Home Headline Warga Desa Puntan Gunungpati Resah, Air dari Ipal Berbau Menyengat

Warga Desa Puntan Gunungpati Resah, Air dari Ipal Berbau Menyengat

486

SEMARANG, 29/7 (Beritajateng.net) – Warga Desa Puntan Ngijo Kecamatan Gunungpati resah karena air yang keluar dari instalasi pengolah air limbah (Ipal) di desanya berwarna hitam pekat dan berbau menyengat. Iinstalasi tersebut bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup Pemkot Semarang.

Trisno, salah satu warga terdampak, mengaku sangat terganggu dengan aroma yang dikeluarkan IPAL. Sudah bertahun-tahun dia merasakan dampak keberadaan IPAL.

“Itu (IPAL) dibuat tahun 2014. Baru tiga bulan, baunya sudah menyengat sampai dalam rumah. Kadang sampai bikin sesak napas,” terangnya ketika ditemui di kediamannya, Senin (29/7).

Dia sudah mengajukan protes ke pengurus IPAL tersebut. Tapi tidak ada solusi. “Kalau pas komplain, kelihatannya terus dikasih obat biar nggak bau. Tapi beberapa hari kemudian, ya bau lagi. Sampai bosan komplain,” tuturnya.

Kekhawatiran terkait masalah kesehatan pun muncul. “Lingkungan kan jadi tidak sehat. IPAL itu kan fungsinya mengolah limbah menjadi ramah lingkungan. Kalau seperti ini, kan malah jadi masalah,” imbuhnya.

Dikatakan, IPAL hanya digunakan sebagian warga RT 2 dan RT 6 RW 1 desa setempat. Sementara warga terdampak, merupakan RT 1 yang tidak menggunakan IPAL komunal tersebut.

Lokasi IPAL berada di perbatasan RT 6 dan RT 1. Air limbah sisa IPAL, dialirkan ke sungai yang dekat permukiman warga.

Ketua RT 1, Doni menceritakan, sebenarnya, proyek pembangunan IPAL tersebut pernah ditawarkan ke RT 1. Tapi pihaknya menolak karena merasa setiap rumah punya lahan yang cukup untuk membangun saptik tank sendiri.

“Dulu pernah ditawarkan ke kami, tapi kami tolak. Kemudian entah bagaimana, jadi dipakai RT 2 sama RT 6. RT 6 itu dulu gabung sama RT 2,” terangnya.

Dia mengakui, memang sering menemani warga terdampak, mengajukan komplain ke pihak pengurus IPAL. Tapi hingga saat ini, tidak ada solusi konkrit.

“Kami sudah beberapa kali mediasi ke pengurus. Terkahir, hari Minggu (21/7) lalu sama Minggu (28/7) kemarin. Tapi pihak pengelola sepertinya tidak mau mengambil langkah win win solution,” bebernya.

Dulu, lanjutnya, warga RT 1 yang tidak menggunakan IPAL, berinisiasi untuk mencari solusi sendiri. Yakni dengan memerpanjang pralon pembuangan air dari IPAL. Harapannya, agar buangan air agak jauh dari permukiman. Tapi upaya itu tidak membuahkan hasil. Bau menyengat masih sering muncul.

“Waktu itu kami sudah membicarakan dengan pengurus. Tapi kata pengurus, tidak punya anggaran untuk membenahi IPAL. Jadi kami pakai kas RT buat beli pralon dan pemasangan. Padahal, kami bukan pemakai IPAL,” paparnya.

Pihaknya pun sudah melaporkan masalah ini ke DLH Semarang via twitter dan kanal aduan Lapor Hendi. Tapi belum ada tanggapan nyata.

Sementara itu, pengelola IPAL sekaligus Ketua RT 2, Haryono mengaku, bau tak sedap yang timbul merupakan kesalahan warga yang memakai. Sebab, IPAL tersebut tidak hanya menampung buangan dari kloset saja, tapi seluruh limbah rumah tangga. Mulai dari kamar mandi, cuci piring, cuci baju, dan lain sebagainya.

“Dulu sempat mampet. Pas saya bersihkan, ada sikat, pembalut, sampai kaos juga ada. Yang parah, minyak dari bekas cuci piring, mengeras menjadi semacam lemak. Dan itu menyumbat aliran,” terangnya.

Dia pun mengaku kesulitan memberikan edukasi kepada warga pengguna IPAL. “Sudah saya sampaikan, tapi tetap pada ngeyel,” ucapnya.

Terkait iuran, lanjutnya, setiap pemakai hanya dibebani Rp 5 ribu per rumah per bulan. Total ada sekitar 30 KK yang menggunakan. Iuran itu habis untuk beli obat agar tidak bau.

“Uangnya habis untuk beli obat. Kasih obatnya dua kali sebulan. Padahal, masih butuh biaya untuk sedot. Biaya sedot itu juga mahal. Biasanya setahun sekali nyedotnya. Itu pun satu atau dua tanki saja. Total IPALnya ada 9 tanki,” jelasnya.

Ketika dikonfirmasi, Kepala DLH Kota Semarang, Sapto Adi Sugihartono mengaku akan mengecek ke lapangan. Sebab, IPAL bantuan dari dinas, sebenarnya untuk membantu pengolahan limbah, bukan justru memperparah.

“Nanti kami akan turunkan tim untuk turun ke lapangan,” tandasnya.

(NK)