Home Headline Soal Pembelajaran Tatap Muka, Ini Pendapat Krebo

Soal Pembelajaran Tatap Muka, Ini Pendapat Krebo

SEMARANG, 11/4 (Beritajateng.net) – Pandemi Covid-19 sudah berlangsung selama 1 tahun lebih, berbagai kebiasaan baru harus mulai diakrabi oleh masyarakat. Selama kurun waktu satu tahun lebih ini telah dilakukan berbagai pembatasan di semua lini kehidupan termasuk dunia Pendidikan. Semua jenjang Pendidikan mulai tingkat pra sekolah, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak Kanak (TK), Pendidikan Dasar (SD), Sekolah Lanjutan baik SLTP dan SLTA serta Perguruan Tinggi harus dilaksanakan dengan system online (Daring).

Dengan system Daring tentu saja banyak sekali kelemahannya karena siswa tidak dapat menerima pelajaran secara optimal. Bahkan peserta didik tidak dapat melakukan kerja praktek secara langsung di laboratorium dengan bimbingan guru atau instruktur dengan baik. Hal ini sudah barang tentu akan menurunkan kwalitas Pendidikan. Namun tidak ada jalan lain selain dengan system daring karena prioritas yang paling utama adalah menjaga kesehatan dengan mencegah penularan Covid-19 bagi peserta didik.

Seiring dengan mulai menurunnya tren Positif Covid-19 menyusul vaksinasi yang sudah dilaksanakan saat ini. Pelaksanaan pembelajaran saat ini mulai diujicobakan system pembelajaran tatap muka terbatas dengan protocol kesehatan di beberapa sekolah di Jawa Tengah. Ujicoba ini dilakukan sebelum dilakukan pembelajaran tatap muka secara menyeluruh untuk semua jenjang Pendidikan yang akan dilaksanakan pada Bulan Juli 2021 mendatang.

Menanggapi ujicoba dan rencana pemberlakuan secara menyeluruh Pembelajaran Tatap Muka tersebut, Ketua DPRD Jateng Bambang Kusriyanto bisa memahami keinginan berbagai pihak untuk segera menggelar pembelajaran tatap muka.

“Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (Daring) yang selama satu tahun lebih dilakukan ini tidak hanya membuat repot peserta didik namun juga para guru banyak yang gagap dalam memberikan pembelajaran. Bahkan banyak juga guru yang hanya memberikan tugas atau soal yang harus dikerjakan peserta didik tanpa memberikan bimbingan sama sekali, saya rasa asal dilakukan dengan disiplin protokol kesehatan bisa dimulai,” ungkapnya dalam diskusi di radio Rasika Ungaran, Minggu (11/4).

Politisi yang akrab disapa Krebo ini menjelaskan, pembelajaran jarak jauh (daring) yang selama ini dilakukan telah membuat orang tua siswa repot. Mereka tidak bisa tinggal diam menghadapi putra putrinya merasa kesulitan dalam mengerjakan tugas tugas yang diberikan oleh gurunya. Sehingga tidak jarang tugas tugas yang dikumpulkan atau diserahkan dalam bentuk soft file atau juga foto merupakan hasil pengerjaan yang dilakukan oleh orang tua (terutama ditemukan di jenjang Pendidikan Dasar).

“Kondisi ini menyebabkan nilai nilai yang diperoleh ketika hasilnya diumumkan adalah bukan nilai sebenarnya yang diperoleh peserta didik. Hal ini sudah barang tentu menjadikan peserta didik tidak memiliki kompetensi sesuai dengan yang diharapkan,” bebernya.

Pelaksanaan Ujicoba pembelajaran tatap muka saat ini dibayangi dengan kekawatiran munculnya kluster baru penyebaran Covid-19. Hal ini mengingat tenaga pendidik dan peserta didik belum memperoleh Vaksin Covid-19. Hal inilah yang kemudian membuat beberapa pihak terutama orang tua merasa gamang untuk melepas putra putrinya mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka.

Namun demikian uji coba ini sedang berlangsung dan tentu saja harapan kita bisa berjalan dengan baik dan tidak ada siswa atau guru maupun pegawai di sekolah yang melaksanakan ujicoba terpapar Covid-19. Untuk itu semua pihak yang terlibat dalam pembelajaran  tatap muka ini untuk melaksanakan Protokol Kesehatan yakni selalu memakai Masker, mencuci tangan dengan Sabun atau Hand Sanitizer dan menjaga jarak.

“Sebelum penuh dilaksanakan pembelajaran tatap muka pihak sekolah hendaknya menyediakan sarana prasarana yang cukup. Beberapa hal yang harus disiapkan diantaranya alat pengukur suhu tubuh, tempat cuci tangan yang harus tersedia di beberapa tempat, penyediaan Masker dan mengatur jarak antara satu tempat duduk dan meja satu dengan lainnya,” harapnya.

Disamping itu harus pula dilakukan pembatasan bagi peserta didik yang mengikuti pembelajaran tatap muka agar tidak terjadi kerumunan di kelas. Misalnya dilaksanakan dengan jumlah peserta didik 1/3 dari kapasitas kelas dan pembatasan waktu belajar dalam setiap hari pelaksanaannya. Misalnya hanya 2 atau tiga jam dan diutamakan pada pelajaran pelajaran yang sulit serta pelajaran praktek.

Satu hal yang sebaiknya dilaksanakan sebelum dimulainya pembelajaran tatap muka yang rencananya akan dilaksanakan secara regular pada Juli mendatang (bukan uji coba) adalah prioritas pemberian vaksin Covid-19 pada guru dan peserta didik. Hal ini untuk mengurangi resiko terjadinya cluster baru penyebaran Covid-19.

“Perlu diprioritaskan pemberian vaksin bagi guru dan siswa sebelum pembelajaran tatap muka dilaksanakan secara menyeluruh di Jawa Tengah,” tegasnya.

Krebo menambahkan, Hal yang tidak kalah penting diterapkan oleh pihak sekolah adalah memberi kebebasan kepada orang tua untuk mengijinkan atau tidak mengijinkan putra putrinya mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka termasuk apabila nanti diputuskan dilaksanakan pembelajaran tatap muka secara regular.

Pemberlajaran tatap muka sebaiknya tetap dipadu dengan system daring bagi peserta didik yang tidak mendapat giliran datang langsung ke sekolah atau tidak diijinkan oleh orang tuanya untuk mengikuti pembelajaran tatap muka ini. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran dapat dilakukan terhadap semua peserta didik baik yang berada di kelas maupun belajar dari rumah.

(NK)

Advertisements