Home Headline Sineas Kendal Ulin Nuha, Film Nasional Setahun Beradaptasi dengan Pandemi

Sineas Kendal Ulin Nuha, Film Nasional Setahun Beradaptasi dengan Pandemi

Sineas Asal Kendal, Ulin Nuha.

Kendal, 30/3 (BeritaJateng.net) – Bagaikan petir di siang bolong. Begitu kira-kira perumpamaan yang menggambarkan kemunculan wabah Covid-19 atau bagi perfilman di Indonesia.

Sebagai bagian dari sektor di bidang kreatif, perfilman tentu saja tidak bisa terhindar dari dampak “kilat” varian baru virus corona (SARS-CoV-2) ini. Tak banyak yang bisa di lakukan waktu itu dan tak terasa setahun sudah Pagebluk ada di lingkaran kita yang di ketahui penyebarannya di Indonesia pada Maret 2020 yang lalu.

Bulan Maret Memperingati Covid-19 dan Film Nasional

Bulan maret 2020 yang lalu, sempat kegiatan-kegiatan untuk merayakan Hari Film Nasional yang akan di laksanakan harus di tunda, di gantikan dengan kegiatan-kegiatan Webinar Online yang di lakukan oleh asosiasi dan komunitas film di berbagai daerah untuk tetap bisa ambil peran di dalam merayakan Hari Film Nasional.

Di bulan maret 2021 sekarang, Tidak Cuma mengenang kemunculan Pagebluk yang melumpuhkan sektor ekonomi di Indonesia. Nyatanya pengalaman setahun itu menjadikan asosiasi dan komunitas film justru semakin kreatif untuk berkreasi dan mencari solusi bersama dengan membangun embrio platform yang tersedia.

Di lihat dari beberapa hari kebelakang banyak yang mencoba menginisiasi kegiatan dari insan perfilman dan didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di daerah-daerah. terutama Jakarta, Bukittingggi, Makasar, Aceh, Tapanuli, Bengkulu, dan lain-lain. Sebagai dorongan inisiatif sebagai upaya membangun perfilman kita saat ini.

Paling mencolok kegiatan ini adanya pameran arsip dan kekaryaan Usmar Ismail di tanah kelahirannya, yaitu di Bukittinggi. Dan beberapa kegiatan pemutaran virtual karya Usmar Ismail di Kinosaurus dan Kineforum Jakarta, juga rangkaian panel diskusi di Makassar.

“100 Tahun Usmar Ismail” Tema Hari Film Nasional 2021

Di Indonesia, Usmar Ismail di jadikan sebagai tokoh bapak perfilaman karena perannya sebagai anak bangsa pertama kali yang melopori lahirnya kembangkitan perfilman Indonesia.

Jasanya yang besar di bidang Perfilman membuat namanya dikenang dalam salah satu ajang penghargaan bagi insan perfilman di Indonesia: Usmar Ismail Awards dan peringatan 30 maret Hari Film Nasional tidak bisa lepas dari karya pertamanya yaitu film Darah & Doa atau Long March of Siliwangi.

Usmar Ismail meninggal di usianya yang belum genap 50 tahun, karena pendarahan di otak. wafat dalam kekecewaan yang mendalam, akibat kerjasama Perfini (Pusat Perfilman Nasional Indonesia) yang di dirikannya dengan International Film Company asal Italia saat membuat film Adventures in Bali yang bermasalah.

Setahun menjadi Evaluasi kembangkitan film kita wajah kita.

Surat imbauan dari Kapolri tanggal 26 Maret 2020. Menghentikan Sektor berbagai macam industry, tidak kecuali perfilaman kita. Yang semula masih bisa optimistis menjadi dilanda ketidakpastian. Semua lumpuh, hanya menunggu kebijakan pemerintah untuk mencarikan jalan keluarnya.

Namun Pemerintah Indonesia dinilai gagap dan tidak satu suara dalam mengambil keputusan dan langkah-langkah yang sistematis untuk mencegah penyebaran penularan Covid-19. Sebagai contoh, Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tidak mewajibkan pemerintah lokal untuk menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) karena PSBB hanya bisa diterapkan dengan persetujuan Kementerian Kesehatan.

Pada awal April 2020, hanya permintaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat terkait PSBB yang dikabulkan. Beberapa permintaan dari pemerintah kota/kabupaten ditolak, termasuk Rote Ndao (NTT), Sorong (Papua Barat), Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara), dan Gorontalo. Daerah Istimewa Yogyakarta yang kerap dianggap sebagai lokus seni budaya terkesan bersikeras menolak PSBB.

Setahun yang lalu Solidaritas Sinema sempat menggalang dana dari para aktor, asosiasi pekerja film, dan organisasi lainnya. Mereka juga melakukan pengumpulan dana publik (crowdfunding) dengan mekanisme transfer tunai atau penjualan kaus. Cara kerja mereka diawali dengan mendata calon penerima melalui Google Form, lalu verifikasi berdasarkan produksi film terakhir.

Upaya yang penuh Perjuangan pada waktu itu, cita-cita film yang tengah bangkit terpaksa harus tertahan di tengah pandemi. Namun Tahun ini harapan segar sepertinya segera tumbuh kembali,  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah membuka lebar dan menyebut Hari Film Nasional ke-71 tahun ini, sebagai momentum masyarakat kembali ke bioskop sebagai apresiasi atas karya anak bangsa.

Semoga gairah ini bisa menjadi angin segar bagi sineas untuk bangkit lagi. Sebagai film kita wajah kita di harapkan bisa hadir dan mampu untuk menumbuhkan semangat cinta tanah air, pembangunan karakter bangsa, serta peningkatan nilai-nilai budaya bangsa kita. Tetep semangat berkarya sineas kita, aku bangga film Indonesia. (El)

Penulis : Ulin Nuha, Sineas Asal Kendal