Home Hiburan Wisman dari 21 Negara Tercatat Pernah Mendaki ke Puncak Gunung Slamet

Wisman dari 21 Negara Tercatat Pernah Mendaki ke Puncak Gunung Slamet

Pendaki asal Malaysia ini mendaftarkan diri di pos Bambangan

Purbalingga, 4/11 (BeritaJateng.net) – Setidaknya wisatawan mancanegara (wisman) dari 21 negara di dunia pernah melakukan pendakian ke puncak Gunung Slamet (3.428 m dpl) sejak bulan Agustus hingga Oktober 2016 ini. Mereka memilih melakukan pendakian dari pos Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Trend peningkatan jumlah wisman yang mendaki ke puncak gunung ini cenderung semakin meningkat eiring dengan pergeseran wisata massal ke wisata alternatif.

Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga, Ir Prayitno, M.Si mengatakan, wisatawan manca yang naik ke puncak antara lain dari Inggris, Rusia, Columbia, Malaysia, Inggris, Singapura, Vietnam, Amerika Serikat, Canada dan sejumlah negara lainnya.

“Kedatangan mereka kebanyakan setelah berkunjung ke sejumlah tempat wisata di Indonesia. Kebanyakan, mereka setelah berkunjung ke Bali, Lombok dan Candi Borobudur, dan kemudian melakukan pendakian. Usia mereka masih muda, namun beberapa diantaranya juga sudah diatas usia 50-an tahun,” kata Prayitno disela-sela melakukan pemantauan pendakian di pos Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Jum’at (4/11).

Prayitno mengungkapkan, berdasar catatan yang ada, kedatangan rombongan pendaki rata-rata tiga hingga lima orang dalam satu kelompok. Namun, ada juga rombongan berjumlah 12 orang, mereka berasal dari Inggris. Rombongan pendaki dari Inggris itu, tiga diantaranya pendaki wanita. Ketiga pendaki wanita dari Inggris itu masing-masing Katia Sellini, Henny Malyassendy dan Hazel Huang. Sementara sembilan pendaki pria masing-masing Walter Schindler, Ian Griffith, Trevor Sharot, Simon Hopkins, Michael Burger, Gordon Anderson, Ross Jahx, Martin jenkins, dan Christian Vanschoote.

“Kedatangan mereka selalu berkelompok, dan mereka kebanyakan memanfaatkan jasa warga Bambangan untuk memandu selama pendakian. Selain memberikan pendapatan melalui retribusi yang dibayarkan, tentunya para pendaki wisman tersebut juga membawa berkah bagi warga setempat. Mereka membeli makanan sebelum mendaki dan meminta jasa warga untuk memandu. Bahkan, ada yang meminta jasa membawa tas rangsel selama mendaki,” kata Prayitno.

Salah seorang pendaki dari Inggris,Walter Schindler mengungkapkan, dirinya bersama teman-teman sangat tertarik dengan keindahan alam dan pariwisata di Indonesia. Ia sengaja menjelajah di beberapa pegunungan di Indonesia termasuk ke Gunung Slamet. “Kami sudah merencanakan lama ingin mendaki ke puncak Gunung Slamet, dan baru kali ini bisa mewujudkannya. Sungguh indah alam di Indonesia,” ujarnya.

Dibagian lain Prayitno mengatakan, selain pendaki dari wisman, animo pendaki dari wisatawan nusantara (wisnus) juga meningkat tajam. Dari bulan Januari hingga tanggal 31 Oktober 2016, pendaki sudah tercatat mencapai 17.000 orang. Sementara jumlah pendaki selama tahun 2015 hanya 6.971 orang. “Kenaikan jumlah pendaki ke Gunung Slamet ini seiring dengan animo wisata minat khusus bagi kalangan anak muda yang menjadi trend. Selain itu juga, kondisi status Gunung Slamet yang normal dan cuaca yang sangat bersahabat,” kata Prayitno.

Prayitno mengungkapkan, tiket masuk ke pendakian Gunung Slamet boleh dibilang paling murah jika dibanding dengan pendakian ke sejumlah gunung lain. Tiket masuk di pendakian Gunung Slamet hanya Rp 5.000,- per orang. Tiket ini terbagi Rp 4.000,- untuk kas daerah Pemkab, dan Rp 1.000,- untuk operasional SAR jika ada evakuasi pendaki. “Dari target pendapatan, tentunya juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2015, target pendapatan Rp 14 juta, dan mampu terpenuhi Rp 27.884.000,- . Untuk tahun 2016 ini, target pendapatan dinaikan menjadi Rp 50 juta, dan sampai tanggal 31 Oktober 2016 sudah terlampauai dengan uang disetor ke kas daerah p 68.000.000,-,” kata Prayitno. (BJ33)

Advertisements

Comments are closed.