Home Headline Tradisi Titiran Ceritakan 76 Tahun Tragedi Pembakaran Kampung Batik oleh Tentara Jepang

Tradisi Titiran Ceritakan 76 Tahun Tragedi Pembakaran Kampung Batik oleh Tentara Jepang

Aksi teatrikal tradisi Titiran oleh warga Kampung Batik

SEMARANG, 17/10 (Berita Jateng.net) – Banyak masyarakat kota Semarang yang tak nyana, jika terdapat sejarah kelam pembakaran Kampung Batik oleh tentara Jepang yang menjadi rangkaian sejarah pertempuran lima hari di Semarang.

Ya.. Prosesi Titiran merupakan salah satu seremoni warga memperingati 76 tahun pembakaran di Kampoeng Djadoel Kampung Batik Tengah.

Prosesi dimulai dengan prosesi kirab mengarak papan pintu rumah warga yang pada saat kejadian 76 tahun lalu terlubang ditembak Jepang. Warga berpakaian tradisional dengan lurik dan kebayanya, seragam tentara Jepang dan tentara Republik Indonesia lengkap dengan bendera Merah Putih juga dikenakan warga.

Ada pula warga yang membawa hasil alam serta air yang dibawa dari sumur peninggalan yang jadi saksi bisa peristiwa penyerangan Kampung Batik oleh pasukan Jepang.

Salah satu warga sekaligus pemerhati sejarah Kampung Batik, Chandra Adi Nugroho mengatakan, nama Titiran diambil dari kata Titir berasal dari Suara Kentongan Titir. Titir adalah suara kentongan untuk menandai kebakaran.

“Saat itu, merupakan saat dibakarnya Kampung Batik oleh Tentara Jepang, suara Titir membangkitkan warga untuk bergotong royong membantu memadamkan api yang membakar hampir separuh wilayah Kampung Batik. Saat itu Jepang mulai membakar menjelang kampung batik menjelang maghrib dan api berhasil dipadamkan pada tengah malam sekitar pukul 23.00 WIB,” cerita Chandra.

Dalam prosesi peringatan, ditampilkan drama teatrikal peristiwa pembakaran. Sebuah replika bangunan rumah Kampung Batik yang diserbu lalu dibakar oleh tentara Jepang. Para warga lalu bergotong royong memadamkan api yang bersumber dari sumur kampung.

Terdapat tentara Jepang yg diperankan komunitas sepeda membakar replika rumah warga. Api yang membakar rumah berkobar dan membuat warga menabuh kentongan titir. Warga pun berbondong memadamkan air yang diambil dari sumur kebakaran yang kini masih dipertahankan di Kampung Batik Gedong.

Dalam sejarahnya, kata Candra, Kampung Batik Semarang saat itu jadi bagian dalam siasat pertempuran lima hari Semarang.

Jepang yang mengawasi kegiatan di Kampung Batik dari Gereja Gedangan, lalu menyerbu dan membakar rumah-rumah di Kampung Batik. Jepang menembaki rumah warga hingga tembus pintu-pintu lalu membakar sekitar 200 an rumah.

Dua saksi bisu sejarah 76 tahun yang lalu itu masih ada, yakni pintu yang tertembus peluru dan sumur yang masih ada dan dimanfaatkan hingga sekarang.

“Ini mengingat sejarah dan kebangkitan paska kebakaran sehingga bisa melaksanakan kembali sehari-hari,” katanya.

Rencananya, tradisi Titiran akan jadi agenda tahunan sebagai potensi wisata kegiatan seni yang dibuat.

“Dulu sederhana hanya berdoa bersama, kali ini dibuat kreasi ada unsur seni agar lebih menarik dilihat dan ditonton,” katanya.

Sementara itu, Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu sangat mendukung adanya tradisi Titiran.

Mbak Ita sapaan wakil walikota, mengaku baru tahu ada sejarah cerita tradisi Titiran ini.

“Ini bagus sekali, karena saling berkait dengan yang di Tugu Muda dan sekitar ini, ada gereja Gedangan juga,” katanya.

Atraksi seni budaya ini tentunya akan menambah daya tarik wisata Kampung Batik Semarang di Kampung Jadoel ini.

Kedepan, pihaknya akan memfasilitasi adanya lapangan parkir yang representatif dengan memanfatakan bekas lahan SMP 4 Semarang.

“Kalau wisatawan ini datang akan menjadikan masyarakat di kampung jadoel lebih sejahtera,” katanya. (Ak/El)