Home Hiburan Sambut Muktamar NU, PAC Fatayat NU Ambarawa Gelar Pameran

Sambut Muktamar NU, PAC Fatayat NU Ambarawa Gelar Pameran

Stand batu akik diserbu pengunjung Ambarawa Ekspo
Stand batu akik diserbu pengunjung Ambarawa Ekspo

Ambarawa, 18/5 (BeritaJateng.net) – Dalam rangka turut mensukseskan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33, yang akan digelar pada bulan Agustus 2015 di Jombang, Jawa Timur, Pimpinan Anak Cabang (PAC Fatayat NU) Kecamatan Ambarawa bekerjasama dengan Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Ambarawa menggelar rangkaian kegiatan “Pra-Muktamar NU ke-33 yang dikemas dalam Ambarawa Expo, Pentas seni dan Budaya, Sarasehan, Ambarawa Bershalawat dan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW” di Gedung Pemuda Ambarawa, Kamis-Sabtu (14-16/5).

Menurut Ketua Fatayat NU Ambarawa Alfi Siti Alfijah mengatakan, rangkaian kegiatan tersebut antara lain Ambarawa Expo, dalam kegiatan tersebut dihadiri oleh 20 Stand Batu Mulia/Batu Akik.

“Ini merupakan respon positif, karena fenomena yang belakangan ini bergulir kencang di kalangan masyarakat Indonesia. Di luar dugaan, animo masyarakat terhadap Expo Batu Mulia/Batu Akik ini, ternyata sangat luar biasa. Pengunjung yang datang, tidak hanya berasal dari Ambarawa Raya (Ambarawa dan sekitarnya) saja, tetapi juga datang dari luar kota, seperti Salatiga, Semarang, bahkan Surakarta. Karena itulah, stand Batu Mulia/Batu Akik, dibuka sejak pagi dan baru tutup pada dini hari,” ujar Alfi Siti Alfijah, Senin (18/5).

Selain pameran batu akik lanjut Alfi, Stand Kedai Kopi Kelir juga tidak pernah sepi dari para penikmat kopi. Sampai-sampai, Tim Kedai sedikit kewalahan melayani pembeli. Bahkan, pada hari pertama dan kedua, Tim Kedai terpaksa membeli air panas dari warung depan Gedung Pemuda, karena kehabisan stok air. Padahal, Tim Kedai selalu membawa 2 (dua) galon air, setiap harinya.

“Stand UKMM Kabupaten Semarang juga turut meramaikan, selain itu Stand HIMASAL (Himpunan Santri Alumni Pondok Pesantren Lirboyo), yang menyajikan ratusan judul buku dan kitab. Stand Kerajinan Kulit, Stand Kaos National Geographic, Stand Busana, Stand Obat Herbal dan Stand Lukisan karya Kaum Muda NU Ambarawa,” tambahnya.

Kegiatan selanjutnya menurut Alfi, adalah Pentas Seni dan Budaya, ditampilkan pada Acara Pembukaan Pra-Muktamar NU ke-33 di Gedung Pemuda Ambarawa Kamis, 14 Mei 2015, pada pukul 12.00 WIB. Diawali dengan Pentas Seni Barongsai dari Klenteng Ambarawa.

“Sebagaimana kita ketahui, NU pernah mencapai puncak kegemilangan di negara ini, dimana salah satu kader terbaiknya, yaitu Gus Dur, pernah memimpin bangsa Indonesia, menjadi Presiden Republik Indonesia. Pada saat menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia itulah, pada bulan Januari 2001, Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Imlek menjadi hari libur nasional. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa. Sejak saat itulah, Seni Barongsai boleh tampil kembali. Atas dasar itulah, maka, panitia acara ini memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada teman-teman pegiat Seni Barongsai Ambarawa, untuk pentas di tengah-tengah acara Pra-Muktamar NU ini,” terang Alfi.

Selain itu, tampil pula Seni Kuda Lumping dari Baran Dukuh, Ambarawa. Dan pada acara inti, adalah Sarasehan Bersama KH. M. Imam Aziz (Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama/PBNU), yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 16 Mei 2015, pukul 08.00 – 12.00 WIB.

“Pada kesempatan tersebut, KH. M. Imam Aziz memaparkan tema besar yang diangkat pada Muktamar NU ke-33, yaitu “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”,” tambahnya.

Menurut KH. M. Imam Azis yang juga Ketua Muktamar NU ke-33, menjelang seratus tahun NU, tema tersebut dipilih untuk menunjukkan posisi strategis NU di Indonesia dan dunia sebagai pengusung Islam rahmatan lil ‘alamin. Bahwa Islam bukan hanya aqidah dan syariah semata, tapi ilmu pengetahuan dan peradaban.

“NU, sejak didirikan, sekarang, dan seterusnya akan mendukung peradaban. Sayangnya, saat ini, justru wajah dunia Islam tidak tampil sisi peradabannya, melainkan konflik, kekerasan, dan gejolak pepeperangan. Di Afghanistan dan Somalia, misalnya, hampir seratus persen berpenduduk muslim, tapi konflik tak kunjung mereda, justru semakin berkecamuk. Tema tersebut sangat relevan untuk saat ini, karena dunia Islam, saat ini sedang “dibakar” oleh kebencian dan permusuhan, yang merobek jati diri Islam yang mempromosikan “salam”, kedamaian,” terangnya. (BJ)