Home Nasional Radikalisme Dapat Berbasis Agama dan Non Agama

Radikalisme Dapat Berbasis Agama dan Non Agama

image

Semarang, 30/6 (BeritaJateng.net)-Forum Silaturahim Santri (Forsis) bekerjasama dengan Ponpes Luhur Wahid Hasyim mengadakan Halaqoh “Mengenal & Menangkal Ideologi Radikal” di Masjid Universitas Wahid Hasyim, Selasa (30/6). Acara dihadiri oleh Ahmad Fauzi (Lentera Budaya: peneliti sejarah gerakan kiri Indonesia), KH Haidar Ali (pengasuh Ponpes Luhur Wahid Hasyim) dan Sumanto Al Qurtubi, Ph.D (Dosen  King Fahd University Saudi).

Diskusi tersebut didasari atas keprihatinan terhadap ideologi radikal yang berkembang di internet. Alasan diadakannya diskusi tersebut untuk mengajak rekan-rekan mahasiswa supaya terus menjadikan pancasila sebagai falsafah pemikiran berbangsa dan bernegara. Pancasila saat ini sedang digerogoti oleh radikalisme.

Percuma adanya santri dan mahasiswa bila radikalisme masih terjadi. Hal itu disampaikan KH. Haidar Ali. Radikalisme dalam Islam menurutnya terbagi menjadi 2, yaitu radikalisme internal Islam dan radikalisme eksternal Islam. “Radikalisme internal Islam merupakan kekerasan yang dilakukan terhadap sesama umat Islam. Misalnya, saling menuduh bid’ah. Sedangkan radikalisme eksternal Islam merupakan kekerasan yang dilakukan terhadap kaum non Islam, seperti pengeboman, “paparnya.

Selanjutnya, Ahmad Fauzi pun menambahkan dan mengulas gerakan radikal yang mengakar dari ideologi. Berdasarkan penuturannya, ideologi pada akarnya merupakan sesuatu yang sangat diidolakan dan disembah. “Ideologi sangat menakutkan bila disisipi agama dan diputarbalikkan. Sehingga menjadikannya sebagai ideologi radikal, “jelasnya.

Pada konteks ke Indonesiaan, hal ini merupakan sosial transformasi masyarakat, membentuk masyarakat baru, masyarakat tanpa kelas. Kemudian, hal ini diplintir oleh kelompok radikal. “Kita di sini membangun masyarakat baru yang didasari tradisi atau warisan. Oleh karena itu tidak perlu takut dikatakan bid’ah. Al Qur’an telah memerintahkan untuk membangun masyarakat yang didasari atas tradisi, “imbuhnya.

Sepuluh tahun hidup di Amerika Serikat dan tahun terakhir menjadi profesor di Arab Saudi membuat Sumanto Al Qurtubi, Ph.D dikatakan berpikiran liberal. Pada kenyataannya memang ia masuk di kampus liberal. Tidak ada Negara di dunia ini yang suka dengan radikalisme. Radikalisme ungkapnya bukan hanya berbasis pada agama. Bisa berbasis etnis, ideologi, sekularisme dan politik. Pada kelompok-kelompok yang tidak mengenal Tuhan (atheis) juga ada. “Di Amerika berkembang kelompok radikal bukan dari agama, namun non agama. Seperti penindasan pada kaum berkulit hitam yang didominasi oleh kaum kulit putih. Ini masuk pada kategori radikalisme berbasis etnis, “ungkapnya.

Sebetulnya, Amerika juga ingin selalu menyelesaikan problem radikalisme, karena mengganggu stabilitas ekonomi dan politik. “Amerika Serikat bila dilihat dari jauh terkesan sekuler dan radikal. Namun, bila dilihat lebih dekat sebenarnya religius. Begitupun di Arab Saudi, “tambahnya.(BJT01)