Home Nasional SBY Konsolidasi Demokrat di Surabaya

SBY Konsolidasi Demokrat di Surabaya

Susilo Bambang Yudhoyono
Susilo Bambang Yudhoyono
Susilo Bambang Yudhoyono

Surabaya, 8/2 (BeritaJateng.net) – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beserta sejumlah pengurus harian menggelar konsolidasi dengan kader partai di Surabaya, Jawa Timur, Minggu.

“Konsolidasi digelar di Grand City Surabaya. Ini sangat penting bagi partai, khususnya di daerah,” ujar Pelaksana Tugas Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Surabaya Hartoyo kepada wartawan.

SBY yang didampingi Sekjen DPP Edhie Baskoro Yudhoyono bertatap muka dengan 676 pengurus anak cabang (PAC) Partai Demokrat se-Jawa Timur, 38 DPC kabupaten/kota se-Jatim dan 187 anggota DPRD kabupaten/kota asal Partai Demokrat.

Selanjutnya, Presiden RI ke-6 tersebut juga menemui pengurus DPD Partai Demokrat Jatim beserta 13 anggota Fraksi Partai Demokrat di DPRD Jawa Timur.

Bahkan, pada Minggu siang di Kantor DPD Partai Demokrat Jatim Jalan Raya Kertajaya, SBY melakukan pertemuan internal dan tertutup bersama pengurus daerah.

Dalam kesempatan tersebut, SBY yang juga didampingi istrinya Ani Yudhoyono enggan memberikan pernyataan apapun di hadapan pewarta yang menunggunya sejak pagi.

Sembari mendapat pengawalan ketat, orang nomor satu di Indonesia periode 2004-2014 tersebut tak menghentikan selangkah pun menuju mobil, meski para pewarta melontarkan sejumlah pertanyaan.

“Tidak ada, tidak ada,” sahut SBY singkat.

Menjelang Kongres Partai Demokrat yang rencananya digelar Maret 2015, Surabaya disebut-sebut menjadi kota terkuat sebagai lokasi ajang musyawarah tertinggi partai itu.

Menurut Ketua DPD Partai Demokrat Jatim Soekarwo, persiapan panitia kongres dalam tahap penyusunan peraturan terkait mekanisme pemilihan ketua umum.

Gubernur Jatim tersebut pernah menyatakan dukungan ke SBY untuk kembali menduduki ketua umum terbuka lebar setelah hampir 100 persen DPC dan DPD se-Indonesia mendukungnya.

“Kalau ketua umumnya tetap Pak SBY maka pasti ada perubahan di posisi sekjen, sebab tidak etis jika ayahnya ketua, kemudian anaknya sekjen,” kata Pakde Karwo, sapaan akrabnya. (ant/BJ)