Home News Update Sembilan Rumah Terkena Bencana Tanah Gerak dan Longsor, Satu Rusak Berat

Sembilan Rumah Terkena Bencana Tanah Gerak dan Longsor, Satu Rusak Berat

Wabup Tiwi menyalami Udami salah satu korban tanah bergerak dan latar belakang rumah yang rusak.

Purbalingga, 24/1 (BeritaJateng.net) – Sembilan rumah di wilayah Kecamatan Kaligondang dan Rembang terkena bencana tanah bergerak dan longsor. Bencana tanah bergerak menimpa enam rumah warga di RT 1/IV Desa Pagerandong, Kecamatan Kaligondang, sedang tiga rumah di wilayah RT 5/II Desa Wlahar terkena bencana tanah longsor.

Dari sembilan rumah tersebut, satu rumah milik Suwardi (56) warga Desa Pagerandong mengalami rusak berat. Rumah tersebut terpaksa dikosongkan karena sudah tidak memungkinkan lagi ditempati.

Wakil Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, SE, B.Econ, bersama Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan Drs Sridadi, MM, Kabid Humas & Informasi Komunikasi Publik Ir Prayitno, M.Si serta Camat Kaligondang Dra Pandansari, Senin (23/1) meninjau lokasi bencana tanah bergerak. Wakil Ketua DPRD Adi Yuwono yang tengah mengadakan kegiatan di Desa Pagerandong juga menyempatkan untuk menengok bencana tanah longsor tersebut.

Kepala Desa Pagerandong Tri Adi Hernowo mengungkapkan, bencana tanah bergerak menimpa wilayah RT 1/IV dan merusakan rumah milik Rusidi, Sukenmdra, Supawi, Zaimi, Karmudi dan Suwardi.

Kondisi rumah Suwardi dan Udami yang rusak berat akibat longsor dan tanah bergetar.
Kondisi rumah Suwardi dan Udami yang rusak berat akibat longsor dan tanah bergetar.

Rumah Suwardi mengalami rusak berat dan bergeser sekitar 0,5 meter serta amblas hampir satu meter. Semua lantai bangunan retak dan hancur, begitu pula dinding serta atap rumah sudah terkoyak dan tidak kokoh lagi. Rumah itu terpaksa harus dikosongkan, dan pemilik rumah mengungsi di rumah tetangga. Selain rumah milik Suwardi, lima rumah lainnya mengalami ambles sekitar 15-20 cm.

“Beruntung, begitu ada kejadian bencana tanah bergerak, penghuni rumah langsung lari keluar. Kejadian itu terjadi pada malam hari, Jum’at (20/1),” kata Tri Adi.

Tri Adi mengungkapkan, dengan kondisi tanah yang labil, enam rumah tersebut harus direlokasi ke tempat yang lebih aman. “Para korban bersedia direlokasi ke tempat yang lebih aman, hanya saja pihak pemerintah desa tidak memiliki lahan desa untuk tempat relokasi. Lahan milik desa ada di tepi sungai dan lokasinya lebih jauh,” kata Tri Adi.

Istri Suwardi, Udami (49) menuturkan, rumahnya dibangun dari biaya dirinya bekerja di Malaysia sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) selama sembilan tahun. Udami harus meninggalkan keempat anaknya untuk membiaya kehidupan keluarga dan juga memperbaiki rumah. “Rumah ini saya bangun dengan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit saat saya bekerja di Malaysia. Tapi sekarang, semuanya sudah hancur. Rumah sudah tidak mungkin kami tinggali lagi, sementara kami tidak memiliki penghasilan rutin,” tutur Udami.

Udami menambahkan, suaminya Suwardi saat ini belum mengetahui persis kondisi rumahnya. Pihak keluarga hanya memberikan kabar kepada suaminya yang bekerja di Jakartajika rumahnya terkena bencana. “Suami saya sudah dua bulan tidak pulang. Ia juga tidak mengirimkan uang, kabarnya uang gajinya sebagai buruh serabutan dibawa oleh temannya. Jadi dia bilang belum memiliki ongkos untuk kembali ke Purbalingga,” kata Udami.

Derita Udami ternyata semakin bertambah panjang. Anak pertamanya Teni Agustina(18) yang bekerja di Malaysia sebagai TKW juga sudah enam tahun tidak ada komunikasi. Kontak pertama ketika beberapa minggu setelah pergi meninggalkan desa. Teni hanya mengabarkan sudah tiba di Malaysia dan sudah mulai bekerja. “Sejak saat itu, Teni sudah tidak memberikan kabar lagi. Suami Teni yang memberikan satu anak Rita Nova Maulana juga sudah menceraikannya karena terpisah beberapa tahun,” ujar Udami.

Udami menempati rumah di Pagerandong bersama tiga anaknya serta satu cucu. Ketiganya masing-masing Mike Wardani, Krisna Wardani, Yuliana Wardani dan cucunya Rita Nova Maulana. “Dengan rusaknya rumah kami, maka terpaksa harus ikut numpang rumah tetangga,” ujar Udami.

Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi menyampaikan rasa prihatin atas musibah yang menimpa warga Pagerandong. Wabup Tiwi berjanji akan menyampaikan laporan ke Bupati dan membicarakan langkah-langkah yang akan diambil. Perbaikan rumah milik warga di lokasi tersebut jelas tidak mungkin karena kondisi lahannya  labil. Sementara untuk mencari lokasi pengganti sebagai tempat relokasi, pihak desa belum bisa. “Pihak desa tidak memiliki lahan yang aman untuk relokasi. Nanti akan kami cari jalan keluarnya bersama Bupati,” kata Wabup Tiwi.

Selain meninjau rumah-rumah milik warga Pagerandong, Wabup Tiwi juga meninjau rumah Sulemi (60) warga RT 5/II Desa Wlahar yang terkena longsor. Bagian dapur rumah Sulemi sudah hilang akibat longsor. Sementara, jarak bagian belakang rumah dengan tanah yang terkena longsor hanya tinggal sekitar 1 meter. Disamping rumah Sulemi, yang terancam tanah longsor masing-masing miliki Rusmono dan Pujo Rahwanto. (yit/EL)

Advertisements