Home News Update Potret Pendidikan di Semarang, 330 Guru Pensiun Belum Ada Pengganti

Potret Pendidikan di Semarang, 330 Guru Pensiun Belum Ada Pengganti

**Sekolah Dasar di Semarang Belum Punya Guru BK

Semarang, 3/12 (BeritaJateng.net) – Sebanyak 330 guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Semarang telah purna tugas alias pensiun. Jumlah tersebut meliputi guru Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dampaknya, posisi guru pengajar  berbagai mata pelajaran terjadi kekosongan.

Atas kondisi tersebut, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang kuwalahan untuk mengisi kekurangan guru tersebut. Bukan hanya itu, Sekolah Dasar (SD) di Kota Semarang sejauh ini belum memiliki guru Bimbingan Konseling (BK). Sehingga ketika ada permasalahan yang berdampak terhadap psikologi anak di lingkup SD, belum maksimal tertangani.

“Kami meminta agar pemerintah segera merekrut guru baru untuk mengisi kekurangan tersebut,” Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bunyamin di Balai Kota Semarang, Jumat (2/12).

Data terakhir yang diterima oleh pihaknya ada 330 guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kota Semarang yang pensiun. “Itu keseluruhan, baik SD, SMP, SMA maupun SMK. Kami masih melakukan pendataan lebih lanjut hingga akhir tahun ini,” katanya.

Kekosongan jabatan guru di berbagai mata pelajaran tersebut membuat Disdik Kota Semarang harus melakukan penataan. “Untuk mengisi kekosongan itu, kami menempatkan guru non PNS,” katanya.

Akibatnya, anggaran Disdik Kota Semarang terpaksa harus tersedot cukup banyak untuk menggaji guru non PNS tersebut. “Sesuai kebutuhan saat ini, kami masih membutuhkan 330 guru PNS. Saat ini masih kami hitung tuntas hingga akhir 2016. Guru pensiun itu kan enggak ada pengganti. Kami sudah matur ke Kementarian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, terkait kekurangan guru,” katanya.

Arah ke depan, kata Bunyamin, pihaknya juga berharap agar memiliki guru Bimbingan Konseling (BK) di tingkat SD.

Untuk setiap SD, saat ini kebutuhan 6 kelas ada 6 guru, 1 kepala sekolah, 1 administrasi, dan 1 penjaga sekolah. “Sedangkan untuk guru BK, SD tidak punya. Sebenarnya kami sudah mengajukan dan bekerjasama dengan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia,” katanya.

Dia mengaku, terkait kekurangan guru tersebut sudah melakukan koordinasi pihak terkait. Namun Bunyamin mengakui selama ini belum ada tindak lanjut secara optimal. Menurutnya, lingkup SD memerlukan guru BK. Mengingat persoalan sosial saat ini begitu kompleks. Seperti halnya belakangan ketika terjadi isu tawuran yang menimpa siswa SD.

“Perkembangan anak saat ini sangat pesat. Mereka telah mengetahui sesuatu lebih cerdas dan berbeda (dengan zaman dahulu). Terlebih di era seperti teknologi seperti ini. Maka perlu pendampingan,” ungkapnya.

Meski tidak memiliki guru BK, lanjut Bunyamin, sejauh ini pihaknya mengaku telah melakukan upaya pendampingan untuk mengantisipasi fenomena kenakalan yang menimpa peserta didik.  “Kami perlu memberikan perhatian lebih. Anak-anak seringkali meniru hal yang dilihat. Di luar sekolah, anak-anak juga suka mengunjungi lokasi yang bukan tempatnya. Sementara (pengawasan) orang tua juga terbatas,” katanya.

Maka untuk pendampingan terhadap siswa harus ditingkatkan dengan melibatkan semua guru di sekolah. Misalnya saja setelah ujian semester, biasanya sambil menunggu hasil ujian semester tersebut ada kegiatan class meeting. “Ada celah 1 minggu ini kan rentan (siswa melakukan hal-hal yang tidak diinginkan). Misalnya lomba antar sekolah ada kalah. Saya sudah menyampaikan ke semua pihak sekolah agar ada pendampingan dari guru,” katanya.

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, untuk menindaklanjuti kondisi sekolah dasar belum ada guru BK ini, pihaknya akan membuat program psikolog masuk sekolah.

“Kami akan libatkan psikolog agar bisa berperan. Saya rasa adanya psikolog lebih efektif. Ada guru Bimbingan Konseling pun belum tentu menguasai persoalan kejiwaan siswa atas problem yang dialami siswa, maupun latar belakang orang tua siswa seperti apa. Psikolog saya rasa lebih tepat untuk ekplorasi terhadap persoalan kejiwaan seperti itu,” katanya. (Bj/EL)

Advertisements