Home Lintas Jateng Sekolah Lima Hari Tidak Tepat Dilaksanakan di Jawa Tengah

Sekolah Lima Hari Tidak Tepat Dilaksanakan di Jawa Tengah

ilustrasi

ilustrasi

Semarang, 15/4 (BeritaJateng.net) – Pakar Pendidikan Nasional Darmaningtyas menganggap wacana sekolah lima hari tidak tepat di terapkan di Jawa Tengah. Menurutnya sekolah lima hari hanya cocok di jalankan di kota-kota besar, namun di daerah-daerah kecil, wacana sekolah lima hari dinilai tidak efektif.

Hal ini di sampaikan dalam diskusi ringan politik, pendidikan, cagar budaya dan transportasi di gedung Lawang Sewu, Semarang.

Darmaningtyas menyatakan konsep lima hari sekolah justru akan menimbulkan kebingungan tersendiri bagi anak-anak untuk mengisi kegiatan di hari libur Sabtu dan Minggu, terutama bagi anak-anak yang tidak memiliki fasilitas serta tidak memiliki dana untuk mengikuti les maupun kursus.

“Nanti malah menghabiskan waktu di hari Sabtu dan Minggu untuk bermain dan nonton TV saja,” ungkapnya.

Ia menilai pengaruh buruk yang akan terjadi jika sekolah hanya lima hari jauh lebih besar, jika di banding sekolah enam hari.

“Yang keluarganya mampu untuk mengajak kegiatan positif seperti les dan kursus itu bisa lebih efektif, namun secara mayoritas jika di lihat di Jawa Tengah, terutama karena lalu lintasnya belum terlalu padat seperti Jakarta, masyarakatnya juga beragam dari Semarang yang metropolis, ada yang masih sangat desa, kalau lima hari saya rasa tidak tepat,” paparnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi juga menilai sekolah lima hari kurang efektif.

“Menurut saya jangan lima hari sekolah, namun enam hari saja tapi yang sehari dapat diisi ajang permainan, khususnya jenjang SD sampai SMP,” ujarnya.

Supriyadi menyatakan tidak setuju dengan adanya wacana sekolah lima hari. Meskipun begitu, ia tetap menghargai kebijakan yang nantinya di usung pemerintah.

“Apapun itu sudah kurikulum dari pusat, tentunya kita menghargai kebijakan dari pusat. Kalau kita dari daerah ya harus melaksanakannya,” tutur Supriyadi.

Ia menambahkan, ketika kebijakan lima hari sekolah di sepakati, tentunya hari Sabtu itu jadi ajang untuk pendidikan berkreativitas atau olah raga atau bila perlu, jadwal mengajar pada hari Sabtu, dapat di kelola dari sekolah masing-masing agar lebih efektif. (BJ05)