Home News Update Sarjana Kedokteran Termuda se-Indonesia dari Unissula

Sarjana Kedokteran Termuda se-Indonesia dari Unissula

Rafidah Helmi, Sarjana Kedokteran Termuda se-Indonesia dari Unissula

Semarang, 17/4 (BeritaJateng.net) –¬†Menjadi Sarjana Kedokteran termuda se-Indonesia tidak lantas menjadikan langkahnya terhenti dan berpuas diri. Bagi gadis bernama lengkap Rafidah Helmi kelahiran Sukabumi, 31 Juli 1998 semua prestasi yang diperolehnya tidak lepas dari peran keluarga yang selalu mendukungnya.

Fifi (sapaan akrabnya) mengakui jika peran keluarganya sangat besar bagi dirinya. Orang tua selalu membiasakannya bersikap disiplin, sejak usia kanak-kanak ia sudah diajarkan untuk disiplin soal waktu.

“Biar bisa menggunakan waktu sebaik-baiknya. Mungkin dulu ngga kerasa seberapa pentingnya ngatur waktu, tapi kerasa banget waktu kuliah,” tutur gadis usia 17 tahun ini dengan senyum khasnya.

Menurut Fifi, jika tidak bisa mengatur waktu bisa ketinggalan moment penting. Putri Pasangan AKBP (Purn) Helmi, S.H dan Rofi’ah ini sangat memperhatikan pendidikan. Orang tua Fifi juga senang memberikan saran dan dukungan sedari kecil untuknya. Terbukti, Fifi bisa membaca dan menghitung juga berkat didikan orang tuanya.

Dijelaskannya, sewaktu masuk TK ia sudah bisa membaca dan menghitung dengan lancar. Tidak heran, jika hanya dalam waktu sehari Fifi berada di TK nol kecil dan pindah ke TK nol besar.

“Ayah selalu mencarikan sekolah dan tempat les yang bagus, selain itu juga memonitor dan sering antar jemput ke sekolah. Kalau Mama ngebantuin pas belajar jika ada yang susah,” papar anak ketiga dari tiga bersaudara ini.

Kakak-kakak Fifi juga berperan besar dalam perkembangan pendidikannya. Sebut saja, Rosalina Helmi, S.Ked dan dr. Riana Helmi, kakak-kakak Fifi ini juga sering membantu jika ada tugas yang baginya terlalu sulit terutama saat kuliah. “Bahkan sekedar tanya tentang hal-hal kecil kehidupan kuliah, kakak-kakak selalu bantuin,” imbuh Fifi.

Mahasiswi Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Fakultas Kedokteran yang menempuh pendidikan dengan cepat, seperti saat duduk di bangku sekolah TK Bhayangkari Sukabumi, lulus usia 4 tahun 9 bulan, kemudian di SDN Sriwedari I Sukabumi, lulus usia 9 tahun 9 bulan, berlanjut di SMPN 1 Cisaat, lulus usia 11 tahun 9 bulan, serta di SMAN 1 Kota Sukabumi, lulus usia 13 tahun 9 bulan. Hingga lulus dari Fakultas Kedokteran Unissula usia 17 tahun 8 bulan, menjadikan Fifi meraih predikat Sarjana Kedokteran Termuda se-Indonesia.

“Saya sejak kecil bercita-cita ingin menjadi dokter. Keinginan bertambah saat melihat kakak-kakak saya kuliah di Fakultas Kedokteran,” katanya sambil menceritakan pengalamannya dengan antusias.

Keinginan Fifi kuliah kedokteran diawali karena kakak-kakaknya saat mengobrol suka membahas pelajaran. Dari situ Fifi suka ingin ikut mengerti supaya bisa ikut mengobrol bersama kakaknya.

Baginya, pengalaman kuliah di Unissula sangat menyenangkan, didukung dengan suasana belajar yang nyaman, dosen hebat dan fasilitas yang lengkap. Fifi memilih kuliah kedokteran di Unissula berawal dari membaca brosur dari sekolahnya. “Pertama, karena saya tertarik dengan kampusnya dan mencoba mendaftar melalui jalur prestasi. Kedua, sewaktu kakak saya jadi dokter internship di Ungaran bersama-sama dengan dokter lulusan Unissula, kakak saya mengatakan bahwa lulusan Unissula itu cekatan dalam menangani pasien. Namun, ilmu kedokteran juga memang tergantung dari masing-masing orangnya,” jelas Fifi.

Memiliki Ayah yang berprofesi sebagai Dosen Polisi di Setukpa Lemdikpol Sukabumi (sudah pensiun) dan Mama seorang Wiraswasta, bagi Fifi orang tuanya sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya dan selalu memberi dukungan. “Mengenai pelajaran sering diajarkan oleh kakak Rosalina Helmi dan dibantu kakak Riana Helmi, karena kakak-kakak juga kuliah di Kedokteran,” imbuhnya lagi.

Fifi berkeinginan bisa menjadi dokter yang baik dan profesional, serta bermanfaat bagi orang lain. Motivasinya menjadi dokter berasal dari rasa bakti dan ingin membahagiakan orang tua.

“Saya bangga menjadi wisudawan termuda dan senang karena orang tua, kakak-kakak, dan teman-teman saya juga bangga kepada saya. Harapannya bisa lanjut kuliah lagi,” pungkas Fifi. (BJT01)