Home Hukum dan Kriminal “Tubuh Saya Disiram Bensin dan Dibakar dengan Korek Api”

“Tubuh Saya Disiram Bensin dan Dibakar dengan Korek Api”

image

Kudus, 9/12 (Beritajateng.net)– Upaya Kuswanto (29) warga Desa Jepang, Kecamatan Mejobo Kudus menuntut keadilan masih membutuhkan waktu panjang. Kedatangannya ke Kantor Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan) di Jakarta sangat diharapkan mampu menjawab tuntutannya.

Dihubungi Beritajateng.net melalui sambungan telepon, suami Endang Susilowati (30) ini mengaku lega bisa diterima Kontras. Setelah menceritakan apa yang dialaminya, menurutnya pihak Kontras langsung membawanya ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). “Bukan hanya ke Komnas HAM, saya didampingi petugas Kontras sudah mendatangi Mabes Polri, menyerahkan berkas ke Istana Negara melalui acara Kemisan dan diterima pihak istana melalui Papampres,” terangnya dengan nada riang.

Kepada pihak-pihak yang mengurus perkaranya, masih tutur Kuswanto, dia selalu menceritakan apa yang dialaminya tanpa ditambah ataupun dikurangi. Peristiwa yang sangat diingat itu terjadi sekitar pukul 18.00 WIB pada 21 November 2012 lalu. Ketika itu dia bersama empat temannya dijemput petugas reserse mobil (resmob) Polres Kudus di Kafe Perdana, Jalan Lingkar Kencing Kudus.
Sesampainya di dalam mobil yang ditumpangi sekitar lima petugas, Kuswanto dikatakan terlibat kasus perampokan yang terjadi di gudang ice cream Walls sepekan sebelumnya. Karena merasa tidak pernah terlibat, pertanyaan petugas tersebut disanggahnya.   “Karena saya menolak disuruh mengaku terlibat perampokan, masih didalam mobil lalu saya dipukuli menggunakan gagang pistol. Tidak berhenti disitu, saya terus dipaksa hingga tangan saya diborgol dan mata saya dilakban,” ceritanya.

Tidak puas karena dirinya menolak mengakui tuduhan polisi, petugas yang datang dengan tiga mobil dan berjumlah sekitar 13 orang lalu membawa Kuswanto dan empat temannya ke lokasi ujian SIM di Jalan Lingkar UMK yang jauh dengan pemukiman penduduk. Disitu, masih menurut penuturan Kuswanto, dirinya dalam kondisi tangan diborgol, kaki diikat, dan mata dilakban terus dipaksa mengakui tuduhan polisi. Karena dia terus mengelak, petugas kehabisan akal lalu menyiramkan bensin ke tubuhnya dan mengancam akan membakar.

“Waktu itu saya bilang, jangankan dibakar ditembak matipun siap. Saya berani mengatakan seperti itu karena saya benar-benar tidak pernah terlibat kasus perampokan yang dituduhkan,” tambahnya.

Diluar dugaannya, hanya dalam hitungan menit polisi yang menangkapnya saat itu benar-benar membakar tubuhnya menggunakan korek api. “Ketika empat teman saya hendak menolong, saya mendengar beberapa anggota polisi melarangnya.   Kebetulan disekitar lokasi saat itu ada genangan air. Karena tidak kuat menahan sakit, saya menggosok-gosokkan tubuh saya ke tanah dan akhirnya api padam,” terang Kuswanto.

Belum habis siksaan yang dialami bapak dua anak Maylina Friska Salsabella (7) dan Muhammad Arifin Ilham (3,6), sesampainya di Mapolres Kudus, petugas sempat menyiramkan cairan ke bekas luka bakar dan dirasakan sangat perih. Karena dirinya bertahan menolak permintaan polisi untuk mengakui apa yang dituduhkan, keesokan harinya petugas membawanya ke RSUD Kudus.

Setelah beberapa lama di rumah sakit, Kuswanto dipulangkan dengan luka belum sembuh total. Hingga saat ini, luka bekas penganiayaan tersebut masih mengeluarkan cairan kuning bercampur darah. Untuk itulah, Kuswanto bersama istri dan dua anaknya mencari keadilan lewat Kontras. Menurutnya, pihak Polres Kudus pernah memberinya uang berobat sebanyak Rp 30 juta dan permintaan maaf yang dituangkan dalam surat pernyataan.

“Sejak saya sakit bekas dibakar, saya tidak bisa bekerja. Bahkan, barang berharga yang saya miliki termasuk mobil dan perlengkapan rumah tangga habis saya jual untuk berobat. Karena saya sudah tidak punya apa-apa dan luka saya tidak kunjung sembuh, akhirnya saya minta bantuan Kontras menuntut keadilan,”paparnya. (PJH/pj)