Home Hukum dan Kriminal Polres Kudus Bantah Ada Pembakaran Pada Kuswanto

Polres Kudus Bantah Ada Pembakaran Pada Kuswanto

Kustinah, ibu Kuswanto korban salah tangkap oknum Polres Kudus didampingi kuasa hukum. (BJ/PJH)

Kudus, 12/12 (Beritajateng.net) – Kepala Bagian (Kabag) Humas Polres Kudus AKP Sumbar Priyono, membantah adanya peristiwa penyiksaan dan pembakaran terhadap Kuswanto (29) warga Desa Jepang, Kecamatan Mejobo Kudus pada November 2012. Menurutnya, kejadian tersebut bukan penyiksaan atau pembakaran tetapi kecelakaan dalam pemeriksaan.

“Tidak ada penyiksaan dan pembakaran yang ada hanya kecelakaan dalam pemeriksaan,” katanya.

Hanya saja, ketika ditanya perihal kecelakaan yang dimaksud dan bagaimana kronologinya, Sumbar tidak bisa menjelaskan secara rinci. Yang diketahuinya, dalam kasus ini sudah ada kesepakatan damai antara Kuswanto dan pihak Polres secara tertulis.

Biaya pengobatan selama Kuswanto dirawat ditanggung Polres Kudus dan mendapatkan ganti rugi sebesar Rp 30 juta. “Dalam surat pernyataan itu, Kuswanto tak akan melakukan gugatan hukum apa pun,” terangnya.

Terpisah ibu Kuswanto, Kustinah (48) sebelum memenuhi panggilan Bidpropam Polda Jateng untuk dimintai keterangan di Unit Paminal Polres Kudus mengatakan, dia dan anaknya sekitar tahun 2013 pernah diminta menandatangi selembar surat bermaterai di Kantor Propam Polres Kudus. “Saya hanya menandatanganinya saja tetapi tidak tahu maksud isi surat tersebut,” jelas Kustinah didampingi penasihat hukumnya, Tri Wulan Larasati SH.

Ketika menandatangani surat tersebut, lanjutnya, Kustinah dijadikan saksi atas penyelesaian perkara antara anaknya dengan oknum petugas Polres Kudus. Sedangkan anaknya ketika itu didampingi seorang pengacara Daru Handoyo W SH MH.

Ditambahkan Laras, pemeriksaan kliennya dilakukan oleh Aiptu Suko Haryono selaku penyidik Bidang Propam Polda Jateng. Dalam pemeriksaan tersebut, penyidik menanyakan seputar kronologi penangkapan dan penyiksaan anaknya oleh petugas reskrim Polres Kudus.

Yang membuat Kustinah tidak habis pikir, dalam pemeriksaan tersebut dia juga ditanya soal tindak pidana penggelapan yang dilakukan Kuswanto. Menurut petugas yang memeriksanya dikatakan, Kuswanto pernah melakukan penggelapan satu unit sepeda motor milik Muzdalifah pada tahun 2010.   Disinggung apakah diangkatnya perkara dugaan penggelapan oleh Kuswanto tersebut untuk dijadikan barter kasus, Laras mengaku tidak mengetahuinya.

Laras mengaku belum berani memastikan bahwa kasus penggelapan Kuswanto sengaja tidak diproses, akan tetapi perkara penyiksaan oleh petugas juga diselesaikan secara damai.   “Saya tidak berani berandai-andai dan tidak bisa menjawab pertanyaan anda,” tegasnya.

Masih menurut Laras, seharusnya pemeriksaan ini dilakukan bersamaan dengan Kuswanto. Hanya saja, dalam waktu bersamaan yang bersangkutan juga mendapat surat panggilan dari penyidik Bareskrim Polri di Polda Jateng. Kuswanto memilih memenuhi panggilan di Mapolda Jateng karena, kuasa hukumnya dari KontraS menunggu disana (Mapolda). “Memang agak mengherankan, pemanggilan satu orang waktunya bersamaan,”pungkasnya. (pjh/pj)

Advertisements