Home News Update Teknologi Informasi Pacu Pengembangan Pariwisata

Teknologi Informasi Pacu Pengembangan Pariwisata

Teknologi Informasi Pacu Pengembangan Pariwisata
          Purbalingga, 13/12 (BeritaJateng.net) – Laju perkembangan Teknologi Informasi (TI) saat ini tidak mungkin dapat dibendung. Hampir semua sektor sangat tergantung pada teknologi informasi. Tak terkecuali sektor pariwisata, yang sangat membutuhkan untuk promosinya. Disisi lain, investasi sektor pariwisata di Purbalingga, akan semakin terbuka lebar dengan dukungan infrastruktur dan aksesabilitas yang tengah dibangun.
            “Pengembangan sektor pariwisata di Purbalingga tidak akan terlepas dengan strategi digital dalam promosi dan pemasaran. Jika tak mau terlibas dengan kemajuan Information Communication and Technology (ICT), maka semua pelaku usaha jasa pariwisata harus menguasai teknologi itu untuk pengelolaan usahanya dan promosi serta pemasarannya,” kata Kepala Bidang Humas dan Informasi Komunikasi Publik (IKP) Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Purbalingga, Ir Prayitno, M.Si, Rabu (13/12).
            Prayitno mengungkapkan hal tersebut saat menjadi nara sumber pada Business Gathering ‘Strategi Pengembangan Sektor Pariwisata untuk Meningkatkan Investasi di Purbalingga’, yang digelar Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), di Andrawina Owabong Cottage. Selain Prayitno, tampil sebagai nara sumber lain, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Dinporapar) Drs Mulyanto, dan Direktur Perusahaan Daerah (PD) Owabong. Busines Gathering diikuti para pengusaha jasa pariwisata seperti pengelola daya tarik wisata, pengelola rumah makan, hotel, dan akomodasi wisata, biro perjalanan wisata serta para pegiat desa wisata.
            Prayitno mengungkapkan, kebijakan pembangunan sektor pariwisata di Purbalingga sangat sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Di level pemerintah pusat, Presiden Jokowi menempatkan sektor pariwisata sebagai salah satu program prioritas disamping infrastruktur, pangan, energi dan maritim. Pemerintah pusat telah menetapkan pengembangan destinasi ’10 Bali Baru’ dan membuka kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK) bagi 174 negara. Sektor pariwisata juga mampu menyerap tenaga kerja 11,8 juta orang pada tahun 2016, dan pada tahun 2017 ini ditarget mampu menyerap 12 juta tenaga kerja.
            Dalam tataran pembangunan pariwisata Jawa Tengah, lanjut Prayitno, difokuskan pada enam Destinasi Pariwisata Provinsi (DPP). Jumlah kunjungan wisatawan nusantara pada tahun 2016 mencapai 36,8 juta, dan wisatawan mancanegara (wisman) 578.924 orang. “Pemprov Jateng telah dan terus meningkatkan infrastruktur untuk mendukung pembangunan pariwisata. Salah satunya, pengembangan bandara Jenderal Besar Soedirman dan mendukung pembangunan jalan tol trans Jawa. Jika bandara Soedirman telah dibuka, dan juga exit jalan tol di Pemalang sudah dioperasikan, maka peluang kunjungan wisata akan semakin meningkat. Dan tentunya, investasi sektor wisata akan semakin bermunculan,” kata Prayitno.
            Pola wisatawan dalam mencari informasi destinasi wisata dan sarana akomodasi yang mendukung, cenderung menggunakan IT. “Gaya hidup wisatawan dalam mencari informasi destinasi, memperbandingkan antarproduk, memesan paket wisata, dan berbagi informasi lain, kini telah mereka lakukan secara digital, singkatnya mereka search and share menggunakan media digital. Oleh karenanya, penguasaan IT bagi semua pelaku wisata tidak bisa ditawar-tawar lagi,” kata Prayitno.
            Kepala DPMPTSP Drs Jarot Sopan Riyadi mengatakan, dengan akan dimulainya pembangunan bandara Jenderal Besar Soedirman, sejumlah investor akomodasi jasa pariwisata khususnya hotel, sudah banyak yang melirik ke Purbalingga. Salah satunya investor dari Jakarta yang saat ini tengah mengurus perijinan dan akan membangun hotel di Jalan S Parman Purbalingga. Ada juga investor dari Abu Dabhi Arab Saudi akan menanamkan investasi untuk membangun rumah pohon di kompleks Goa Lawa. “Peluang investasi sektor pariwisata, sangat terbuka lebar. Oleh karenanya, para pelaku wisata termasuk pengelola desa wisata, harus menangkap peluang baik ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata,” tegas Jarot Sopan Riyadi.
            Sementara itu, Direktur PD Owabong Drs Hartono mengungkapkan, manajemen Owabong saat ini terus berbenah dan membangun sinergi dengan pengelola daya tarik wisata lain di Purbalingga, termasuk pula para pegiat desa wisata. Destinasi Owabong dan Taman wisata Purbasari Pancuranmas atau River World, telah bersinergi untuk melakukan promosi bersama. Wisatawan yang datang ke Purbalingga, harapannya tidak saja hanya ke Owabong, tetapi juga ke destinasi lain, seperti River World, Pancuran Ciblon, sanggaluri Park, Goa Lawa, dan destinasi desa wisata yang unik dan menarik.
            “Saat ini juga harus dipikirkan untuk membangun destinasi unik, jangan membangun wisata semu yang hanya menjual daya tarik sama antar desa wisata, dan mengandalkan foto selfi semata. Dua atau tiga tahun lagi, wisata selfi diprediksi akan semakin menurun, oleh karenanya pegiat desa wisata harus mulai berpikir untuk membuat paket wisata dan destinasi yang spesifik, jangan hanya mengikuti keberhasilan desa wisata lain dan mencontoh daya tariknya,” kata Hartono.
            Kepala Bidang Pariwisata Dinporapar Drs Mulyanto menegaskan soal pentingnya Sapta Pesona wisata untuk memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan. Jika Sapta pesona sudah dilaksanakan dengan baik, dan didukung promosi yang kuat melalui internet, maka perkembangan wisata Purbalingga akan semakin meningkat. (yit/El)