bakar gas untuk Trans Semarang. Alhamdulilah dari beberapa project JCM di Semarang, khusus untuk yang BRT kami ini berjalan cepat dan sesuai dengan time schedule yang kami tetapkan waktu itu (awal 2019 harus launching) slorohnya.

Ade melanjutkan proses project ini, trans semarang harus mengirimkan dokumen dalam bentuk proposal kepada kementerian Lingkungan Hidup Jepang untuk mendapatkan approval dari mereka terkait pembiayaan project ini nantinya. Alhamdulillah di bulan Februari 2018 waktu itu dokumen berhasil kami siapkan dan kami kirim ke KLH Jepang, ungkap ade.

Kekhawatiran ketersediaan gas di Semarang
Setelah dokumen berhasil kami kirim ke KLH Jepang, sambil menunggu approval dari sana, kami waktu itu mencoba koordinasi dengan kementerian ESDM terkait ketersediaan (supplay) CNG di Semarang.

Di Semarang, menurut Ade, sudah ada 3 SPBG di Mangkang, penggaron dan kaligawe, tapi kita semua tau bahwa ketiga SPBG tersebut belum bisa mendistribusikan gas pada waktu itu.

“Alhamdulillah di sekitaran pertengahan tahun 2018, Menteri ESDM mengeluarkan keputusan tentang penunjukan PERTAMINA sebagai penyedia gas di Semarang, kemudian ditindaklanjuti oleh pertamina dengan menugaskan PT. Pertagas NIaga selaku anak perusahaan Gas Pertamina yang bergerak di bidang Gas. Dan saat ini, komitmen dari pertagas Niaga, selama jaringan pipa di semarang belum tersambung untuk ketiga SPBG yang ada Pertagas Niaga menyediakan MRU (Mobile Refueling Unit) untuk menjamin ketersediaan CNG untuk BRT Trans Semarang,” kata Ade.

Ade melanjutkan, meskipun dengan berbagai macam kendala yang ada, project ini berhasil selesai di akhir tahun 2018 yang lalu dan berhasil kami launching tepat di awal tahun 2019 ini. Harapan kami project ini bukan project pertama dan terakhir dari JCM Indonesi untuk Trans Semarang. Semoga komitmen kuat Kota Semarang untuk mengurangi tingkat polusi udara di Kota ini mendapat support dari berbagai pihak, karena seperti inilah yang diharapkan oleh Pak Wali (Walikota Semarang-Red) terkait konsep membangun Kota dengan BERGERAK BERSAMA.

Pada kesempatan yang sama, Mr. Kentaro Takahashi – Programme Manager Climate and Energy Area dari IGES Jepang, menyampaikan hal yang senada, implementasi JCM adalah salah satu pembelajaran yang bagus bagi Jepang dan negara sahabat untuk kemudian bisa melakukan implementasi Perjanjian. Hal ini diharapkan JCM akan masuk menjadi bagian dari implementasi, yaitu pembiayaan berdasar mekanisme pasar dan non pasar.

Selain Kentaro, Aryani amelina selaku Policy Researcher dari IGES Jepang menjelaskan Teknologi yang diterapkan oleh Proyek Model JCM dalam energy eficiency mencapai 52% dimana project ini paling tertinggi diantaranya mengenai, Air Conditioning, Chiller, Looms, Gas Co-generation,LED Lighting. Dalam transportasi disini hanya 2% project CNG Diesel Hybrid yang saat ini sudah di terapkan oleh BLU UPTD Trans Semarang dalam pengoprasian Bus. Hal ini CNG Diesel Hybrid bisa menjadi percontohan di Kota kota lain. Karena dari seluruh project JCM di Dunia, baru di Trans Semarang project JCM bisa masuk pertama kalinya di bidang transportasi dan juga pertama kalinya JCM bisa mengaplikasikan G to G (Pemerintah dengan Pemerintah). Karena biasanya project JCM ini B to B (Bisnis to Bisnis / Swasta dengan Swasta).

Oleh karenanya dari JCM Pusat ingin menjadikan Project di Trans Semarang ini sebagai role model JCM yang akan mengaplikasikan kerjasama G to G. Di Tahun ini project yang sama akan di copy paste oleh pemerintah Tabanan Bali untuk angkot di Kota Tabanan. “Selain itu tidak, menutup kemungkinan kami akan membawa Trans Semarang untuk bercerita di forum-forum JCM INternasional terkait proses implementasinya yang menurut kami sangat sulit, tapi oleh temen-temen di Semarang ini bukan menjadikan halangan untuk implementasinya,” tutupnya. (El)