Home Lintas Jateng Sebelum ke Turki, Hafid Mengaku Istrinya Sakit di Surabaya

Sebelum ke Turki, Hafid Mengaku Istrinya Sakit di Surabaya

Solikhin, teman seprofesi Khafid yang hilang di Turki.
Solikhin, teman seprofesi Khafid yang hilang di Turki.
Solikhin, teman seprofesi Khafid yang hilang di Turki.

Solo, 8/3 (BeritaJateng.net) – Hafid Umar Babher dan Fauzi Umar, kakak beradik yang diduga hilang di Turki, kesehariannya menjalankan usaha pembuatan gordyn yang terkenal baik dan ramah dengan warga di sekitar lingkungannya.

Teman dan juga patner kerjanya, Muhamad Sholihin, menjelaskan jika selama ini keluarga Hafid sering melimpahkan orderan pembuatan gordyn kepada dirinya.

Sebelumnya  Sholihin adalah karyawan dari ayah Hafid. Namun sejak tahun 2010 memutuskan keluar dan membuat usaha penjahitan gordyn sendiri.

“Kenal Hafid lumayan lama juga, anaknya baik. Kaget juga atas peristiwa hilangnya Hafid dan keluarganya di Turki,” ungkapnya ketika ditemui beritajateng.net di Solo Jawa Tengah, (8/3/2015).

Namun Sholihin mengaku hubungannya hanya sebatas bisnis saja. Menurut cerita, Hafid kuliah di IAIN Solo. Kurang tahu juga sudah lulus atau belum.

Keluarganya sering menjahitkan gordyn pada dirinya. Sejak keluarga Hafid pindah dan Hafid menikah dengan perempuan asal Surabaya dirinya tidak tahu dimana Hafid tinggal.

“Katanya ngontrak rumah di daerah Cemani. Kalau bapaknya Hafid (Umar) tinggal di perumahan daerah Bekonang,” lanjutnya.

Komunikasi yang terjalin ungkap Sholihin seringnya lewat HP, atau Hafid yang datang ke sini. Biasanya dia kirim gambar model gordynya seperti apa. Kalau sudah selesai Hafid tinggal mengambil pesanannya.

Sempat Sholihin menanyakan kenapa Hafid jarang sekali terlihat belakangan ini. Katanya istrinya sedang sakit, sehingga dia (Hafid) harus sering bolak-balik Solo Surabaya untuk mengantar istrinya berobat.

“Sebelum dikabarkan Hafid berangkat ke Turki, saya sempat ketemu. Tapi dia tidak bilang apa-apa. Hanya bilang istrinya sedang sakit.  Agar tidak menganggu kerjaanya maka istrinya di titipkan di rumah orang tuanya istrinya di Surabaya,” ungkapnya.

Kontak terakhir dengan Hafid pada 20  Februari 2015 lalu. Hafid bertanya berapa kekurangan uang yang belum dibayarkan. Sedianya uang  akan diantar Hafid ke rumah, namun batal karena harus menjemput istrinya ke Surabaya karena itulah uangnya hanya di transver oleh Hafid.

“Terakhir dia hanya bilang akan jemput istrinya yang sedang sakit di Surabaya. Uangnya sudah dia transver. Cuma itu saja habis itu HPnya sudah tidak bisa di hubungi lagi,” papar Sholihin. (BJ24)