Home Lintas Jateng Ratusan Kera Turun Gunung Rusak Ladang Warga

Ratusan Kera Turun Gunung Rusak Ladang Warga

image
Ilustrasi

Kudus, 6/1 (Beritajateng.net) – Ratusan ekor kera yang ada di hutan kawasan Gunung Muria, sejak sejak sebulan lalu turun ke ladang penduduk. Turunnya binatang tersebut bukan sebagai pertanda adanya aktivitas gunung atau terjadinya kebakaran hutan, namun lebih karena kebutuhan mencari makan.

Kera yang turun tersebut jumlahnya bisa ratusan dan yang menjadi sasaran adalah puluhan hektar tanaman jagung milik petani yang sebagian besar ladang milik warga Dukuh Semliro,  Desa Rahtawu.

”Kalau jumlah kera yang ada di Gunung Muria jumlahnya ribuan, tetapi yang turun gunung setiap hari hanya ratusan eor. Jumlah yang turun semakin banyak ketika ladang yang ditanami jagung mulai berbuah,” terang Kaur Pembangunan Desa Rahtawu, Sahir saat ditemui Beritajateng.net di Kantor Desa Rahtawu, Selasa (6/1).

Kebiasaan kera merusak tanaman sebenarnya, lanjutnya, sebenarnya sudah disadari warga. Akan tetapi tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa.

Untuk mengantisipasi serangan ladang oleh binatang-binatang tersebut, warga melakukannya dengan membuat suara berisik.

”Biasanya warga memanfaatkan bekas kaleng susu diisi kerikil lalu digantung kemudian digoyang-goyang menggunakan tali dari kejauhan,” tambahnya.

Walau sebagian besar lading jagung sudah dipanen, lanjutnya, namun hingga sekarang serangan kera masih berlangsung namun intensitasnya menurun.

Serangan terbesar biasanya terjadi pada bulan November hingga Desember, saat musim tanaman jagung mendekati panen.

”Serbuan kera ke lahan jagung sebenarnya biasa terjadi setiap tahun. Binatang tersebut datang setiap saat, kadang pagi, siang atau malam hari dengan jumlah mencapai ratusan ekor,” tambahnya.

Bahkan, masih kata Sahir, kera-kera itu berkeliaran hingga jalan-jalan desa. Tetapi, begitu melihat manusia, binatang itu langsung lari kembali ke hutan. Menurutnya, binatang itu seperti sudah punya jadwal tetap untuk turun gunung dan tidak ada warga yang berani mengusiknya.

”Beberapa tahun lalu perburuan terhadap kera sering terjadi oleh warga dari luar Desa Rahtawu namun tak lama para pemburu itu menghentikan aktivitasnya. Alasannya berbau mistik, mereka takut terjadi sesuatu,” imbuhnya.

Terpisah Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan, Budi Santoso memanggapi adanya fenomena tersebut mengatakan, kerusakan tanaman jagung di Rahtawau yang disebabkan serangan kera berkisar antara 10 sampai 20 persen dari total lahan sekitar 100 hektare.

”Ladang tanaman jagung yang diserang biasanya jauh dari rumah warga. Selain itu banyak petani yang menjaga ladangnya dari gangguan kera dan tanaman palawija lain juga mengalami hal serupa, tetapi jumlahnya relatif lebih kecil,” pungkasnya. (BJ12)