Home News Update Unissula Gelar Seminar Internasional Bahas Peran Kearifan Lokal

Unissula Gelar Seminar Internasional Bahas Peran Kearifan Lokal

Seminar

Semarang, 5/8 (BeritaJateng.net) – Universitas Sultan Agung (Unissula) mengadakan Seminar Internasional 2015 bertemakan Revitalisasi Peran Kearifan Lokal dalam Membangun Karakter Bangsa pada Era Modernisasi, Rabu (5/8) di Aula Gedung FKIP Unissula.

Dalam seminar dibahas variasi bahasa dalam konteks kearifan lokal. Kemudian, kearifan lokal dilihat dalam sastra sebagai warisan budaya. Adapula eksistensi bahasa dan sastra Indonesia dalam era modernisasi. Pemanfaatan karya sastra sebagai salah satu sumber pendidikan karakter. Serta pengintegrasian nilai-nilai kearifan lokal dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

Hadir sebagai pembicara Asscprof. Hiroko Kushimoto Shiozaki (Inteternational Islamic University Malaysia/IIUM), Prof. Dr. Suminto A. Sayuti, M.Hum (Universitas Negeri Yogyakarta/UNY) dan Prof. Dr. Teguh Supriyanto, M.Hum (Universitas Negeri Semarang/Unnes).

Kearifan lokal muncul dari ikhtiar untuk menjadikan bahasa Indonesia bermartabat di negeri sendiri dan di ruang internasional yang akan terwujud jika nasionalisme terbangun dengan kokoh dalam diri masyarakat Indonesia.

Hiroko Kushimoto Shiozaki menjelaskan, potensi kearifan lokal untuk pembelajaran Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA).

“Untuk itu perlu dibangun strategi dalam upaya memperkuat kesusasteraan Indonesia sebagai bentuk ketahanan kearifan lokal (local culture preservation). Serta memperkuat jati diri bangsa melalui literasi sastra Indonesia berbasis kearifan budaya lokal berwawasan multikultural,” jelasnya.

Dia juga menambahkan apabila kekayaan bangsa Indonesia sebagai masyarakat multikultural yang berupa kearifan lokal tidak dijaga dan dilestarikan maka dapat dipastikan kekayaan budaya tersebut akan hilang ditelan zaman.

Teguh Supriyanto juga menjelaskan bahwa kearifan lokal muncul atas kekhawatiran peristiwa budaya yang bersinggungan dengan orang lain.

“Indonesia lahir dua kali, yang pertama dari kebudayaan puisi sumpah pemuda dan yang kedua, puisi proklamasi,” tuturnya.

Begitupun menurut Suminto A. Sayuti bahwa kearifan lokal bisa menjadi benteng. Sastra tidak bisa dipahami secara lengkap kalau tidak dikaitkan dengan konteks budaya.

“Tidak mungkin berbicara sastra bila tidak berkaitan dengan lingkungan dan masyarakat. Indonesia itu multikultural, teks sastra lahir dari proses lingkungan yang merupakan sumber kearifan lokal,” ujarnya. (BJT01)