Home Headline Warga Berharap Dibangun Bronjong Cegah Longsor di Perumahan Manyaran Meluas

Warga Berharap Dibangun Bronjong Cegah Longsor di Perumahan Manyaran Meluas

SEMARANG, 1/3 (BeritaJateng.net) – Fenomena tanah gerak yang menimbulkan longsor di kota Semarang kembali terjadi. Kali ini menimpa warga RW V Kelurahan Sadeng yang tinggal di perumahan Bukit Manyaran Permai (BMP).

Longsoran tanah terjadi di RT 01,05, dan 07 dan mengakibatkan delapan rumah roboh dan puluhan rumah lain rusak, hingga saat ini belum ada perhatian dan penanganan khusus oleh Pemerintah Kota Semarang.

Sampai saat ini longsoran masih dibiarkan menganga, warga pun was-was jika terjadi longsor susulan ketika hujan tiba. Warga yang masih bertahan atapun memiliki rumah yang letaknya tak jauh dari longsoran, meminta agar ada pembangunan fisik berupa bronjong.

Seksi Pembangunan RW V Kelurahan Sadeng, Susilo mengatakan awalnya pergeseran tanah terjadi setahun terakhir ini kian parah hingga menyebabkan longsor.

Menurut dia, pergerakan tanah terkadi karena arus air dalam tanah yang berasal dari saluran air ataupun dari rumah warga.

“Resapan air dari rumah tangga ini tidak bisa diantisipasi, akhirnya air lari ketempat yang lebih rendah dan menyebabkan retakan tanah hingga longsor seperti ini,” katanya Senin (1/3).

Susilo menerangkan komunikasi dengan pihak Pemerintah diantaranya Kelurahan, Kecamatan ataupun Pemkot Semarang sudah terlaksana dengan baik. Sayangnya belum ada ada bantuan fisik yang nyata belum terlaksana banyak, seperti yang diharapkan warga.

“Misalnya bronjong agar tidak lagi ada pergerakan tanah,ini sudah ada tapi belum dilanjutkan,” jelasnya.

Sebelumnya, lanjut dia, sempat ada wacana pembangunan bronjong sepajang 250 meter untuk mengantisipasi pergerakan tanah pada tahun 2020 lalu melalui anggaran daftar isian pelaksanaan anggaran (Dipa). Januari kemarin, sudah kita tanyakan dipastikan sudah masuk namun belum pasti kapan direaliasikan.

“Namun belum sempat terlaksana karena katanya buat penanganan Covid-19, kami minta agar bronjong ini direalisasikan karena longsoran tanah sudah mengancam jiwa. Kita inginnya prioritas penangannya,” keluhnya.

Dari data yang ia miliki, setidaknya ada 16 rumah yang sudah tidak bisa ditempati. Delapan rumah ada di RT 01, enam rumah ada di RT 07, dan dua rumah di RT 05. Selain itu puluhan rumah lainnya juga terdampak, yakni mengalami retak-retak pada tembok dan lantai.

“Dari Kelurahan sudah memfasilitasi kalau ada warga yang mau tinggal di Rusunawa bisa didata, namun belum ada warga yang mau. Ada yang memilih tinggal, ada pula yang ngungsi ke rumah sanak saudara,” tuturnya.

Rosanah misalnya, menjadi salah satu warga yang nekat tetap tinggal dirumah yang jaraknya hanya sekitar dua meter dari longsoran tanah. Padahal tiga rumah yang ada disamping kiri ia tinggali, sebagian sudah ambruk pada bagian teras dan sudah ditinggal penghuninya.

“Ya was-was pasti ada, tapi gimana lagi tidak punya tempat tinggal lain. Kalau hujan, buat mengantisipasi saya ngga tidur,” katanya sambil menujukkan tembok yang sudah mengalami retak.

Jika dilihat dari depan, rumah Rosanah pun sudah terlihat miring seakan tidak kuat menahan beban bangunan. Sementara disamping kiri rumahnya dengan jarak sekitar dua langkah, longsoran tebing sudah mengaga lebar sewaktu-waktu bisa saja runtuh jika ada hujan deras.

“Saya sudah tinggal disini sejak tahun 1984, kalu pertama longsor pada 2017 tapi belum parah karena hanya jalan yang hilang. Nah kemarin itu yang parah, rumah tetangga saya sudah ambruk tiba-tiba,” jelasnya sambil menunjuk rumah yang jatuh kedalam tebing.

Memilih bertahan juga dilakukan Wiwid, warga RT 1 RW V, meski sebagian terasnya tergerus tanah ia memberanikan diri untuk tinggal dirumah yang ia diami beberapa tahun terakhir.

Dua rumah disampingnya, sudah ditinggal penghuninya karena teras dan bagian rumah lain sudah hancur terbawa longsoran tanah.
“Dua bulan ini pergerakan tanahnya paling parah, ada penurunan tanah pelan-pelan kemudian rumah-rumah ambruk, rumah milik Pak Ketut itu yang pertama. Geser dsaru tempat semula,” paparnya.

Rasa was-was akan adanya longsor susulan tentu ada, namun ia hanya bisa pasrah sembari siaga jika hujan turun. Untuk menjual rumah pun tidak bisa dilakukan, karena pembeli tentu tidak mau mengambil resiko.

“Sempat ada wacana relokasi, tapi tidak jelas apakah hanya disediakan tanah saja, atau bagaiamana. Makanya saya memilih tinggal dulu,” katanya.

Bantuan seperti sembako dan obat-obatan, menurutnya sudah ia dapatkan. Namun bantuan yang paling diperlukan sebenarnya adalah material untuk mengantisipasi atau menghindari pengikisan tanah lebih parah.

“Sementara ini yang kita butuhkan adalah material agar bisa menghindari pengikisan tanah lebih parah,” pungkasnya. (El)