Home Headline Tradisi Ampyang Warnai Peringatan Maulid Nabi

Tradisi Ampyang Warnai Peringatan Maulid Nabi

image

Kudus, 3/1 (BeritaJateng.net) – Warga Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memiliki tradisi menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan menggelar tradisi “ampyang” maulid, Sabtu.

Tradisi “ampyang” yang dikenal sebagai tradisi memperingati hari kelahiran nabi dengan menyajikan makanan yang dihiasi dengan “ampyang” atau nasi dan krupuk yang diarak keliling Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, sebelum menuju ke Masjid Wali At Taqwa di desa setempat.

Sebelum tradisi tersebut dimulai, ratusan warga terlihat memadati jalan di sepanjang rute kirab untuk menyaksikan rombongan kirab yang diikuti berbagai institusi, lembaga pendidikan, mushala, organisasi masyarakat dan kelompok usaha.

Masing-masing peserta, menampilkan sejumlah kesenian, seperti visualisasi tokoh-tokoh yang berjasa pada saat berdirinya Desa Loram Kulon serta visualisasi sejarah pendirian Masjid Wali At Taqwa.

Setelah sampai di Masjid Wali, tandu yang berisi nasi bungkus serta hasil bumi yang sebelumnya diarak keliling desa didoakan oleh ulama setempat, kemudian dibagikan kepada warga setempat untuk mendapatkan berkah.

Tokoh masyarakat Desa Loram Kulon Afrof Amaludin mengungkapkan, tradisi “ampyang” maulid diperkenalkan oleh Sultan Hadlirin atau Raden Toyib yang menyebarkan Agama Islam di Kudus.

“Kini nasi bungkus daun jati beserta krupuk atau ampyang dilestarikan masyarakat Desa Loram setiap memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang tahun ini diperingati pada 3 Januari 2015,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua panitia tradisi “Ampyang” Maulid M. Taslim mengatakan, jumlah peserta kirab mencapai 36 rombongan.

Selain kirab keliling, tradisi tersebut juga turut menampilkan “Loram Expo” dan pentas seni.

Produk-produk unggulan dari Desa Loram Kulon, antara lain konfeksi, kerajinan tangan dan suku cadang motor antik dan mesin disel.

Dengan adanya tradisi seperti ini, dia berharap, masyarakat dapat mengingat dan instropeksi diri serta berperilaku yang mencerminkan sifat-sifat yang dimiliki Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, dia berharap, para pemuda juga ikut melestarikan budaya turun menurun tersebut.

Sementara itu, Bupati Kudus Musthofa berharap masyarakat sekitar tetap menjaga tradisi “ampyang” maulid ini agar tetap lestari.

“Kami juga mengupayakan untuk menambah dana stimulan untuk menyelenggarakan kegiatan tahunan tersebut,” ujarnya.

Apalagi, lanjut dia, lewat kaum agamis di desa setempat tumbuh berbagai sektor usaha dan orang-orang yang kreatif. (Ant/BJ)

Advertisements