Home Hiburan Rano Karno Teteskan Air Mata Saat Peluncuran Buku Autobiografinya

Rano Karno Teteskan Air Mata Saat Peluncuran Buku Autobiografinya

Rano Karno Teteskan Air Mata Saat Peluncuran Buku Autobiografinya

Jakarta, 3/10 (BeritaJateng.net) – Artis senior Rano Karno mengaku sempat mempunyai persepsi yang salah mengenai kapan seharusnya buku biografinya dibuat.

“Saya dulu punya persepsi bahwa biografi ditulis setelah sudah meninggal. Tapi, itu salah. Kalau sudah meninggal apa yang mau dipelajari?” kata Rano di Indonesia International Book Fair, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Minggu (2/10/2016).

Dibantu beberapa rekannya, Rano akhirnya menuangkan perjalanan hidupnya dalam sebuah buku yang diberi judul Rano Karno: Si Doel , yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama.

Buku tersebut menceritakan kehidupan Rano Karno, dari masa kecil, kiprahnya di dunia hiburan, hingga menjadi orang nomor 1 di Provinsi Banten.

“Saya agak surprised bisa menulis buku ini,” kata dia.

Rano mengakui meskipun terbiasa menulis skenario untuk sinetron dan film, menulis sebuah buku bukanlah hal mudah baginya.

“Saya menulis cerita Si Doel mudah, saat menulis biografi ini ternyata tidak gampang,” ucapnya.

Dalam acara peluncuran tersebut, sempat diwarnai dengan Rano Karno menangis. Air mata Rano tak tertahan saat Maman Suherman sebagai moderator menanyakan tentang keinginan terakhir sang ibu Lily Istiarti yang belum sempat diwujudkan Rano.

“Sebagai seorang gubernur nggak apa-apa menangis kan?, saya nggak tahu kenapa dia (ibu) ingin pulang kampung ke tempat suaminya (Sukarno M. Noor). Ibu saya minta Desember 2015 ingin ke Bonjol, Padang,” kata Rano

“Karena selama ibu saya menikah dengan ayah saya belum pernah kesana. Akhirnya saya janji, sebetulnya jujur saya agak basa-basi karena harus mengajak semua cucu – cucunya,” lanjutnya.

Keinginan sang ibu belum sempat diwujudkan oleh artis yang kini berusia 55 tahun itu, karena sang ibu harus pergi meninggalkan Rano selamanya pada 7 Desember 2015 lalu.

“Akhirnya setelah itu saya ke Bonjol sama istri saya. Disana ada sebuah surau yang dibangun keluarga almarhumah ayah saya dan ibu saya ingin sekali sholat di surau itu,” jelas Rano Karno.

“Akhirnya saya membawa dan meninggalkan sajadah serta mukena ibu saya di surau itu, dengan begitu saya beranggapan ibu saya sudah sampai di kampung halaman ayah saya,” tutup Gubernur Banten itu. (Bj40)

Comments are closed.