Home Headline Tradisi Gebyuran Bustaman Jelang Ramadhan Dilakukan dengan Sederhana

Tradisi Gebyuran Bustaman Jelang Ramadhan Dilakukan dengan Sederhana

SEMARANG, 11/4 (BeritaJateng.net) – Tradisi gebyuran atau membersihkan diri jelang bulan suci Ramadhan di kampung Purwodinatan, Semarang Tengah, Kota Semarang, Sabtu (10/4) dilakukan lebih sederhana.

Tradisi tahunan tiap menjelang bulan Ramadan itu kembali digelar setelah tahun lalu ditiadakan lantaran masih dalam awal masa pandemi Virus Corona atau Covid-19.

Tradisi yang dinamai Gebyuran Bustaman itu diyakini warga setempat menjadi simbol untuk mensucikan diri sebagai sebelum menunaikan ibadah puasa.

Biasanya, ratusan orang berkumpul sambil membawa sebuah kantung plastik yang telah diisi air dan diikat saling melempar agar pecah.

Mereka pun berkejar-kejaran, menghindar sambil berteriak.

Ada juga yang saling menyemprotkan air menggunakan selang.

Selain air, ditambahkan juga holy powder atau tepung warna untuk memeriahkan acara itu.

Namun, hal-hal meriah seperti itu tidak dapat dilakukan pada kali ini.

Tradisi perang air diganti secara simbolis dengan menyiram air secara perlahan ke beberapa anak.

Jumlah pesertanya pun dibatasi.

Sejumlah protokol kesehatan seperti menjaga jarak menghindari kerumunan, memakai masker dan sebagainya wajib dilakukan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, mengatakan bahwa pihaknya berupaya membatasi atau melakukan penyederhanaan acara itu untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19.

“Kami mencoba mengadakan kembali tradisi yang sudah bertahun-tahun kita adakan bersama masyarakat.

Namun ini ada sedikit berbeda, penyelenggaran acara ini dimodifikasi atau ada penyederhanaan tentunya mengikuti protokol kesehatan,” ungkapnya yang turut hadir dalam acara.

Sementara itu, sesepuh Kampung Bustaman, Hari Bustaman, mengatakan bahwa ia bersama warga setempat sudah kangen dan berupaya mengadakan kembali tradisi itu.

“Bisa dilihat euforia anak-anak di sini.

Sebisanya kami lakukan pembatasan agar tidak terjadi kerumunan, namun memang sulit dibendung,” ungkapnya.

Sebagai informasi, tradisi gebyuran ini berawal dari kebiasaan Kyai Bustaman yang sering memandikan cucunya saat menjelang Ramadhan

Gebyuran itu memiliki makna sebagai penghapus dosa selama setahun. Acara itu diikuti oleh seluruh kalangan masyarakat dan semua umur, seperti anak-anak dan orang dewasa. (Ak/El)