Home News Update Unisbank Gelar Seminar Nasional Bertajuk Perwujudan Poros Maritim Dunia

Unisbank Gelar Seminar Nasional Bertajuk Perwujudan Poros Maritim Dunia

IMG_20150806_085128

Semarang, 6/8 (BeritaJateng.net) –¬†Universitas Stikubank (Unisbank) Semarang pada hari kamis, (6/8) pukul 08.00 WIB mengadakan Seminar Nasional bertajuk Poros Maritim, Serta Implikasinya Terhadap Ekonomi Bangsa.

Selain dihadiri narasumber yang berkompeten di bidangnya, seperti Dr. Faisal Basri., MA, Abdul Halim., SF., MHi dari Sekjen KIARA dan Prof. Ir. Johannes Hutabarat., M.Sc., PhD dari Universitas Diponegoro.

Turut hadir pula 230 penulis jurnal dari Bali, Makasar, Palembang, Merauke, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Seminar ini dilaksanakan dalam rangkaian dies natalis Unisbank yang ke-47.

Rektor Unisbank, Dr. H. Hasan Abdul Rozak., SH., CN., MM mengatakan banyak persoalan poros maritim yang harus disikapi.

“Sampai saat ini belum ada jurus yang jitu. Dalam seminar kali ini paling tidak Unisbank berupaya menggali melalui metode yang dikaji oleh peneliti,” jelasnya saat pembukaan seminar di kampus Unisbank Kendeng lantai 6.

Sementara itu Perwakilan Gubernur Jawa Tengah, Drs. Sucipto dari Bapeda juga berharap dengan seminar nasional ini dapat menjadi kajian dari multi disiplin ilmu.

“Tujuannya untuk mengenali dan mewujudkan poros maritim dalam pembangunan ekonomi berbasis kesejahteraan rakyat,” tuturnya menggunakan bahasa Jawa.

Faisal Basri menjelaskan perjalanan ekonomi negara Indonesia dari tahun 1961 melambat. Pasca krisis, terdapat energi yang berkurang. Padahal sektor industri menyerap tenaga kerja yang paling banyak.

“Indonesia termasuk gagal dalam mengelola Sumber Daya Alam (SDA). Negara yang kaya akan tetapi dalam pengelolaannya tidak bagus. Tidak ada negara seperti Indonesia, ini negara Bahari,” ungkapnya.

Negara dapat menjadi kuat, lanjutnya apabila dapat menguasai lautan serta armadanya cukup. Di sisi lain, Abdul Halim juga menambahkan bahwa poros maritim dunia bukanlah hal yang baru.

“Contoh kasus, fakta di lapangan, ditemukan harga garam Rp 300,- per kg. Garam diimpor dari tahun 2010-2011, 80% kebutuhan garam nasional dipenuhi dari garam impor. Selain itu minyak dan ikan juga diimpor,” paparnya.

Program-program yang perlu dilakukan agar poros maritim dunia bisa terwujud. “Salah satunya dengan memanfaatkan armada kapal. Melalui revitalisasi pengembangan, Indonesia tidak hanya menggunakan kacamata ekonomi akan tetapi juga melihat dampak strategis untuk mewujudkannya,” jelas Johannes.

Oleh karena itu Faisal menghimbau kepada para peserta seminar supaya tidak jera mengikuti diskusi dan seminar bertema serupa. Sebab kecerdasan itu penting, namun konsistensi dalam melakukan pengkajian jauh lebih penting. (BJT01)