Home Headline Prihatin Penyerangan Jamaah Gereja Lidwina, Agustina Sarankan Perkuat Pendidikan Budi Pekerti

Prihatin Penyerangan Jamaah Gereja Lidwina, Agustina Sarankan Perkuat Pendidikan Budi Pekerti

SEMARANG, 12/02 (Beritajateng.net) – Penyerangan terhadap jamaah Gereja Lidwina di Yogyakarta dinilai sebagai tindakan biadab dan sangat tidak berperikemanusiaan. Umat kristiani diharapkan tidak terpancing untuk melakukan balas dendam.

Anggota MPR RI Agustina Wilujeng mengatakan, dia bersama umat kristiani lainnya ikut merasakan sakit, dimana orang sedang khusuk beribadah namun tiba tiba ada yang menyerang dengan brutal dan melukai jamaah menggunakan sebilah pedang.

“Saya yakin dan berani jamin kalau umat kristiani akan memaafkan serta tidak akan balas dendam,” ungkapnya usai memberikan sambutan dalam sosialisasi empat pilar, di Gedung Wanita Jalan Sriwijaya Semarang, Minggu (11/02) malam.

Agustina menjelaskan, ungkapan maaf dan sabar untuk tidak melakukan balas dendam umat kristiani sangat perlu dilakukan, namun sikap tersebut diyakini tidak memberikan jaminan peristiwa serupa tidak akan terulang kembali.

“Persoalannya adalah, apakah sikap ini cukup untuk menjamin peristiwa seperti ini tidak akan terulang lagi,” tanyanya.

Kebebasan menjalankan ibadah merupakan hak dasar warga negara yang harus dilindungi oleh negara oleh karena itu aparat keamanan harus meningkatkan kewaspadaan terhadap teror yang kemungkinan akan terjadi di masa yang akan datang.

“Saya apresiasi gerak cepat kepolisian yang cepat datang ke lokasi dan mengamankan tersangka,” katanya.

Politisi yang juga Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan ini melihat ada yang hilang pada sebagian generasi muda di Indonesia, dia menyoroti banyak kejadian yang menunjukkan hilangnya toleransi, rasa hormat terhadap orang yang lebih tua. Yang ada merasa dirinya paling benar.

“Banyak contoh seperti siswa tidak takut pada guru bahkan ada kasus siswa menghajar gurunya sampai tewas. Masih ada lagi anak tidak takut pada orang tua. Contoh lain ada anak sekolah sebuah SMP berani marah pada polisi gara gara ditilang. Padahal jelas jelas dia salah,” bebernya.

Untuk mengatasi semua itu, Agustina minta agar pendidikan Budi Pekerti dihidupkan dan diajarkan tidak hanya sisi teorinya saja tapi sampai pada aplikasi dalam kehidupan sehari hari.

“Menurut saya apa yang dilakukan di sekolah belum cukup. Karena masih terfokus pada pelajaran teori saja belum mengarah pada praktek dalam kehidupan sehari hari,” urainya.

Dia mencontohkan, bagaimana seorang anak di rumah harus diajarkan hormat terhadap orang tuanya, budaya cium tangan di keluarga dan di sekolah sangat relevan dalam upaya memberikan pendidikan pekerti.

“Siswa harus dilatih menumbuhkan empati terhadap penderitaan orang lain yang ada di sekitar sekolah maupun sekitar rumah tinggalnya,” katanya.

Melalui sosialisasi empat pilar, Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, Agustina yakin jiwa Nasionalisme masyarakat akan tumbuh karena dengan empat pilar bangsa, Republik Indonesia bisa berdiri kokoh sampai saat ini.

(NK)