Home News Update Unisbank Jadi Pusat Kajian Batik Semarangan

Unisbank Jadi Pusat Kajian Batik Semarangan

IMG_20150606_103547

Semarang, 06/06 (BeritaJateng.net) – Untuk pertama kalinya, Universitas Stikubank (Unisbank) Semarang mengadakan Sarasehan Teknik Kreatif Batik Semarangan. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari penelitian Masterplan Percepatan dan Pengembangan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3I) Dikti.

Kepala LPPM Unisbank, Dr. Endang Tjahjaningsih mengatakan, tujuan diadakannya sarasehan ini untuk melakukan strategi percepatan, pengembangan IKM Batik Semarangan kini.

“Masih berada pada posisi embrio diharapkan bisa naik posisi dengan teknik kreatif. Selain itu, bisa menghasilkan produk kreatif dengan devisiasi produk yang berorientasi pada efisiensi biaya,” ujarnya.

Peserta sarasehan ini meliputi cluster batik, non cluster, Kelompok Usaha Batik (KUB) serta Pelaku Dunia Usaha Batik Kota dan Kabupaten Semarang. Acaranya sendiri meliputi sarasehan, launching desain Batik Wali dan Launching Griya Karya Kriya Batik.

Untuk desain Batik Wali idenya dari ibu Endang, mengambil desain batik Wali karena menilik historis perjalanan Wali yang merupakan simbol dari 9 Wali (Walisongo). Sedangkan launching griya karya kriya batik merupakan perkenalan pusat pelatihan, pemberdayaan, motivasi pengembangan produk. Unisbank disini sebagai pusat kajian batik Semarangan.

Acara dibuka oleh Kepala Bidang Pembiayaan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang, Maria Imaculata Sri Wahyu Widyastuti, Rektor Unisbank, Dr. Hasan Abdul Rozak, SH., CN., MM, dari Hipmi dan Bapeda Kota Semarang, serta Ketua MP3I sekaligus Ketua LPPM Unisbank Semarang.

“Batik Semarangan memiliki ciri khas tersendiri, ada motif daun asam, Gereja Blendhuk, Tugu Muda dan lain-lain. Tentu berbeda dengan batik Solo dan Jogja,” ungkapnya.

Menurutnya, Batik Semarangan merupakan batik pesisir, seperti halnya batik Cirebon dan Pekalongan. Batik Semarangan tidak kalah saing dengan batik luar.

“Pemerintah Kota mengapresiasi Unisbank dalam Teknik Kreatif ini, karena berpengaruh pada produk. Memperkaya batik sehingga diminati di Wilayah Indonesia Timur. Pemerintah Kota berkomitmen memfasilitasi, bekerjasama memberikan pelatihan dan pemasaran,” imbuhnya.

Seperti Galeri Semarangan di Balaikota, lanjutnya, sebagai Sentra Batik (Kampung Batik) yang terdiri dari produk tas, sepatu, makanan dan handycraft. Pemerintah tidak bisa berdiri sendiri, oleh karena itu perlu bantuan Unisbank dan UKM. Tidak kalah penting, Batik Semarangan jangan sampai kalah dengan akik.

Marheno Jayanto sebagai Narasumber sekaligus Zie Batik Semarang mengatakan, usia batik Semarangan bukan muda lagi.

Usia Batik Semarangan sudah menginjak 9 tahun. Dengan menjalin komunitas, mengembangkan dan memproduksi batik. Pemanfaatan warna alami, bersama-sama dalam mempertahankan dan mengkreasikan batik Semarangan di masa mendatang agar tampil beda dengan Kota lain.

“Tindakan yang dilakukan, produksi terus-menerus tanpa penjualan sangat berat. Oleh karena itu perlu strategi dan kreatifitas agar masyarakat tertarik membeli,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Unisbank menegaskan, dengan diadakannya acara ini bisa membangun mindset, khususnya pada saat ini yang dilakukan adalah membeli batik Semarangan untuk semua panitia penyelenggara Sarasehan.(Mg-1)