Home Hiburan Tradisi Perang Obor Sebagai Tolak Bala Yang Menghibur 

Tradisi Perang Obor Sebagai Tolak Bala Yang Menghibur 

image

Jepara,14/4 (Beritajateng.net) – Warga Desa Tegal Sambi, Kecamatan Tahunan, memiliki tradisi unik yang diyakini sebagai tolak bala. Tradisi yang gelar sebagai rangkaian sedekah bumi ini, dikenal dengan istilah perang obor. 

Tradisi yang semula hanya dijadikan sebagai bagian ritual tolak bala, kini menjadi telah berkembang menjadi hiburan masyarakat. Tradisi perang obor untuk tahun ini berlangsung Senin (13/4) Malam. 

“Tradisi  perang obor bukan hanya milik warga Tegal Sambi saja, kini telah menjadi hiburan masyarakat luas,” tutur Agus Santoso, Kepala Desa Tegal Sambi. 

Sebelum perang obor dimulai, para peserta yang berpakaian rangkap dan pelindung kepala, menyiapkan diri dengan membawa pelepah pisang kering yang dibalut daun pelepah kelapa. Persiapan juga dilakukan para sesepuh desa dengan membawa sesaji dan kemenyan, yang kemudian dibakar di tengah perempatan desa. 

Usai doa bersama, perang oborpun dimulai. Seorang peserta mengawali perang obor dengan membakar pelepah pisang dan kelapa. Perang obor ini berlangsung dengan saling memukulkan api ke sesama peserta.

Tanpa pilih lawan, peserta mencari sasaran yang ada didekatnya. Penonton yang semula berada di tengah jalan, seketika menepi agar terhindar dari percikan api. Sorak sorai penonton, menjadikan semangat para peserta. 

Perang obor di desa tegal sambi selalu menjadi perhatian berbagai kalangan masyarakat, baik dari desa setempat maupun desa tetangga. Meski beresiko akan percikan api, tak menyurutkan warga untuk selalu menyaksikan. “Perang obor, satu-satunya tradisi yang ada di Jepara, saya tak ingin melewatkan pertunjukan ini karena hanya sekali dalam setahun,” ungkap Ari Puspa, seorang penonton perang obor.

Meski terbilang berbahaya, perang obor tak mengurangi minat peserta untuk rutin mengikuti. Tak jarang para peserta maupun penonton menderita luka bakar akibat percikan api. Untuk mengobati luka bakar tersebut, pihak panitia telah menyediakan obat ramuan yang terbuat dari minyak kelapa dan beragam daun dan bunga, yang berkhasiat bisa meringankan rasa sakit pada luka. 

“Saya selalu ikut menjadi peserta perang obor. Luka bakar sudah menjadi resiko kami, tapi saya tidak takut. Kalau acara selesai, peserta yang menderita luka bakar akan diolesi dengan ramuan minyak kelapa yang dicampur dengan dedaunan dan bunga,” kata Wakhid, peserta perang obor. 

Dalam perang obor kali ini menggunakan 250 daun pelepah. Perang obor akan berakhir hingga seluruh pelepah kepala dan daun pisang habis terbakar. Bagi warga Tegal Sambi, perang obor merupakan tradisi turun-temurun dari nenek moyang.

Asal mula perang obor berawal dari upaya warga untuk menjauhkan dari masa pagebluk yang berupa penyakit pada hewan ternak. Usaha itu dilakukan oleh Mbah Gemblong dan Kyai Babatan dengan saling pukul pelepah kelapa dan daun pisang yang dibakar. Dari saling pukul menggunakan obor, ternyata membuat hewan ternak tiba-tiba sembuh dari penyakit,” jelas Agus Santoso. 

Seiring perkembangan jaman, tradisi perang obor bukan hanya untuk tolak bala, namun juga sebagai tradisi yang menghibur bagi masyarakat Jepara. (BJ18)