Home Headline Save TBRS Mulai Berkobar dari Kampus

Save TBRS Mulai Berkobar dari Kampus

Pintu gerbang TBRS yang akan digusur menjadi Trans Studio Semarang.

Pintu gerbang TBRS yang akan digusur menjadi Trans Studio Semarang.

Semarang, 23/3 (BeritaJateng.net) – Lima kelompok teater yang tumbuh kembang di kampus UIN Walisongo Semarang telah sepakat menolak rencana pembangunan Trans Studio di komplek Taman Budaya Raden Saleh (TBRS).

Lima kelompok teater meliputi Teater Asa, Metafisis, Beta, Wadas, dan Mimbar. Mereka menyuarakan penolakan itu dengan menggelar performance art, Senin (23/3/2015) pukul 11.45 WIB di Gerbang kampus 3 UIN Walisongo Semarang.

Aksi diawali dengan upacara bendera yang diikuti oleh orang-orang, yang disimbolkan sebagai pekerja seni (tari rakyat, dalang, reog, dan sebagainya). Di akhir pentas, mereka juga merobek bendera bertuliskan Trans Studio, sehingga bendera yang berkibar hanya yang bertuliskan TBRS.

Selain itu, seniman-seniman muda ini akan melakukan orasi budaya, menyatakan sikap dan sepakat terhadap 10 poin pernyataan seniman dan warga, yang telah dibacakan saat pertemuan dengan Walikota Hendrar Prihadi di TBRS.

Sekilas TBRS

Nama TBRS berasal dari nama seorang pelukis terkenal asal Semarang, yaitu Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880). Tempat yang memiliki luas lahan ± 89.926 m2 ini sebelumnya digunakan untuk kebun binatang. Setelah dipindah, taman ini kemudian digunakan sebagai pusat kesenian dan kebudayaan, serta sebagian menjadi Taman Rekreasi Keluarga Wonderia.

Di dalam kompleks TBRS, terdapat empat bangunan utama. Yakni Gedung Serba Guna (GSG), Gedung Kesenian Ki Narto Sabdho, Kantor Pengelola TBRS, dan Kantor Dewan Kesenian Semarang (Dekase).

Gedung Kesenian Ki Narto Sabdho secara rutin digelar pertunjukan wayang orang oleh Ngesti Pandawa setiap Sabtu Malam. Pertunjukkan wayang kulit juga digelar setiap Malam Senin Pahing. Selain itu, juga ada pertunjukan musik keroncong dari Komunitas Keroncong setiap bulan di Rabu terakhir. Sedangkan di GSG digunakan untuk pertunjukan wayang kulit dari dalang-dalang kenamaan Jawa Tengah, yang digelar setiap malam Jumat Kliwon. GSG juga sering digunakan untuk pementasan teater oleh Forum Teater Kampus Semarang, terutama setiap Malam Selasa Pahing.

Selain untuk berbagai pertunjukan rutin yang telah banyak penggemar dan juga wisatawan yang datang untuk melihat tersebut, TBRS juga sering menjadi tempat untuk pertunjukan musik dan tari yang biasanya menempati area Teater Terbuka yang terletak di belakang Kantor Dekase.

Tentu TBRS tidak hanya berdenyut di malam hari dengan berbagai pertunjukan yang digelar. Saat siang hingga sore, taman budaya yang selalu terasa teduh ini ramai dengan aktivitas generasi muda yang sedang berlatihan teater, puisi, musik, dan tari di tiga bangunan joglo yang ada di dalamnya.

Komplek TBRS juga meliputi kawasan wisata Wonderia, Perpustakaan Wilayah Jawa Tengah yang menjadi pusat rujukan literatur mahasiswa dan penggemar baca Jawa Tengah. Kondisi keramaian dan sebagai pusat jangkauan yang nyaman, memberikan peluang rizki sendiri bagi para pedagang untuk mengais penghasilan dari para pengunjung.

Alasan Penolakan Trans Studio

1. Bahwa pembangunan Trans Studio di Komplek TBRS adalah privatisasi ruang publik. Jumlah dan persentasenya ruang publik di Semarang sudah kurang di Kota Semarang, seharusnya ditambah, bukannya dikurangi lagi.

2. Penandatanganan MoU Pemkot dengan PT Trans Ritel Property tidak didahului pembicaraan dengan entitas TBRS. Dan ini sekali lagi membuktikan Pemerintah Kota Semarang lupa melibatkan masyarakat dalam pembangunan-pembangunan di Kota Semarang

3. Pemilihan tempat di Komplek TBRS (Wonderia dan TBRS) tidak bijak, seharusnya di lokasi lain yang tidak di tengah kota untuk tujuan pemerataan pusat keramaian dan pengembangan kota.

4. Pengalihan fungsi TBRS jadi Trans Studio melanggar Perda 14/2011 tentang RTRW. Dalam Pasal 86, huruf g angka 13 disebutkan kawasan TBRS di Kecamatan Candisari sebagai pasar seni yang masuk dalam kawasan pengembangan dan peningkatan wisata alam dan cagar budaya.

5. TBRS adalah identitas kota yang sudah mengalami proses panjang dan memiliki sejarah sekian lama. Mengubah atau menghilangkan TBRS sama saja menghilangkan identitas kota dan mengurangi satu lagi indikator sebagai kota layak huni.

6. Transportasi di sekitar TBRS sudah krodit, pembangunan/pelebaran jalan tidak menyelesaikan masalah, justru pemerintah harus membangun transportasi massal yang aman, murah, mudah, dan tepat waktu. Di samping membuat desain pembangunan yang lebih merata sehingga lalu lintas tidak menumpuk di tengah kota.

7. Trans Studio mengancam pengurangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Semarang yang sudah sangat kecil persentasenya. Kawasan TBRS masuk wilayah Kecamatan Candisari yang mana mempunyai persentase RTH terkecil di Semarang, hanya 6 persen. Pohon-pohon besar berusia ratusan tahun di TBRS merupakan penopang paru-paru kota. Kami melihat pembangunan Trans Studio tidak akan bisa mempertahankan RTH tersebut. TBRS juga memiliki sendang yang airnya menopang kehidupan warga sekitar. Dikhawatirkan akses air bagi warga akan tertutup jika TBRS beralih menjadi Trans Studio

8. Soal wacana akan menyinergikan seniman dengan Trans Studio, kami anggap bukan solusi. Sebab sudah banyak kasus dalam pembangunan privatisasi ruang publik, adanya janji akan melibatkan masyarakat hanya angin surga yang tak pernah direalisasikan. Contoh: Wisma Pancasila yang kini jadi Krakatau Ballroom Hotel Horison, Gedung GRIS, dan Wonderia.

9. Trans Studio tidak dinikmati oleh bagian terbesar masyarakat semarang, hanya orang berduit yang bisa masuk karena harga tiket yang mahal. Justru pemkot harus memperhatikan pariwisata yang murah dan nyaman di Kota Semarang yang bisa dijangkau semua kalangan.

10. Sebagai ibukota provinsi, pemkot harus membangun strategi kebudayaan yang jelas didukung fasilitas ruang proses seni budaya. Mendukung pemkot untuk membangun TBRS dengan perspektif kebudayaan sebagai wujud poin ketiga dalam Trisakti Bungkarno yakni berkepribadian dalam kebudayaan. (BJ)