Home Alkisah Waspada Scammer Cinta Mengintai Wanita Sukses

Waspada Scammer Cinta Mengintai Wanita Sukses

Ilustrasi

Makin banyak wanita sukses bekerja dan menduduki posisi puncak di perusahaan. Kondisi ini memungkinkan karier istri lebih melesat daripada karier suami.

Namun kadang atas nama gengsi, tidak jarang kesuksesan istri diatas suami justru menimbulkan  masalah. Istri lupa peran suami, suami merasa tidak dihargai. Percekcokan, cemburu, hingga perselingkuhan dengan mudah datang mewarnai biduk rumah tangga bermasalah itu.

Ini dialami salah satu temanku, Sandra. Marketing kontraktor yang sukses dan sibuk.

Sebagai pekerja keras yang menanggung hidup keluarga, kepenatan tak terelakan.

Suaminya sudah lama keluar kerja dan hanya mengisi kesibukan dengan menulis buku di rumah. Tentu jauh dibawah Sandra penghasilannya. Belum lagi, tiga anak semua sekolah di lembaga pendidikan Internasional yang mahal.

Ia mengaku rela-rela saja melakukan itu tapi kadang ada suara hati terdalam bertolak belakang. Ia lelah!

Dan itu kelemahan yang potensial untuk mendorong Sandra mencari bahu sandaran yang lain diluar sana. Apalagi suami terus uring-uringan menciptakan topik ribut. Keadaan itu membuka peluang dia menerima kehadiran seseorang.

Seiring kemajuan teknologi pihak ketiga bisa hadir dari arah mana saja.

***

“Ini lho orangnya,” Sandra akhirnya menunjukan  sebuah foto ketika kami bertemu makan siang bareng di mall.

“Wah  ganteng banget!” pujiku

“Ya dong. Mana dia baik banget.Romantis. Pria sukses, pengusaha besar yang pinter masak.  Perhatian banget. Tiap hari dari pagi sampe malam gak pernah lepas telpon.”

“Kok telpon? belum ketemu?”

“Kan dia masih diluar negeri, nerusin kontraknya.Nanti bulan depan akan menyempatkan datang,”

“Kalo nelpon suara apa video?” tanyaku kemudian.

“Suara karena orangnya sibuk. Tapi kami sangat bagus komunikasi sehari-hari.”

“Sudah berapa lama kenal?”

“Hmm…ada kalau empat bulan.”

“Gimana awalnya?”

 “Dia nemu akunku gak sengaja, terus DM ngajak kenalan. Ya udah, habis itu malah akrab. Sudah deket banget dan saling percaya. Terbuka juga orangnya. Pria asing kan rata-rata gitu kan? Apa adanya.”

“Oh mungkin sih,” balasku akhirnya meski berjubal pertanyaan memenuhi otak tapi tersendat dimulutku.

Sandra terus memamerkan foto yang lain. Aku ikut mencermatinya. Pria tampan, berjambang, berotot, bemata hijau. Berbahasa tubuh elegan, mahal.

Tempat  pria itu nongkrong yang tampak difoto sangat berkelas. Kafe dengan latar bangunan klasik dan mewah. Aku bergeser mengamati selera fashion pria di foto itu dari celana, kaos, arloji, semua terstruktur. Terkonsep rapi dan menyimpan tujuan. Dari situ aku yakin ada yang janggal!

“Sebagus ini fotonya seperti  foto dengan pengarah gaya. Ini bukan foto orang biasa,” kataku kemudian.

“Ya emang bukan orang biasa,”

“Kamu nggak merasa aneh? Orang sesempurna dia kelayapan di internet buat nyari pasangan?”

“Maksudmu apa!?”

Mata Sandra melotot bundar. Ia menarik handphone dan menutup galery.

Tangannya sekarang beralih ke pisau yang ada di meja. Beef Steak yang masih beruap ia potong pelan. Wajahnya berubah keruh. Ia marah.

***

Suasana menjadi tegang, kaku dan tidak nyaman. Kami lantas pura-pura sibuk kembali menyantap menu masing-masing.

“Maksudumu dia akun palsu?” tanya Sandra setelah agak lama kami sama-sama diam. Ia bertanya dengan sewot.

“Enggak lho ya. Dia selalu kirim sesuai timing-nya. Lagi makan ya kirim foto makan. Lagi di kantor ya kirim foto di kantor,”lanjut Sandra segera membantah kecurigaanku yang tak terungkap.

“Tapi ya biasanya, kalau orangnya asli, atau orang biasa nggak sebagus ini konsep fotonya.”

“Lho orang sukses kan bebas.”

Sandra nerocos dengan marah lebih tinggi dan wajahnya mulai memerah.

“Enggak…dia nggak mungkin akun palsu.” Sandra terus membela pendapatnya dengan keras kepala

***

Kami akhirnya berlalu dari cafe itu dengan tidak damai. Acara jalan-jalan dan nonton batal jadinya. Suasana sudah tidak nyaman. Sandra kesal karena aku tidak bisa menyembunyikan kecurigaan sementara dia nggak curiga.

