Home News Update Tolak Ikut Pelajaran Agama Islam, Siswa SMKN 7 Tak Naik Kelas

Tolak Ikut Pelajaran Agama Islam, Siswa SMKN 7 Tak Naik Kelas

Ombudsman RI Perwakilan Jateng bertemu dengan pihak sekolah SMK Negeri 7 Semarang terkait dugaan pemaksaan mengikuti pelajaran Agama Islam.

Semarang, 27/7 (BeritaJateng.net) – Zulfa Nur Rahman (17) siswa SMK Negeri 7 Semarang harus tinggal kelas lantaran tak mengikuti mata Pelajaran Agama Islam (PAI). Bukan tanpa sebab Zulfa tak mengikuti pelajaran, ia merupakan pengikut penghayat kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa.

Kabar mengenai Zulfa langsung menjadi viral di media. Mendengar kabar tersebut, Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah langsung mendatangi pihak SMK Negeri 7 Semarang.

Waka Kesiswaan SMK N 7 Semarang, Netty Pietersina Engel dihadapan Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jateng Ahmad Zaid menceritakan kronologis siswa tersebut.

“Jadi memang anak ini masuk di Sekolah kita (SMKN 7,Red) mendaftar online tahun 2014 lalu dengan mencantumkan agama Islam. Tak hanya itu, dalam Kartu Keluarga (KK) dan Data Pribadi Siswa (DPS) juga identitasnya ber,agama islam,” terang Netty.

Sejak kelas X semester 1, lanjut Netty, Zulfa sudah mengikuti mata pelajaran Agama Islam (PAI). Zulfa bahkan mendapatkan nilai PAI sehingga naik ke kelas XI. “Di kelas 1 dia mengikuti pelajaran agama Islam sesuai biodata KK. Pembelajaran itu lancar sehingga dia naik ke kelas IX. Mungkin karena kelas X semester 1 dan 2 kebanyakan pelajaran teori. Namun pada kelas XI atau semester 3 dan 4, Zulfa tidak ikut dalam pelajaran, sehingga nilai PAI kosong dan tidak naik kelas,” paparnya.

Netty menilai Zulfa sebagai siswa yang cerdas, namun sesuai regulasi, jika ingin naik kelas tidak boleh ada mapel kosong. “Awalnya mau mengikuti pelajaran, namun saat semester 3 dan 4, kan cenderung banyak praktek seperti praktek shalat dan mengaji sehingga Zulfa memilih tidak ikut pelajaran. Dari situ kami coba lakukan pendekatan dan pembinaan. Mungkin dari prndekatan itu, Zulfa menganggap sebuah paksaan untuk memeluk agama Islam, padahal kami tidak pernah memaksa bahkan meminta membuat surat pernyataan bermaterai seperti yang diwartakan,” imbuhnya.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jateng, Ahmad Zaid menyatakan akan menengahi dan melakukan mediasi dengan memanggil kedua belah pihak, baik dari sekolah maupun walimurid untuk mencari penyelesaian dan solusi.

“Pihak sekolah mengaku sudah beberapa kali memanggil orang tua Zulfa pak Taswidi, hanya saja beliau belum memberi surat legal yang menerangkan bahwa KK Taswidi (ayah Zulfa) merupakan penganut penghayat kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa, selama ini KK dan Data Pribadi Siswa menerangkan jika beragama Islam. Padahal kakak Zulfa yang bernama Ifatul Kharisatus Salih juga lulusan SMK N 7 Semarang dan mengikuti pelajaran Agama Islam selama belajar di sekolah ini. Sehingga agar tak berlarut-larut permasalahan ini, Ombudsman akan melakukan media dengan memanggil kedua belah pihak,” terang Zaid. (Bj05)