Home Headline Sembilan Kecamatan di Semarang Masuk Zona Merah Rawan Bencana Longsor

Sembilan Kecamatan di Semarang Masuk Zona Merah Rawan Bencana Longsor

Longsor di Perumahan Manyaran Permai

SEMARANG, 2/3 (BeritaJateng.net) – Selain banjir di sejumlah wilayah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang juga fokus terhadap potensi bencana longsor yang terjadi saat musim hujan.

Sekretaris BPBD Kota Semarang, Winarsono mengatakan setidaknya ada 9 Kecamatan yang masuk zona merah rawan bencana longsor.

Diantaranya Kecamatan Gajahmungkur, Gunungpati, Tembalang, Semarang Barat, Ngaliyan, Candisari, Tugu, Semarang Selatan, dan Banyumanik.

”Kita sudah memetakan tanah longsor yang memang tersebar di wilayah atas. Seperti Kecamatan Gajahmungkur itu Kelurahan Lempongsari dan Petompon, Kecamatan Gunungpati ada di Sadeng dan Sekaran,Kecamatan Candisari ada di Jomblang, Wonotingal, Jatingaleh, Tegal Sari dan Karanganyar Gunung,” Jelas Winarsono, Selasa (2/3/2021).

Lebih lanjut Winarsono juga memetakan wilayah tanah bergerak yang ada di Kota Semarang, seperti di Kecamatan Gunungpati yakni wilayah Sukorejo, Sadeng dan Trangkil, serta Kecamatan Ngaliyan yakni wilayah Babankerep.

“Kita juga terus siagakan posko 24 jam di puncak musim hujan ini. Sekaligus kita juga menindaklanjuti laporan-laporan kejadian bencana di lapangan. Termasuk peringatan melalui Early Warning System (EWS) dan Kelurahan Siaga Bencana (KSB) yang sudah tersebar di beberapa wilayah rawan bencana,” ungkapnya.

Winarsono menambahkan, pihaknya juga terus memberikan imbauannya kepada masyarakat Kota Semarang khususnya yang berada di titik rawan bencana agar meningkatkan kewaspadaan di puncak musim hujan kali ini.

Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang mendorong agar ada pemetaan sifat tanah, untuk meminimalisir resiko bencana tanah longsor.

Hal itu diungkapkan oleh Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Joko Santoso, Selasa (2/3).

Pihaknya meminta agar ada evaluasi terkait peta zonasi risiko rawan bencana, khususnya di wilayah atas Kota Semarang yang rawan tanah bergerak, serta wilayah bawah yang rawan terjadi penurunan tanah.

” Sebaiknya menurut saya, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang segera memetakan sifat tanah di Kota Semarang. Jadi pada dasarnya ada beberapa sifat tanah di Kota Semarang, yakni tanah bergerak di Semarang atas dan penurunan tanah di Semarang bawah” jelasnya.

Politisi Partai Gerindra itu menjelaskan pemetaan sifat tanah memang mendesak dilakukan, agar daerah yang rawan tanah longsor tidak digunakan untuk tempat tinggal, seperti yang terjadi di Perumahan Bukit Manyaran Permai Kecamatan Gunungpati.

“Ini adalah salah satu bentuk evaluasi yang harus dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang terkait tata ruang wilayah. Karena kalau kita lihat daerah daerah yang labil, atau yang tanahnya bergerak, jangan sampai dijadikan tempat tinggal atau perumahan atau kegiatan masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, tanah dengan sifat labil sebaiknya dipergunakan untuk perkebunan, atau lahan terbuka hijau agar penyerapan air ke tahan bisa lebih optimal. (El)