Modus  pria itu sangat mudah ditebak. Bersembunyi dibalik layar. Hanya berjejal kata-kata bualan yang tiap hari dirangkai untuk menghilangkan akal sehat korban, melemahkan logika korban.

Kata-kata romantisnya teramat sadis. Mungkin beli buku koleksi kata gombal dari bis ekonomi antar kota yang dijual bareng sama kaos kaki dan rempeyek.

Aku sempat menantang Sandra agar meminta kekasihnya itu untuk video call. Pria itu bilang setuju dan berkali-kali mencoba video call. Tapi berkali-kali juga  pria tadi mengaku ada gangguan sinyal.

Dari cuplikan kejanggalan itu aku sudah dapat menyimpulkan, itu penipuan. Sandra sedang dikuasai penipu cinta yang berkeliaran di internet memangsa jiwa-jiwa hampa dan hati-hati kesepian.

Tapi menasihati Sandra pasti sulit. Orang jatuh cinta tidak butuh nasihat.

***

Malam hari Sandra ada dalam perjalanan keluar kota. Dia akan bertemu klien disana.

Sandra tak berhenti berbunga-bunga sepanjang jalan. Laju kereta tidak terasa melelahkan karena sang kekasih selalu setia menemani chatting, voice note sesekali voice call.

Sementara aku disini, cekatan memeriksa keaslian jati diri pria Sandra. Dengan aplikasi pencocokan foto google match picture, aku ambil foto pria sangat ganteng itu dan sekali klik…

Mesin pencarian sungguh tak perlu kerja keras untuk menunjukan hasil terbaiknya. Terpampang nyata disana foto pria itu sudah diumumkan sebagai foto yang digunakan para scammer untuk melancarkan aksi penipuan. Ditambah kalimat waspadalah.

Hasil mesin pencarian ini lantas aku bawa untuk menelusuri laman instagram dari nama yang tertera disana. Penipu sialan sungguh ulung dalam menemukan akun sumber utama yang berlimpah stok fotonya.

Pria tampan yang dalam waktu lima bulan menemani siang malam Sandra ternyata hanyalah foto belaka. Dibalik itu ada admin yang bekerja.

Sudah pasti adminnya beda derajat dengan pria yang digunakan untuk menipu. Di akun palsu, penipu banyak mengikuti akun-akun wanita sukses. Kebanyakan berfoto di mobil, berbusana kerja, dan sering nongkrong di tempat makan berkelas. Pengelompokan sasaran, serupa. Wanita sukses!

Sementara akun yang asli? Aku teliti profil pria  di Instagram itu terbaca sebagai sosok yang sukses. Aktifitasnya sangat berbobot, seorang motivator bisnis yang rajin ngegym. Badannya sungguh aduhai.

Tangan ini sampai pegal meneliti foto-fotonya yang lebih dari dari sepuluh ribu foto itu.

Semua foto lengkap, dari foto bangun tidur,  membuat kopi,  ganti baju, bersiap di mobil mulai menyusuri jalan kantor. Dilanjut foto makan siang, pulang kerja nongkrong, malam menghadiri pesta sampai pulang ke rumah sebelum tidur foto lagi.

Akun semacam ini tentu sangat memudahkan scammer bekerja. Ribuan foto tanpa dikunci akun, mudah sekali untuk disimpan dan disebarkan sesuai keadaan dan situasi.

Hanya lihainya penipu, mereka melewati beberapa foto bagian bawah. Foto mesra. Pria berbody aduhai tadi tampak berpelukan intim dengan pria atletis di sebuah kaca toilet. Slide berikutnya pria atletis itu mencium leher pria yang ternyata public figure dari salah satu negara kecil di Eropa itu.

Andai Sandra melihat semua ini dengan matanya sendiri. Mungkin akan langsung mual-mual. Menyadari selama ini yang telah bercengkrama ketawa bahagia adalah sosok yang tidak ada. Parahnya sosok yang asli malah tidak doyan perempuan.

Aku menatap ponsel pintarku. Keinginan hati sungguh meledak-ledak untuk segera memberi tahu Sandra atas temuan ini. Jiwa investigasiku meronta. Temuan ini harus kukabarkan segera untuk menyelamatkan Sandra yang naif itu.

Tanganku segera menekan profil Sandra dari layar Whatsapp. Nada panggil berdering. Satu, dua, sampai tiga kali. Namum hingga nada panggil berganti nada putus, Sandra tak juga mengangkatnya.

Aku tak putus asa. Kembali aku tekan nomor Whatsapp Sandra. Pada dering yang ke empat, nada panggil berhenti. Ia menolak panggilanku.

Aku tak berhenti disitu, aku bergeser ke layar chatting.

Aku       : Sandra

Sandra : Sorry nggak kuangkat, aku lagi makan malam sama klien. Soal Simon, nggak usah dibahas, itu urusanku ya.

