Home News Update UIN Optimalkan Revitalisasi Sejarah Walisongo

UIN Optimalkan Revitalisasi Sejarah Walisongo

IMG_6257

Pekalongan, 27/5 (BeritaJateng.net) – Sejarah walisongo selalu menjadi perbincangan yang tidak pernah selesai didiskusikan. Sehingga sejarah para auliya’ di Jawa ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari komitmen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo.

“Sebab salah satu visi UIN adalah revitalisasi kearifan lokal” Wakil Rektor I, Dr H Musahadi MAg saat membuka Seminar hasil penelitian sejarah Sunan Muria oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M) bekerjasama dengan Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria di Gedung Kanzus Shalawat Pekalongan (27/5/2015) di Gedung Kanzus Shalawat Pekalongan.

Hadir sebagai narasumber Habib Muhammad Luthfi bin Hasyim bin Yahya, Dr Ahwan Fanani MAg (peneliti Sunan Muria) dan Drs Musaddad M.Hum (arkeolog Universitas Negeri Gadjahmada).

Upaya melakukan revitalisasi kearifan lokal oleh UIN Walisongo adalah dengan membuat MoU dengan Persatuan Pemangku Makam Auliya’ (PPMA) dan Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria.

“Penelitian sejarah Sunan Muria ini menjadi salah satu bukti keseriuasan UIN untuk mengungkap kembali peran walisongo dalam melakukan penyebaran agama Islam” kata Musahadi.

Dengan adanya sejarah walisongo ini diharapkan generasi muda paham bahwa walisongo buka hanya sekedar folklor atau mitos. “Selama ini, generasi muda jika belajar sejarah Islam selalu berhenti pada masa khulafaurrasyidin dan sejarah walisongo tidak banyak disinggung” tegasnya.

Disinilah tujuan utama UIN Walisongo mendorong pentingnya menggali dan mengungkap kembali sejarah-sejarah wali dan tokoh-tokoh lokal yang memperjuangkan agama Islam.

Sementara itu, Ketua LP2M, Dr H Sholihan MAg menyampaikan bahwa penelitian Sejarah Sunan Muria ini sudah dimulai sejak tahun 2013. Seminar hasil penelitian ini pernah juga disampaikan di Colo Muria Kudus pada 17 Desember 2014.

“Seminar kali adalah yang kedua berangkat dari semangat Habib Luthfi untuk mengajak diskusi kembali soal sejarah walisongo” kata Sholihan.

Penelitian semacam ini, lanjutnya, memang sangat butuh waktu lama karena harus membaca sekian banyak naskah kuno dan melacak sumber di Belanda dan Australia sebagai bahan rujukan sejarah wali ini. Diharapkan dari hasil penelitian ini mampu mendorong pengembangan sejarah dan kesadaran akademik dari para pemangku makam auliya’ khususnya di Jawa.

Ketua Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria, Drs H Abdul Manaf mengakui bahwa sejarah Sunan Muria memang masih sangat sedikit sekali ditemukan.

Dari pemikiran itulah, Yayasan menggandeng UIN Walisongo untuk melacak kembali sejarah Sunan Muria ini. “Hasil penelitian ini disadari masih butuh masukan dari berbagai pihak agar benar-benar sempurna” tegas Manaf.

Dari hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat bagi pemahaman sejarah bagi generasi penerus agar semakin mencintai walisongo. Seminar kali ini, lanjutnya, adalah “gong” dari proses penelitian yang sudah berjalan dua tahun yang lalu.

Dr Akhwan Fanani MAg, peneliti sejarah Sunan Muria dari UIN Walisongo menegaskan bahwa Sunan Muria adalah fakta, bukan legenda sebagaimana dituduhkan sebagian orang. Ini nampak dari terdokumentasikannya Suluk Bonang sebagai naskah tertua pada tahun 1598.

Dalam Babad lainnya juga disinggung tentang  Sunan Ampel digantikan Sunan Gunung Jati dan disinggung juga tentang periode wali. Walaupun memang ada informasi yang tidak sama dalam Babad Cirebon itu adalah hal yang biasa.

Arkeolog UGM, Musaddad juga menegaskan bahwa figur Sunan Muria sebagai tokoh besar yang menjadi bagian dari institusi kewalian tanah Jawa. “Dan ini menjawab bahwa walisongo itu fakta dan tidak perlu risau tentang anggapan mengenai walisongo hanya sekedar dongeng, karena saya sudah banyak meneliti tentang makam-makam di Indonesia” pungkasnya. (Bj)