Home Headline Polrestabes Semarang Bongkar Sindikat Penyuntik Elpiji

Polrestabes Semarang Bongkar Sindikat Penyuntik Elpiji

Pelaku mempraktekkan cara menyuntik LPG
Pelaku mempraktekkan cara menyuntik LPG

Semarang, 10/2 (BeritaJateng.net) – Aparat Polrestabes Semarang membongkar tempat usaha pengoplos tabung gas elpiji berbagai ukuran. Tempat usaha untuk “mencuri” gas tersebut resmi alias berizin.

Dalam penggrebekkan tersebut, polisi mengamankan pelaku penyuntik gas yakni Agung Setiawan (25) dan Rozak Helmi Nugroho (26) keduanya warga Kalipancur, Ngaliyan Semarang. Pelaku lain yang diamanjan Istianah, warga Gunungpati, Agus Sutarto (29) dan Supriyanto (30) warga Bangetayu, Genuk.

Kepada polisi tersangka Agung mengatakan, usaha yang dilakukannya itu sudah berlangsung enam bulan dengan cara mengumpulkan tabung gas berisi tiga kilogram.

“Tabung melon kosong ditukarkan dengan tabung berisi di berbagai penjual tabung gas di Kota Semarang. Setelah terkumpul saya minta bantuan temen-temen (tersangka) untuk memindahkan semua isi tabung itu ke tabung besar isi 50 kilogram. Setelah itu tabung besar kita jual dengan harga Rp300 ribu pertabung,” terang pelaku.

Agung menambahkan, dalam proses pemindahan atau mengoplos gas tersebut, 15 sampai 16 tabung isi tiga kilogram dipindahkan isinya ke dalam tabung berwarna orange berisi 50 kilogram.

“Alatnya cuma suntik gas yang dimodivikasi dari selang, kepala
regulator, dan cakram rem motor,” tuturnya.

Meski dengan alat sangat sederhana, pelaku mampu meraup keuntungan antara Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta setiap harinya.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono, mengatakan terungkapnya sindikat tersebut berawal dari informasi masyarakat yang mengaku resah dengan aksi para pelaku.

“Dari informasi itu kemudian kita lakukan penyelidikan. Dan hasilnya memang benar kita temukan di tiga lokasi yakni Kalipancur, Gunungpati dan Genuk,” terang Djihartono.

Adapun modus pelaku lanjut Djihartono dengan cara menyedot isi tabung melon lalu dipindahkan ke dalam tabung besar seperti 12 kilogram dan 50 kilogram dan subsidi ke non subsidi.

“Pelaku kita jerat dengan pasal 62 ayat (1) jo pasal 8 ayat (1) Undang Undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, Undang Undang nomor 2 tahun 1998 tentang Metrologi Legal dan Undang Undang nomor 7 tahun 2014 tentang
perdagangan,” pungkas Djihartono. (BJ04)

Advertisements