Simon adalah nama pria berakun palsu yang sedang membuat Sandra mabok kepayang.

Apakah aku akan mundur dari menyampaikan kabar ini ke Sandra? Apa aku rela membiarkan dia diperas pelaku sekejam-kejamnya?

Sering dan jamak cerita cinta scammer berakhir pada kenyataan si korban harus gigit jari setelah dibujuk untuk mengirimkan sejumlah uang.

Tapi Sandra mematikan handphonenya.

***

Aku terbangun disaat matahari sudah cukup tinggi. Segera kuraih ponsel dari meja baca. Begitu  handphone ini menyala belasan pesan berjejal masuk getarannya sampai beruntun. Pesan teratas dari Sandra.

Sandra : Nih bukti kalau orangnya asli dan serius. Dia kirim semua barang ini buat aku.

Tanganku beralih menekan gambar yang dikirim Sandra. Foto barang-barang kesukaan perempuan semua. Ada tas, sepatu, celana jeans, arloji, kalung dan cincin. Sandra menebalkan huruf semua barang ini akan dikirim ke alamat Sandra oleh kekasihnya diseberang sana.

Lelaki mabok mana yang sebaik ini? Dewa mabok aja kalah mabok dalam kegendengan ini. Kirim hadiah semewah itu kepada seseorang yang belum pernah ketemu bahkan lihat wujudnya saja belum.

Sandra tidak bodoh. Pendidikan tinggi, kaya, mobil punya tiga, pergaulan papan atas cuma ya itu tadi terlalu lugu mainan dunia maya.

Dia sama sekali tak menaruh curiga itu janggal. Barang yang akan dikirim itu juga cuma berupa gambar, bukan berupa barang yang sudah disusun dalam satu kotak. Penipunya pasti girang banget itu. Kirim hadiah cuma modal mencomot foto barang jualan online shop saja sudah dipercaya calon korban.

Sandra   : Semua barang akan dikirim lewat Medan. Ada beberapa barang harganya mahal, jadi tertahan. Kalau aku bayar pajaknya semua barang itu akan langsung terkirim ke alamatku.

Aku lihat Sandra online. Gemes nih. Kudu aku selamatkan!

Satu kali dering, tak diangkat aku ulangi lagi, beberapa kali. Masih tak diangkat?!

Aku   : Ya sudah, nikmati pemandangan ini. Hasil penelusuranku. Pria itu fiktif, penipu. Pakai akun orang. Kali ini dengarkan aku!!

Sandra masih online, sesekali mengetik…sesekali hilang dari layar Whatsapp. Mungkin sedang cek laman Instagram si penipu tadi.

Sandra    : Wah, sialan ya. Nipu bener

Aku          : Sudah lihat semua?

Sandra    : Diapakan nih enaknya? Sudah terlanjur panjang…harus setimpal

Lalu kami bisik-bisik. Merencanakan agenda busuk untuk menampar balik scammer gila itu.

Sandra sepakat memperpanjang komunikasi dengan si penipu sampai hari yang ditentukan untuk pengiriman barang tiba.

Sungguh licik dan rapi. Dari perjalanan barang dikirim, pelaku  menyertakan  bukti resi pengiriman. Bahkan jika dicocokan, website jasa pengiriman itu benar-benar ada. Tapi huruf terakhir dibelokan. Misal www.jne.com menjadi www.jnr.com

Langkah berikutnya, calon korban ditelpon orang berbahasa Indonesia yang sangat lancar mengaku sebagai staf perusahaan jasa pengiriman tadi.  Mereka minta korban kirim uang menebus barang yang tertahan.

Sandra dan aku langsung menjawab dengan girang, “baik kami transfer setelah ini.”

Padahal bohong! Kami membuat bukti transfer rekayasa. Lalu kami menunggu reaksi penipu sore harinya.

“Apakah sudah kirim uangnya Honey?” tanya penipu lewat voicenote dengan bahasa Inggris yang sulit disimak.

“Sudah Honey. Tak sabar menunggu hadiahmu, i love you,” jawab Sandra sambil kirim bukti transfer palsu tadi.

Tiga puluh menit lagi dia kirim voice note

“Belum ada transfer masuk Honey, coba cek lagi.”

“Cek aja terus sampai kamu tua renta, tidak akan pernah ada kiriman itu penipu. Salam ya buat Mr Farez yang fotonya kamu pakai ngemis dimana-mana.”

Sandra menjawab dengan kelegaan maksimal. Trik kami menampar balik penipu sukses besar.

“Dasar pelacur,” umpat penipu berikutnya.

“Pengemis busuk, kali ini kepalamu harus aku benturkan tembok dengan manis, bye!”

Balas kami kalem lalu nomer penipu memblokir nomor Sandra. (*)

Penulis :
Shinta Ardhan Jurnalis Berita Jateng dan Presenter TV tinggal di Ambarawa Jawa Tengah