Home Hiburan Twaalf Uur Van Semarang, Film Soal Keberagaman Semarang

Twaalf Uur Van Semarang, Film Soal Keberagaman Semarang

image

Semarang, 28/3 (BeritaJateng.net) – Twaalf Uur Van Semarang (Dua Belas Jam di Semarang), salah satu film antologi karya muda-mudi Semarang yang menceritakan keberagaman kehidupan, lingkungan, culture Kota Semarang, dan intrik di belakangnya.

Film garapan bersama Komunitas Lopen Semarang, Yayasan Widya Mitra, dan Kedutaan Besar Belanda ini menyajikan kemolekan sudut kota lengkap dengan dialek khas Semarangan. 

Asisten Direktur Nara Nugroho mengatakan, latar belakang dibuatnya film ini bermula ketika Komunitas Lopen dan Yayasan Widya Mitra bekerjasama dengan Belanda untuk pertukaran budaya, sehingga dibuatlah film ini untuk memperkenalkan Kota Semarang, bukan hanya kepeda masyarakat kota Semarang saja, namun juga kota-kota lain bahkan nantinya akan di putar pula di Belanda.

Tujuan lain, lanjut Nara, film Twaalf Uur Van Semarang juga ditujukan untuk mengapresiasi sineas-sineas semarang agar bisa lebih mengeksplore.

Cerita Twaalf Uur Van Semarang bermula dari pukul 18.00 dan berakhir pukul 06.00 WIB, banyak orang membicarakan kecantikan Kota Semarang di malam hari. Sebagai kota pelabuhan utama di Jawa Tengah, Semarang hampir tidak pernah tidur. Bahkan di beberapa tempat seperti di pelabuhan, pasar, dan stasiun, geliat aktivitasnya justru telah dimulai di kala sebagian besar warga Kota ATLAS sedang terlelap dalam tidur. 

Film besutan Ragil Wijokongko memiliki empat cerita berbeda di dalamnya seperti Makan!, Kuli(ah), Kakeane dan Ver Van Huis. Sekuel Makan! menggambarkan kisah perjalanan panjang sebuah kubis sebelum dihidangkan di sepiring nasi goreng. Keriuhan aktivitas bisnis di sebuah Pasar Peterongan pada waktu malam hari menjadi pembuka film dapat dinikmati sekilas.

Cerita berikutnya berjudul Kuli(ah) mengisahkan sosok Jaka seorang pelarian dari Jakarta karena masalah narkotika. Pamannya membawa Jaka ke Semarang untuk bersembunyi dari kejaran aparat sembari bekerja dan berkuliah. Jaka ingin beralih dari kehidupan masa lalunya dan di Semarang jugalah keteguhan hati Jaka untuk hijrah dari dunia kelamnya diuji. 

Cerita ketiga diberi judul Kakeane mengulik cerita persahabatan Amat dan Toni yang memiliki rencana menghabiskan malam minggu dengan menonton pertunjukkan Gambang Semarang. Perjalanan menuju lokasi pertunjukkan dipenuhi dengan berbagai kejutan yang tak terduga. Kisah ini menampilkan seniman Djie Siong Hien yang akrab disapa Om Hien, yang tampil di Sobokartti.

Berbagai dialek khas Semarang nan menghibur menghiasi sekuel ketiga ini. Obrolan ringan antar teman disisipi sapaan Ndes, Pekok, He e , Bajindul, Ngoce, berhasil mengundang tawa penonton yang hadir pada premiere film ditayangkan di E-Plaza Cinema Semarang, kemarin.

Beragam adegan kocak dilakonkan Amat dan Toni yang sarat nuansa Semarang seperti Toni salah memasukkan congyang ke dalam vespa mogok. Congyang adalah minuman khas Semarang. Adegan pamungkas Ver Van Huis mengisahkan Daniel yang terpaksa mengikuti kehendak ayahnya Reynard, seorang Indo untuk menemaninya ke Semarang. Daniel terlibat dalam sebuah sentimental journey pada sebuah kota yang penuh kenangan yang akan mengubah cara pandangnya selama ini. 

Dialog penutup We Are Home yang diucapkan Daniel memiliki makna mendalam bahwa dia sudah seperti ayahnya yang merasa rumahnya di Semarang. Film Twaalf Uur Van Semarang (Dua Belas Jam di Semarang ) digarap selama empat bulan tersebut. 

“Desember mulai praproduksi sedangkan Januari mulai syuting, editing Februari dan Maret Rilis. Kendala yang dihadapi seperti, masalah waktu, budgetting, dan kendala teknis,” kata Nara saat ditemui BeritaJateng.net di Ruang Theatre Gedung Pin Balai Kota Semarang. 

Menurutnya, Film yang diputar di Pusat Informasi Publik (PIP) Kawasan Balai Kota Semarang sejak pukul 10.00 hingga 15.00 WIB tersebut sama sekali tidak dipungut biaya alias gratis.  Film Twaalf Uur Van Semarang yang memiliki durasi 1,5 jam ini tidak hanya diputar di Semarang saja, tambahnya, selanjutnya akan ada Jakarta, Jogja, Bandung menyusul kemudian  Surabaya dan kota lain. (Bj05)