Home News Update Ubah Tinja Jadi Pupuk, Dosen BK UPGRIS Raih Bantuan Rp 42 Juta

Ubah Tinja Jadi Pupuk, Dosen BK UPGRIS Raih Bantuan Rp 42 Juta

SEMARANG, 6/8 (BeritaJateng.net) – Akibat semakin menumpuknya tinja di tempat penampungan dan pembuangan akhir di Kelurahan Tambak Rejo, Kota Semarang, dan adanya program hibah pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristek Dikti RI) tahun 2016.

Tiga dosen Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang tergabung dalam tim IbM (Iptek bagi Masyarakat), yakni Siti Fitriana, Emma Primaningrum Dian dan Agus Setyawan dibantu dua mahasiswanya, Hari Prabowo dan Muhammad David Romansyah berhasil menciptakan daur ulang tinja untuk pembuatan pupuk cair organik, yang dilakukan bersama warga di RT 1 dan RT 4, RW 6 Dusun Tanggung Rejo, Kelurahan Tambak Rejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. Atas idenya program hibah IbM tersebut, kelimanya langsung dinyatakan lolos mendapat bantuan Kemenristek Dikti RI sebesar Rp 42.500.000.

“Kami prihatin setelah kami survei dan bertanya langsung ke petugas penampungan dan pembuangan tinja Kota Semarang (Iyan), dalam 1 hari ada 16-17an mobil yang masuk mengantar tinja. Sementara dalam 1 mobil volumenya berisi 3-4 kubik, sedangkan bak hanya ada 4,”kata Ketua Tim IbM UPGRIS, Siti Fitriana kepada wartawan, Jumat (5/8/2016) malam.

Ana sapaan akrab Siti Fitriana mengaku, atas program IbM tersebut, timnya pertama kali mengajukan proposal ke Kemenristek Dikti RI sekitar Desember 2015 lalu, kemudian di seleksi dan dinyatakan lolos pada Pebruari 2016. Karena sudah lolos, April tim langsung melakukan survei dan sosialsasi dari 3-31 Mei 2016.

“Jadi proses dari survei, sosialisasi, pelatihan, uji coba dan terakhir nanti baru produksi. Yang jelas sampai 6 Agustus laporan harus sudah berhasil 70 persen,” kata Ana yang juga Ketua Program Studi BK UPGRIS tersebut.

Ana menilai selama ini tinja dihindari oleh masyarakat, namun setelah diuji coba dan di daur ulang oleh timnya ternyata bisa bernilai jual tinggi.

Programnya sengaja mengambil tinja sebagai bahan dasar karena keberadaanya melimpah ruah dan bisa dimanfaatkan, selain itu bisa bermanfaat untuk masyarakat memperoleh penghasilan tambahan.

Ana juga mengaku kalau timnya terinspirasi dari keberhasilan tim Kuliah kerja Nyata (KKN) dari Hari Prabowo yang sudah berhasil melakukan pemanfaatan kotoran sapi dengan konsep yang sama programnya, melihat dari keberhasilan tersebut dan di Kota Semarang ada tempat pembuangan tinja, akhirnya survei lapangan dilakukan dan disepakati tinja sebagai bahan dasar.

“Memang banyak warga jijik, tapi kami melihat tanaman di sekitar pembuangan tinja subur. Hanya saja kalau langsung dijual dalam bentuk tinja ndak mungkin, maka kami buat dalam bentuk pupuk cair dan sudah berhasil kami uji coba,” ungkapnya.

Timnya juga sudah berangan-angan, apabila nantinya dalam pembuatan skala besar sudah berjalan akan mendatangkan pakar pemasaran dan acounting untuk melihat masalah harga, merek dan pemanfaatan untuk warga sekitar.

“Nanti dibuat semacam koperasi bareng warga, jadi penghasilannya bisa dimanfaatkan bersama. Sekarang kami uji dalam skala kecil dulu sebanyak 3 jerigen, masing-masing sampel 20 liter tinja beserta campurannya,” sebutnya.

Untuk pengemasannya, lanjut Ana, nanti akan dibuat dalam 1 botol seperti aqua hanya saja penggunaanya dilakukan menggunakan seprotan. Pupuknya juga dipastikan bisa digunakan untuk segala macam tanaman, seperti sayuran dan tanaman hias.

“Sudah diuji ditanaman cabai, terong dan bayam, semangka hasilnya ideal dan tumbuh subur,” katanya.

Sementara itu, Agus Setyawan menambahkan, dalam pembuatan awal pupuk cair dari tinja ini, pihaknya menggunakan 20 liter air limbah tinja dicampur 200 mili liter bio aktivator (EM4) ditambah tetes tebu 600 ml. Bahan tersebut kemudian diaduk dan ditutup selama seminggu. Setelah seminggu diaduk lagi secara rutin setiap minggu sampai sebulan.

Saat penelitian pupuk cair ini, lanjut Agus, timnya membuat 3 sampel yang diproses dalam 3 jerigen. Untuk sampel 1, tinja diambil langsung dari tangki mobil yang baru datang. Sampel 2, tinja diambil dari kolam pembuangan kedua, dan sampel 3, tinja diambil dari kolam pembuangan ketiga.

“Kesimpulannya yang kami peroleh, tinja fresh atau dari tangki kurang bagus. Sampel 2 berhasil, mungkin karena sudah ada pengendapan, dan sampel 3 juga gagal. Dalam proses uji coba penyaringan dibuat dalam selang dan botol bekas air mineral, jadi tinja tidak langsung berhubungan dengan udara bebas,” jelasnya.

Setelah uji coba tersebut berhasil, lanjut Agus, timnya berencana membuat skala besar dengan menggunakan tandon air Pinguin dengan kapasitas 300-500 liter. Proses pembuatannya dengan menggunakan tinja seperti sampel kedua, yakni mengambil tinja dari kolam pembuangan kedua.

“Skala besar dibuat 300 liter dari tandon 500 liter, diberi ruang untuk penguap. Dari ujicoba pertama kami, baunya seperti tape, karena prosesnya juga sudah difermentasi. Jadi, sudah tidak berbau tinja lagi,” ungkapnya.

Setelah berhasil membuat pupuk cair dari bahan tinja itu, timnya berangan-angan untuk memproduksinya dan menjualnya dengan melibatkan warga sekitar.

“Nanti dibuat semacam koperasi bareng warga, jadi penghasilannya bisa dimanfaatkan bersama. Sekarang kami masih uji dalam skala kecil dulu sebanyak 3 jerigen, masing-masing sampel 20 liter tinja beserta campurannya,” kata Wakil Ketua IKA HMP BK UPGRIS ini. (BJ)

Advertisements