Home Hiburan Sebagian Seniman Setuju TBRS Dilebur jadi Trans Studia

Sebagian Seniman Setuju TBRS Dilebur jadi Trans Studia

Wali Kota Semarang saat berdialog dengan seninam seputar Trans Studio
Wali Kota Semarang saat berdialog dengan seninam seputar Trans Studio

Semarang, 10/3 (BeritaJateng.net) – Tidak seluruhnya pegiat seni di Semarang menolak berdirinya Trans Studio Semarang di kawasan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), salah satunya seniman dari sanggar tari Greget, Yoyok Bambang Priyambodo yang menyatakan setuju Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) dibangun menjadi Trans Studio Semarang.

Pihaknya mengaku, mengetahui sejarah berdirinya TBRS hingga berkembang dan dikenal sebagai pusat kumpul para seniman. Menurutnya, di TBRS tidak ada managerial yang mengatur destinasi sebagai taman budaya.

“Selama ini manajemen TBRS masih kacau balau. Tidak ada kontribusi yang tampak untuk perkembangan seni di Semarang. Kalau sudah di dalam sana seniman Semarang dituntut untuk belajar manajemen karena bekerjasama dengan pihak swasta. Lambat laun, mereka akan lebih tertata dan akan ada yang naik kelas,” katanya.

Contohnya, lanjut Yoyok, pembentukan Dewan Kesenian Semarang yang berkantor di TBRS tidak punya payung hukum. Serta pengelolaan gedung, manajemennya tidak teratur.

“Seharusnya pemerintah memfasilitasi kan? Misalnya saat pentas, lampu-lampu bawa sendiri, sound system bawa sendiri karena disini tidak layak, bahkan kami bersih-bersih sendiri, padahal Dekase tiap bulan dapat suntikan dana, tapi masalah sumber daya manusia, soal dana dan pelayanan tidak berubah,” ungkap Yoyok.

Seharusnya berkaca pada pengelolaan taman Sri Wedari di Solo, tambah Yoyok, di sana, seniman benar-benar difasilitasi pemerintah. Misalnya jika ingin pentas pun sound system sudah layak dan tidak perlu menyediakan sendiri.

Terkait dengan TBRS dianggap sebagai tempat kumpul para seniman, untuk saat ini iya. Tapi menurutnya jika hanya kumpul atau diskusi tanpa menghasilkan karya nyata baginya hal itu hanya kesenangan saja. Bahkan papan yang bertuliskan kegiatan seni yang teratur saja tidak dibuat. “Selama ini andalannya hanya pertunjukkan ngesti pandowo, dari sisi gedung juga sebenarnya kurang layak. Yang perlu dibenahi adalah manajemen berkesenian di Semarang jika memang ingin seni jadi suatu industri. Bagaimanapun juga seni tetap harus payu,” ujarnya.

Menurut Yoyok, pilihannya hanya dua. Pertama pemerintah membangun taman budaya dengan manajemen kesenian yang baik hingga bisa berkontribusi untuk kota Semarang. Contohnya seperti taman Sri Wedari. Yang kedua menggabungkan kegiatan seni dangan fasilitasi Trans Studio.

Pihaknya ingin kehidupan seniman Semarang itu dileburkan dengan pembangunan Trans Studio. Pihak swasta itu diyakini mau menampung para seniman kota Semarang karena mereka juga membutuhkan. (BJ05)