Home News Update Suporter Sering Bentrok dan Rusuh, Klub Harus Bisa Bina Para Suporter

Suporter Sering Bentrok dan Rusuh, Klub Harus Bisa Bina Para Suporter

772
Kerusuhan yang terjadi akibat supoter Persija (The Jak Mania) tak terima kekalahan dan melukai polisi sebagai bentuk balas dendam atas kematian alm. Fahreza.

Jakarta, 28/6 (BeritaJateng.net) – Rusuh, sepertinya tidak bisa lepas dari persepakbolaan kita. Harapan bagaimana persepakbolaan Nasional dapat melahirkan peradaban selalu musnah jika melihat kerusuhan demi kerusuhan yang terus terjadi. Dan kerusuhan ini tidak hanya terjadi di level para suporter seperti yang terjadi Jumat (24/6) kemarin, di level pengambil kebijakan pun sepertinya belum ada kata sepaham terhadap cetak biru persepakbolaan di tanah air. ‎

Oleh sebab itu anggota Komisi X DPR RI Fraksi NasDem Kresna Dewanata Phrosakh meminta kepada para suporter, organisasi yang menaunginya, serta para klub sepak bola untuk berkaca.

Kerusuhan oleh The Jakmania saat laga Persija vs Sriwijaya di Stadion Utama Glora Bung Karno (SUGBK), Jumat kemarin  yang mengakibatkan banyak kerugian, menurut Dewa harus menjadi pelajaran berharga dan momentum pembenahan manajemen para suporter ke depan.

“Dalam pandangan saya sebetulnya suporter adalah salah satu tiang penyangga sepakbola Indonesia. Sayangnya ketika ada kerusuhan maupun tindakan anarkis, hal yang muncul selalu tindakan yang reaktif bukan preventif,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (28/6).

Dewa menuturkan, jika ada suporter yang melakukan tindakan anarkis, bukan hanya mereka saja yang mendapatkan sanksi. Akan tetapi klub sepakbolanya juga harus dikenai sanksi.

“Oleha karena itu, menurut saya, petugas dan penyelenggara harus memberikan rule atau sanksi yang tegas,” tegasnya.

Misalnya dengan pemberian sanksi dilarang menonton bola selama jangka waktu tertentu atau selamanya. Dengan demikian, akan terjadi saling ketergantungan satu sama lain. Ujung dari hubungan ini adalah dibinanya para suporter oleh klub sepakbola masing-masing.

“Jika hanya ditindak langsung (pada suporternya) maka tidak akan menimbulkan efek jera,” imbuhnya.‎

Dewa menyadari, dalam suasana yang kompetitif dan tegang, kadang muncul emosi. Namun di sinilah justru sepakbola nasional harus belajar menerima kenyataan sebuah pertandingan, ada yang menang dan ada yang kalah.

“Bagi suporter kan sebenarnya cuma soal ini intinya,” cetusnya.

Oleh karena itu, dia melanjutkan, kedewasaan semua pihak diuji di sini. Siapkah semua pihak membenahi diri, terutama para pemegang kebijakan (penyelenggara) maupun para klub sepak bola.

“Jika penyelenggara dan para klubnya mampu melakukan ini, otomatis para suporter akan niru. Mereka akan beradab dengan sendirinya. Sepakbola pun akan aman, nyaman, dan menyenangkan,” tutupnya. (Bj05)

Advertisements