Home News Update Tak Punya Izin Frekuensi Radio, Pengusaha Taxi diamankan 

Tak Punya Izin Frekuensi Radio, Pengusaha Taxi diamankan 

image

Semarang, 19/5 (Beritajateng.net)-Tidak memiliki izin stasiun radio dari pemerintah, direktur perusahaan taksi, CV Gelora Taksi Kota Surakarta berinisial MS (52) diamankan tim Dit Reskrimsus Polda Jawa Tengah.

Direktur Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng, Kombes Pol Edhy Moestofa mengatakan tersangka ini diketahui punya usaha armada taksi menggunakan spektrum radio satelit tanpa izin dari pemerintah.”Tersangka (MS-Red) sendiri selaku direktur,” kata Edhy, Selasa (19/5).

Edhy menambahkan, dalam usaha armada taksi yang dijalankan sebenarnya mempunyai 200 armada. Namun khusus untuk radio komunikasi, belum memiliki izin yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika di Kementerian Komunikasi dan Informatika.”Untuk radionya belum izin tapi sudah beroperasi dahulu,” imbuhnya.

Pihaknya melakukan penyelidikan kasus ini berdasarkan Laporan Polisi nomor: LP/A/V/2005/Jateng/Reskrimsus, tanggal 7 Mei 2015. Tersangka telah dilakukan pemeriksaan berdasarkan Surat Penyidikan nomor polisi: SP Sidik/503/V/2015/Reskrimsus tanggal 7 Mei 2015. “Jadi tersangka masih dalam proses pemeriksaan,” katanya.

Menurut Edhy dalam kasus ini memang merupakan pertama kali ditangani pihak kepolisian.”Setahu kami, ini kasus pertama kali di Indonesia. Tidak menutup kemungkinan, ini juga banyak terjadi di perusahaan taksi yang lain,” ujarnya.

Disebutkan penggunaan frekuensi telekomunikasi tersebut digunakan secara intern untuk operasional di perusahaan taksi. “Ini juga merugikan negara. Karena tidak memiliki perizinan,” katanya. 

Tersangka MS mengaku tidak tahu sama sekali bahwa prosedur penggunaan telekomunikasi dengan menggunakan spektrum radio dan orbit satelit di perusahaan transportasi taksi diperlukan perizinan. “Saya tidak tahu kalau ternyata harus izin,” ujarnya.

MS menjelaskan, bahwa hanya meneruskan usaha yang sebelumnya dibelinya sejak 6 bulan yang lalu penggunaan frekuensi telekomunikasi menggunakan spektrum radio. “Saya hanya membeli dari pengusaha sebelumnya,” kata MS. 

Dari tangan tersangka petugas mengamankan barang bukti berupa receiver, extramix, DC Power Supply, Taksi, dan menara tower.Tersangka dinyatakan terbukti tidak memiliki izin dan melanggar pasal 53 Undang-Undang RI No 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi, yakni barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 33 ayat (1), atau pasal 33 ayat (2), dengan pidana penjara paling lama 4 tahun. Selain itu tersangka juga dijerat pasal 33 ayat (1) Undang-Undang RI nomor 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi: yakni penggunaan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit wajib mendapat izin pemerintah. (BJ04