Home Headline ‘Rumah Aira’, Tempat Bagi Anak dan Penyintas ODHA Semarang

‘Rumah Aira’, Tempat Bagi Anak dan Penyintas ODHA Semarang

SEMARANG, 11/5 (BeritaJateng.net) – Semarang kini punya Rumah Aira, rumah bagi anak dan penyintas Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Rumah Aira yang beralamat di Jalan Kaba Timur No.14 Tandang, Tembalang Kota Semarang diresmikan langsung oleh Walikota Semarang Hendrar Prihadi, Jumat.

Berdirinya Rumah Aira menjadi sejarah bagi Kota Semarang, menunjukan jika kota yang dipimpin oleh Hendrar Prihadi ramah bagi orang atau anak yang terkena HIV AIDS.

Di Rumah Aira anak korban HIV/AIDS dan ODHA bisa hidup dan memiliki kesempatan yang sama layaknya orang sehat pada umumnya.

Rumah Aira didirikan oleh Maria Magdalena, dia seorang perawat di rumah sakit ternama di Kota Semarang. Mencurahkan hidupnya bagi anak-anak korban HIV/AIDS yang bersumber dari orang tua mereka.

Perjuangan Maria Magdalena mendirikan Rumah Aira sudah berjalan sejak delapan tahun lalu dengan awalnya menempati sebuah rumah tinggal kontrak, tak jauh dari Rumah Aira yang kini diresmikan oleh Walikota Semarang itu.

Nama Rumah Aira, juga diambil dari nama bayi mungil bernama Aira, korban ODHA dari orang tuanya sebagai penghuni pertama rumah tersebut. Magdalena mengadopsi dan membesarkan hingga sekarang.

“Ibu dan anaknya, saya sering menemukan itu, rupanya mereka beresiko HIV karena suami atau ayahnya penderita ODHA. Mereka ikut dikucilkan, padahal mereka adalah korban dan terlahir bukan karena salah si anak,” kata Lena, sapaan akrabnya.

Lena melihat, Rumah Aira adalah wujud rasa kasihan dan sayang serta kepedulian besar akan fenomena yang menyedihkan penderita HIV, terutama ibu dan anak-anak terinfeksi atau resiko terkena virus yang belum ada obatnya ini.

Bahkan sampai sekarang, kata Lena, masih jarang ada pihak yang peduli akan kelangsungan hidup mereka.

“Mereka ada ditengah-tengah kita, media tak perlu lagi menyembunyikan identitas mereka, ataupun disamarkan wajahnya, kok mereka seperti penjahat saja,” jelasnya.

Yayasan Rumah Aira sudah ada sejak 2015, untuk membimbing dan ikut merawat kesehatan ibu dan bayi yang resiko atau positif HIV AIDS. Penghuninya bukan saja dari Semarang, ada dari luar dan antar pulau.

Rumah Aira juga sebagai tempat mengedukasi masyarakat untuk tidak menjauhi ODHA, bahwa yang harus dijauhi adalah penyakitnya bukan orangnya.

“Orang dengan ODHA belum ada yang menampung dan masih ditutupi, itu justru cenderung membuat rasa takut lebih besar dan menyiksa diri mereka sendiri dan membuat tak nyaman,Yayasan dan Rumah Aira ada untuk mereka,” katanya.

Perjuangannya kini membuahkan hasil dengan mendirikan secara permanen banguan Rumah Aira yang lebih representatif dan nyaman.

Lena juga punya program masa depan para penghuni Rumah Aira, dengan membukakan tabungan pribadi bagi penghuni ‘Rumah Aira’.
“Sehingga bila mendapatkan bantuan dari pihak donatur maka dana yang ada bisa disimpan. Dana tabungan mereka akan diperuntukan untuk biaya sekolah,” katanya.

Di tempat Rumah Aira yang baru ini, Lena juga membuka tempat usaha untuk dapat bertahan hidup secara mandiri.

Di antaranya membuka salon kecantikan, sanggar senam, dan sanggar belajar Aira bagi seluruh masyarakat.

Lena pun berharap, keberadaan Rumah Aira bisa bermanfaat bagi siapapun terutama anak dan ibu HIV agar mereka hidup normal.

Dulu Ditolak, Kini Diapresiasi LEPRID

Diawal pendirian Rumah Aira sempat mendapat pertentangan warga sekitar, meski tak secara langsung.

“Karena warga belum mengerti saja, setelah sosialisasi terus menerus akhirnya warga menerima dengan terbuka,” katanya.

Lebih lanjut, informasi yang lengkaplah sebenarnya yang dibutuhkan warga jika orang dengan HIV AIDS bukanlah untuk dihindari tapi penyakitnyalah yang harus dihindari.

“Kami mengenalkan penghuni Rumah Aira, bahkan warga sampai anak-anak sekarang sering main di Rumah Aira, suadah tak ada batas lagi,” tambahnya.

Karena kegigihannya, Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) akhirnya menyematkan rekor Rumah Aira dengan title ‘Lingkungan yang Mendukung dan Menerima Rumah Aira sebagai rumah penampung penderita HIV AIDS’.

“Warga disini menerima terbuka dan menganggap orang ODHA adalah warga seperti biasa, tidak ada diskriminasi inilah yang melatarbelakangi Leprid menyematkan pada Rumah Aira,” katanya.

Walikota Semarang Beri Apresiasi

Sementara itu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengapresiasi Maria Magdalena dalam mendirikan Rumah Aira.

Menurut walikota, kepeduian luar biasa ditunjukan Maria Magdalena untuk bisa merangkul masyarakat untuk tidak menjauhi dan memusuhi ODHA.

“Beliau memberikan contoh yang bagus kepada kita, bahwa Odha hendaknya tidak boleh dimusuhi dan dijauhi. Justru yang harus dimusuhi itu penyakitnya, bukan orangnya,” ujar Hendi, usai meresmikan.

Menurut Hendi, edukasi yang baik diperlukan dengan tujuan untuk menghilangkan kekeliruan dan salah paham yang masih banyak terjadi di masyarakat luas.

Pada kesempatan tersebut, Hendi, sapaan akrab Wali Kota Semarang, turut menyapa para penghuni ‘Rumah Air, yang beberapa diantaranya merupakan anak-anak kecil berusia sekolah.

Hendi memberikan kesempatan terbuka kepada penghuni ‘Rumah Aira untuk berkoordinasi dengan dinas-dinas terkait di Pemkot Semarang agar mendapatkan hak yang sama seperti orang lain pada umumnya.

”Odha justru harus dibantu, kami pasti memberikan akses yang seluas-luasnya, yang bisa disampaikan melalui lurah dan camat, agar penghuni ‘Rumah Aira’ bisa tinggal dengan nyaman,” kata Hendi.

Misalnya saja, kata Hendi, ”Rumah Aira” bisa berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) pada saat butuh obat maupun penanganan medis lainnya.

Selain itu, bisa melakukan koordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukpencapil) saat hendak mengurus akta, e-KTP, maupun dokumen-dokumen lain. (El)