Home Headline Puasa Mendidik Umat Tingkatkan Toleransi

Puasa Mendidik Umat Tingkatkan Toleransi

390

SEMARANG, 12/5 (Beritajateng.net) – Pelaksanaan ibadah puasa Ramadlan tidak hanya untuk menjalankan perintah agama namun manfaat puasa juga untuk mendidik toleransi antar umat beragama.

Rektor Universitas Wahid Hasyim Semarang (UNWAHAS) Prof. Dr. Muhtarom mengungkapkan, Dengan toleransi yang tinggi akan tercipta kehidupan berbangsa yang aman, tenteram dan damai.

“Salah satu manfaat Puasa Ramadlan bagi umat Islam adalah mendidik toleransi baik dengan sesama maupun dengan umat lain agar tercipta kehidupan yang aman, nyaman dan damai,” ungkapnya dalam Buka Puasa dan Sarasehan Antar Agama yang diselenggaran oleh Yayasan Pendidikan Semesta di Gh Corner Resto Semarang, Minggu (12/5).

Selaku akademisi, Rektor universitas yang didirikan oleh Gus Dur ini menjelaskan, saat ini toleransi antar umat beragama sedang terkikis sehingga banyak ditemukan teror yang terjadi di beberapa
negara tidak terkecuali di Indonesia.

Melalui pendidikan di semua jenjang diharapkan tercipta manusia Indonesia seutuhnya yang tidak hanya mengejar ilmu semata namun juga pendidikan akhlak dan budi pekerti.

“Penguasaan ilmu pengetahuan saja tanpa diimbangi dengan karakter sangat berbahaya,” tegasnya.

Senada dengan Prof. Muhtarom, Pengurus Yayasan Pendidikan Semesta Abdul Karim mengatakan, kasus intoleransi yang saat ini banyak ditemukan berupa teror tempat ibadah tidak mencerminkan umat beragama tertentu karena semua agama mengajarkan kebaikan dan kedamaian.

Dengan mengutip pernyataan dari Fethullah Gullen, Abdul Karim yang asli Turki ini mengatakan, umat beragama tidak mungkin menjadi teroris dan teroris tidak mungkin umat beragama.

“Semua agama mengajarkan kedamaian. Sisi kemanusiaannya semua agama sama yang beda hanya soal ibadahnya,” katanya.

Sementara itu Ketua Yayasan Badan Wakaf Universitas Sultan Agung Semarang (UNISSULA) Hasan Thoha menegaskan bahwa Rasulullah Muhammad SAW merupakan figur yang sangat toleran. Hal itu dibuktikan semasa akhir hidup sampai wafat Rasulullah secara rutin mengunjungi seorang penganut Yahudi penderita tuna netra (buta) yang selalu mencaci Nabi Muhammad.

“Rasulullah setiap hari mengunjungi dan menyuapi si Yahudi buta padahal beliau selalu dicacimaki oleh si Yahudi. Ini dilakukan sampai Rasulullah meninggal,” jelasnya.

Sarasehan toleransi antar agama yang mengusung tema How can the places of worship be shaver ini juga menghadirkan pembicara tokoh tokoh lintas agama dan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Jateng dan Kota Semarang. Tokoh tokoh tersebut diantaranya Ahmad Taslim Ketua FKUB Jateng, Gouw Andi Siswanto Ketua Ikatan Tionghoa Indonesia (INTI) Jateng, Y Edi Riyanto (Katolik), Wesley Manurung (Kristen), Dyah Iswari (Budha), Wayan Sukarya (Hindu), Andi Gunawan (Konghucu), Haryanto Halim dan tokoh tokoh lintas agama lainnya.

(NK)