Home Headline Waspada, Uang Palsu Banyak Beredar Jelang Lebaran

Waspada, Uang Palsu Banyak Beredar Jelang Lebaran

Kedua tersangka pelaku pengedar upal, saat diinterogasi petugas polisi Polres Batang, guna mempertanggung jawabkan perbuatannya, Senin (29/6).
Kedua tersangka pelaku pengedar upal, saat diinterogasi petugas polisi Polres Batang, guna mempertanggung jawabkan perbuatannya, Senin (29/6).
Kedua tersangka pelaku pengedar upal, saat diinterogasi petugas polisi Polres Batang, guna mempertanggung jawabkan perbuatannya, Senin (29/6).

* Polisi Tangkap Dua Pengedar Uang Palsu

Batang, 29/6 (BeritaJateng.net) – Lebaran tinggal beberapa minggu lagi, tindak kejahatan dengan modus menggunakan uang palsu (Upal) yang diedarkan oleh beberapa pelaku kini mulai marak terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakat.

Belum lama ini, jajaran unit Reskrim Polres Batang meringkus para pelaku pengedar upal saat melakukan aksinya. Sapuan Rame (50) yang sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan warga Dukuh Kauman RT 4 RW 02 Desa Pecalungan Kecamatan Pecalungan kini harus berurusan dengan yang berwajib.

Berdasarkan informasi yang didapat, pelaku sebelumnya membeli sebungkus rokok di sebuah warung rokok dengan menggunakan uang kertas palsu pecahan ratusan ribu di warung milik Tri Murni warga Desa Cokro Kecamatan Blado, Minggu (28/6) kemarin.

Karena merasa curiga dengan uang kertas tersebut, kemudian korban (Tri Murni Pedagang-Red.) mencari pelaku hingga akhirnya melaporkan kejadian yang dialaminya ke kantor Polsek Blado setempat.

“Awalnya saya tidak curiga sama sekali, sebab tidak ada gerak-gerik yang aneh pada pelaku saat membeli rokok di warung saya. Namun, selang beberapa saat setelah dia berlalu meninggalkan warung, saya baru sadar jika uang yang digunakan untuk membeli rokok tersebut adalah uang palsu,” ungkap Tri Murni pedagang rokok (korban-Red.).

Selang beberapa saat, atas laporan korban, pelaku dapat ditangkap petugas Polsek Blado setempat. Dihadapan petugas, Sapuan mengaku jika uang yang dimilikinya didapatkan dari saudara Slamet alias Walgiyono warga Desa Kaloran Kecamatan Temanggung yang sama-sama pernah kenal dan bekerja menjadi buruh di Jakarta.

“Saya awal kali membeli uang tersebut seharga Rp 2 juta, kemudian saya jual dengan cara menukarkan uang tersebut di warung-warung makan ataupun diwarung rokok. Apalagi dibulan ramadhan seperti ini banyak yang membutuhkan uang, meski tidak disadari jika uang yang saya edarkan adalah upal,” bebernya.

Dari tangan tersangka, petugas berhasil menyita 43 lembar uang palsu pecahan ratusan ribu, satu unit SPM Scoopy hitam Nopol G 6979 JL, uang tunai asli Rp 180 ribu, serta sobekan uang palsu Rp. 100.000,-. Barang-barang yang disita dari tangan tersangka Sapuan diamankan petugas guna dijadikan barang bukti serta penyelidikan lebih lanjut.

Kapolres AKBP Joko Setiyono SIK mengatakan jika penangkapan pelaku pengedar uang palsu atas laporan dari masyarakat setempat. Sejak awal ramadhan hingga jelang lebaran peredaran uang palsu mulai banyak dilakukan oleh orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan situasi.

“Moment ramadhan dan lebaran sengaja dilakukan para pelaku, disaat masyarakat sedang sibuk-sibuknya untuk mencari dan memenuhi kebutuhan jelang lebaran nanti. Makanya, kami menghimbau kepada masyarakat agar hati-hati dan waspada terhadap segala hal yang memicu tindak kriminal,” terang Kapolres Batang.

Lanjut Kapolres, anggota unit reskrim Polres Batang yang dipimpin Kasatreskrim AKP Hartono SH usai menangkap pelaku Sapuan lalu mengembangkan kasus tersebut. Dan berhasil menangkap salah satu pelaku lagi yakni Walgiyono warga Temanggung saat melakukan  transaksi di depan sebuah masjid Al Fairus Pekalongan, Senin (29/6) siang kemarin.

Dari tangan tersangka Walgiyono, petugas polisi menyita 125 lembar uang palsu jenis uang kertas  pecahan Rp 100 ribu dengan total senilai Rp 12.500.000,- dan satu buah HP Merek Nokia, serta satu buah tas warna coklat guna dijadikan sebagai barang bukti.

Atas kasus tersebut, tersangka bakal dikenakan pasal 245 KUHP Jo Pasal 26 ayat 3 Pasal 36 UURI No 7 tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara atau kurungan. (BJ019)