Home Ekbis Soal Trans Studio, Hendi Rencana Temukan Warga dengan Investor

Soal Trans Studio, Hendi Rencana Temukan Warga dengan Investor

Walikota Semarang Hendrar Prihadi saat berdialog dengan warga.
Walikota Semarang Hendrar Prihadi saat berdialog dengan warga.
Walikota Semarang Hendrar Prihadi saat berdialog dengan warga.

Semarang, 11/3 (BeritaJateng.net) – Pro-kontra terkait rencana pembangunan Trans Studio oleh PT Trans Ritel Properti di Kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) mulai menemukan titik terang, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi untuk kedua kalinya sowan ke TBRS untuk bertemu sekaligus berdialog dengan para seniman dan masyarakat setempat, Selasa (10/3) malam.

Kedatangan Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi, sempat disuguhi dengan aksi teatrikal sebagai bentuk penolakan atas rencana pembangunan di kompleks tempat seniman berekspresi dan berkreativitas tersebut. Dalam kesempatan itu, hadir pula dari kalangan seniman kondang antara lain penyair Timur Sinar Suprabana, budayawan Djawahir Muhammad, bahkan Didik Nini Thowok yang dikenal sebagai seniman serba bisa juga menyempatkan hadir.

Para seniman, budayawan, dan masyarakat secara bergantian menyampaikan ‘unek-uneknya’ atas rencana pembangunan Trans Studio di kompleks TBRS Semarang, mereka menyampaikan berbagai argumen kesetujuan dan ketidaksetujuannya di hadapan Wali kota, Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi, dan Ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase) Mulyo Hadi Purnomo yang duduk berdampingan.

Tiba saatnya mendapatkan giliran, Hendi menyampaikan apresiasinya atas berbagai “unek-unek”, baik yang setuju maupun tidak setuju dengan rencana pembangunan Trans Studio di kompleks TBRS. “Saya melihat pro-kontra yang muncul (rencana pembangunan Trans Studio) tidak lebih karena kurangnya sosialisasi sampai muncul anggapan TBRS akan digusur. Pemahaman itu ‘seko ngendi’ (dari mana)?,” katanya.

Hendi tidak ingin mempermasalahkan pada siapa yang setuju dan tidak setuju, melainkan bagaimana agar TBRS sebagai aset milik Pemerintah Kota Semarang itu dikelola secara optimal untuk ruang berekspresi seniman.

“Rencananya, Trans Studio dibangun di wahana Wonderia yang masih bagian kompleks TBRS. Makanya saya ingin dengar masukan. Kalau inginnya hanya dibangun di Wonderia, TBRS jangan diutak-utik, silakan, nanti saya sampaikan,” katanya.

Pihaknya menyampaikan jika tidak ingin mematikan atau menggusur tempat berkreativitas para seniman, sehingga apabila para seniman ingin Trans Studio nantinya terintegrasi dengan kegiatan seni budaya di TBRS juga akan ia dukung. Hendi berencana untuk mengundang perwakilan seniman, komunitas, dan tokoh masyarakat untuk secara khusus membicarakan rencana pembangunan Trans Studio, sekaligus mempertemukannya dengan investornya.

“Pembangunan Trans Studio tidak akan dilakukan secara gegabah. Kami tidak akan melangkah sebelum semua proses ‘clear’. Makanya, kami akan ajak semua pihak terkait untuk berdiskusi dan berembuk,” pungkasnya.

Ia menilai kesepakatan bersama tersebut masih langkah awal, sehingg ia berharap pertemuan yang rencananya digelar dengan mempertemukan perwakilan seniman, budayawan dan masyarakat dengan pihak Trans Studio mendapat keputusan terbaik.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi mengapresiasi langkah Wali kota yang mau turun langsung untuk berkomunikasi dan mendengarkan aspirasi masyarakat dalam suasana diskusi yang demokratis.

“Kami akan terus mengawal kebijakan Pemkot Semarang agar bermanfaat. Makanya, nanti akan dilakukan kajian-kajian lebih lanjut terkait dengan rencana pembangunan Trans Studio dari berbagai aspek,” katanya. (BJ05)