Home Headline Satpol PP Eksekusi 26 Bangunan di Ngemplak Simongan

Satpol PP Eksekusi 26 Bangunan di Ngemplak Simongan

Alat berat diturunkan untuk meratakan bangunan liar di Ngemplak Simongan.

Semarang, 7/9 (BeritaJateng.net) – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang melakukan eksekusi pembongkaran 26 hunian di Kampung Karangjangkang, Kelurahan Ngemplak Simongan, Selasa (7/9/2021).

Giat pembongkaran dilakukan berdasar pada putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Kota Semarang.

Petugas mengerahkan dua alat berat untuk membongkar bangunan. Adu mulut antara warga dan petugas pun sempat mewarnai proses eksekusi tersebut.

Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwoto mengatakan bangunan tersebut telah menjadi sengketa sejak lama.

Beberapa tahapan sudah dilalui. Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang telah memberikan surat peringatan satu hingga tiga. Rekomendasi segel dan rekomendasi bongkar juga sudah dilayangkan.

“Pihak kuasa hukum (warga) mengkomplain Distaru kaitan SP 1 dan SP 2, tapi kemarin di gugatan kalah, keputusan PTUN Nomor 50 tahun 2021 tanggal 26 Juli. Kami sudah sampaikan ke warga. Rupanya, kuasa hukum tidak pernah cerita,” terang Fajar, usai pembongkaran.

Menurutnya, pembongkaran kali ini merupakan tahap ketiga. Sebelumnya, petugas telah membongkar 24 lapak pedagang kaki lima (PKL) pada tahap pertama dan 11 rumah pada tahap kedua.

Pembongkaran tahap selanjutnya menunggu kuasa hukum pemilik tanah mengajukan permohonan bongkar kepada Distaru.

Sementara itu, Kuasa Hukum pemilik tanah, Rizal Thamrin mengatakan, giat kali ini merupakan penegakan perda terkait izin mendirikan bangunan di atas tanah milik orang lain.
https://lightsailed.com/homeschool/wp-content/languages/new/resume-helper.html

“Tanah ini milik klien kami. Kemudian ditindaklanjuti SP 1, 2, 3, penyegelan, dan pembongkaran. Kemudian, mereka menggugat ke PTUN, ditolak.
https://lightsailed.com/homeschool/wp-content/languages/new/homework-help-online.html

Sehingga, hari ini dilaksanakan pembongkaran oleh Satpol PP,” terangnya.

Pembongkaran tersebut berdasarkan permohonan dari pemilik tanah Puthut Sutopo. Pihaknya sudah membuktikan sertifikat kempemilikan tanah dan akte jual beli.

Pihaknya mengaku sudah menempuh sesuai prosedur hukum yang benar.

“Proses pembongkaran sudah kami sosialisaiskan sejak 2011, tapi tidak ada respon. Sudah ada pemberitahuan waktu itu, bahkan sudah ada yang mendapatkan tali asih,” katanya.

Setiap rumah, kata dia, mendapatkan tali asih sebesar Rp 40 juta. Sementara ini, sudah ada 15 rumah dari total 61 rumah yang telah menerima tali asih.

Sejumlah warga menyampaikan aspirasinya dengan cara berteriak saat pembongkaran.

Mereka meminta keadilan atas pembongkaran rumah miliknya.

Bu Slamet, salah satu warga yang rumahnya dieksekusi menyebut, seharusnya warga diberi toleransi untuk mengeluarkan barang-barangnya dan mencari rumah atau kontrakan terlebih dahulu.

Pembongkaran dianggap mendadak oleh sejumlah warga.

“Kemarin mau ada pembongkaran, kami sudah cari tempat kontrakan, ternyata tidak jadi, kembali lagi. Sampai tiga kali Juni, Juli, Agustus,” ucapnya.
https://lightsailed.com/homeschool/wp-content/languages/new/do-my-homework-app.html

Warga lain yang enggan disebutkan nama berharap gubernur dan wali kota mengetahui apa yang ditimpa warga. Dia meminta ada jalan tengah untuk keadilan.

“Pak Gubernur, Pak Wali Kota, kami mohon keadilan. Saya minta jalan tengah,” ucapnya. (Ak/El)