Home News Update Sekolah Lima Hari Bisa Ganggu Keberadaan TPQ

Sekolah Lima Hari Bisa Ganggu Keberadaan TPQ

image

Semarang, 28/5 (Beritajateng.net)-Rencana penerapan Sekolah Lima Hari menuai banyak kritikan. Salah satunya menganggap rencana ini bisa mengganggu keberadaan Madrasah Diniyyah dan Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) yang selama ini beroperasi pada pukul 13.00 – 17.00.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah Yudhi Indras Wiendarto mengungkapkan, sebagian besar Madrasah Diniyah dan TPQ mendidik siswa/santrinya pada sore hari. Sementara jam pelajaran sekolah dengan sistem lima hari akan selesai pada jam 16.30.

Dengan demikian Madrasah dan TPQ akan terganggu keberadaannya.“Program lima hari sekolah menurut saya tidak pas, karena dapat mengganggu keberadaan madrasah dan TPQ,” ungkapnya, Kamis (28/5).

Menurut politisi Partai Gerindra ini, dalam membuat kebijakan sekolah lima hari, Gubernur Ganjar Pranowo hendaknya memperhitungkan sisi pendidikan keagamaan anak anak. Pendidikan keagamaan harus bisa selaras dengan pendidikan formal.

Dengan penerapan sekolah lima hari, menurut Yudhi, waktu belajar agama menjadi berkurang jauh.“Kalau sekolahnya saja sampai sore banget, bagaimana ngajinya? Padahal malam hari sudah harus belajar lagi dan mengerjakan PR atau tugas tugas lainnya,” jelasnya.

Yudhi menambahkan, kalau yang menjadi alasan keluarnya kebijakan sekolah lima hari karena memberi waktu yang cukup bagi keluarga untuk bersama sama mengisi hari Sabtu sebagai hari libur, menurut Yudhi alasan tersebut juga tidak tepat.

Hal ini disebabkan hanya sedikit orang tua yang bekerja sebanyak lima hari. Sebagian besar justru bekerja enam hari bahkan banyak yang bekerja selama tujuh hari penuh.“Orang tua yang bekerja sebagai PNS dan pekerjaan formal yang hari kerjanya lima hari hanya sedikit. Saya kawatir bisa bisa Hari Sabtu malah digunakan untuk kegiatan kegiatan yang tidak bermanfaat karena tidak ada orang tua yang mengawasi,” katanya.

Sehubungan dengan hal tersebut, Yudhi mengharapkan agar Gubernur Ganjar meninjau kembali kebijakan lima hari sekolah. Hal ini semata mata demi terciptanya generasi muda yang cerdas namun tetap dilandasi pengetahuan keagamaan yang cukup sebagai bekal ketika dewasa.

Sementara itu, Kepala Seksi Kurikulum Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Hari Wulyanto menjelaskan, Sekolah Lima Hari akan mulai berlaku efektif mulai Tahun Ajaran 2016/2017 dan untuk sementara akan diterapkan pada jenjang pendidikan menengah SMA/SMK dan SLB. Itupun masih bersifat piloting dan belum untuk semua sekolah menengah.

Sementara untuk pendidikan dasar masih menggunakan sistem enam hari sekolah.“Sementara ini akan diberlakukan pada jenjang pendidikan menengah. Sedangkan untuk pendidikan dasar diserahkan kebijakannya pada para bupati dan walikota,” ungkapnya.

Rencananya, sekolah yang menggunakan kurikulum 2013, jam pelajaran dimulai pada pukul 07.00 sampai dengan pukul 16.30. Sedangkan yang menggunakan kurikulum 2006, jam pelajaran dimulai pukul 07.00 dan berakhir pukul 15.30.(BJ013)