Home Lintas Jateng Warga Khawatir Kolam Retensi Muktiharjo Terbengkalai

Warga Khawatir Kolam Retensi Muktiharjo Terbengkalai

Ilustrasi
Kolam retensi Muktiharjo
Kolam retensi Muktiharjo

Semarang, 29/5 (BeritaJateng.net) – Usai penetapan tersangka proyek pembangunan kolam retensi Muktiharjo Kidul, kecamatan Pedurungan, Semarang, yang menyeret nama Joko Purwanto Kepala Dinas PSDA-ESDM Kota Semarang. Pembangunan proyek yang bertujuan untuk mengendalikan banjir dan rob ini pun terancam tidak dilanjutkan atau terbengkalai.

Dari pantauan dilapangan, salah seorang warga Muktiharjo Kidul, Saeful mengatakan, pembangunan kolam retensi dalam prosesnya memang sempat molor. “Harusnya selesai bulan Juli 2014 namun baru bisa diselesaikan oleh kontraktornya pada Desember 2014. Bahkan dalam prosesnya diketahui sempat terjadi adendum kontrak dengan kontraktor, yaitu PT Harmony International Technology karena adanya persoalan,” katanya.

Bukan hanya itu, lanjut Saeful,sejauh ini kondisi pembangunan kolam retensi masih belum selesai sepenuhnya. Sejumlah rencana pembangunan seperti trap-trapan, pavingisasi, pembuatan taman, dan pagar belum dilaksanakan.

“Bahkan kini kelanjutannya bagaimana menjadi tidak jelas, karena adanya kasus ini (penetapan tersangka Joko Nugroho, Red.),” kata Saeful yang juga merupakan pekerja saat kolam retensi.

Menurutnya, Kolam retensi awalnya merupakan lahan eks bengkok kelurahan milik Pemkot Semarang yang saat itu dimanfaatkan warga untuk tambak ikan. Warga saat itu setuju tambaknya dibangun kolam retensi setelah pemkot bersedia mengganti uang mengelola tambak yang besarnya dipukul rata.

“Yaitu baik memiliki tambak luas maupun kecil semua dibayar hanya sekitar Rp. 5 juta sampai Rp. 7,5 juta/kepala keluarga. Jumlahnya ada sebanyak sekitar 50 kepala keluarga di RW 12 dan 13 Muktiharjo Kidul,” ungkapnya.

Luas lahan eks bengkok kelurahan ini diketahui sebenarnya mencapai 8,5 hektare. Namun yang berhasil dilakukan pembebasan lahan oleh pemkot dan kemudian dibangun kolam retensi hanya sekitar 5,5 hektare.

Kekurangannya sekitar 3 hektare tidak jelas, karena diduga ada praktik jual beli tanah sehingga lahan bengkok tersebut diklaim beberapa orang sebagai miliknya dengan bukti sertifikat hak milik. “Saat ini kasus soal status tanah tersebut kini kabarnya sedang diusut Kejaksaan Tinggi juga,” ujarnya.

Saeful menjelaskan jika keberadaan kolam retensi ini sudah sesuai fungsi dan tujuan pembuatannya, yakni di daerah langganan rob dan banjir kini sudah tidak lagi terjadi, meskipun dalam proses pembangunannya bermasalah.

Hanya saja, untuk mengoperasionalkan pompa yang jumlahnya ada dua unit di kolam retensi, warga masih harus melakukan secara swadaya, karena belum ada penganggaran resmi dari Pemkot.

Pompa dioperasional rata-rata dua minggu sekali, tergantung ketinggian air. Jika kolam retensi sudah tidak bisa menampung air maka pompo akan dihidupkan untuk menyedot air dan dibuang ke Kali Tenggang.

Warga sangat berharap, pembangunan kolam retensi ini dapat segera dilanjutkan untuk menyelesaikan kegiatan yang belum dilakukan. Warga sangat berharap kolam retensi dibangun pagar yang mengelilingi kolam, untuk menghindari bahaya orang terjatuh dan tenggelam. Seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu hingga mengakibatkan seorang anak meninggal. “Karena kolam retensi ini cukup dalam, kedalamannya sekitar 3-4 meter,” katanya.

Warga lainnya Darti, RT 6 RW 12 Muktiharjo Kidul mengatakan, pintu air kolam retensi berharap segera dibuka untuk mengalirkan air ke aliran Kali Tenggang. Karena saat ini kolam retensi menimbulkan bau yang sangat menyengat akibat banyaknya ikan yang mati dan sampah. “Bau tidak sedap ini, sangat mengganggu kami, apalagi saya punya anak bayi,” katanya.

Darti juga berharap, pemkot mensosialisasikan rencana melanjutkan pembangunan kolam retensi. “Kabarnya, Pemkot akan melanjutkan kegiatan pembangunan kolam retensi setelah Lebaran. Namun sejauh ini belum pernah ada sosialisasi kepada warga terkait rencana tersebut,” katanya. (Bj05)