Home Hukum dan Kriminal “Polisi itu Kenal Anak Saya, dan Sering Main ke Rumah”

“Polisi itu Kenal Anak Saya, dan Sering Main ke Rumah”

646

image

Kudus, 9/12 (Beritajateng.net) – Kustinah (48) ibu korban salah tangkap dan penyiksaan aparat Polres Kudus, Kuswanto (29) tidak kuasa menahan tangis ketika ditemui beberapa awak media di tempat kerjanya. Saat diminta menceritakan kisah tragis yang dialami anaknya, ibu tiga anak ini mulai menitikkan air mata. Ia mengaku tidak menyangka anaknya bernasib seperti itu.

Menurutnya, anak keduanya tersebut bukan residivis dan bukan penjahat tetapi disiksa sedemikian rupa hingga mengalami cacat permanen. Dan, yang membuatnya tidak habis pikir, polisi yang melakukan penyiksaan sudah saling kenal dengan anaknya. “Polisi yang menyiksa anak saya itu sudah saling kenal cukup baik dan sering main ke rumah,” tambahnya.

Sebelum berangkat ke Jakarta, katanya, anaknya tersebut masih sering mengeluh merasa kesakitan pada luka bakar yang dialaminya. Menurutnya, Kuswanto tidak bisa tidur jika bekas luka bakarnya tidak dikompres menggunakan air panas. Yang lebih membuatnya prihatin, akibat luka-lukanya itu anaknya tidak bisa bekerja dan tidak memiliki penghasilan sama sekali.

Akibatnya, anak sulung Kuswanto yang masih duduk di kelas 1 SD pernah berhenti sekolah karena tidak ada biaya walau akhirnya bersekolah kembali. Saat ditanya kejadian yang menimpa anaknya, Kustinah terpaksa tidak mampu mengucapkan kata-kata karena menangis.

Dikatakan, awal tragedi yang menimpa anaknya terjadi pada 12 November 2012.   Sore itu Kuswanto bersama istri dan dua anaknya pergi ke rumah mertuanya di Purwodadi. “Sebenarnya, saat pamit sudah saya larang agar tidak bepergian tapi karena dia bilang anak-anaknya kangen dengan mbahnya, akhirnya mereka tetap berangkat,” tuturnya.

Pada tengah malam pada hari yang sama, lanjutnya, salah seorang anggota polisi yang juga teman Kuswanto menelepon dirinya. Dalam pembicaraan itu sang polisi menanyakan keberadaan Kuswanto. Polisi itu minta agar Kuswanto diminta pulang. “Karena rumah mertua anak saya ada di pelosok, maka saya katakan tidak bisa,” katanya.

Kustini masih ingat, saat polisi itu menelepon, pada saat bersamaan dia mendengar kabar terjadi peristiwa perampokan di gudang ice cream Walls yang ada di Jalan Lingkar Selatan. Selanjutnya, beberapa hari kemudian ketika Kuswanto pulang ke Kudus, ada pesan singkat (SMS) dari nomer tidak dikenal yang meminta agar dia jangan keluar rumah dan pergi jauh-jauh saja.

“Karena anak saya merasa tidak ada masalah, maka anak saya tidak mau menanggapi isi SMS itu. Lalu, pada 21 November 2012 sore anak saya pamit keluar rumah hendak menemui temannya. Tetapi sampai dua hari berikutnya anak saya tidak pulang dan tidak memberitahu kemana,” tutur Kustinah sambil mengusap air mata.

Sebagai seorang ibu, hati kecil Kustinah merasa gundah dan merasakan telah terjadi sesuatu terhadap anaknya. Ditemani suaminya Suroto (52), beberapa tempat yang biasa dikunjungi anaknya dicari tetapi tidak ditemukan.

Saat sedang dalam keadaan bingung karena HP anaknya juga tidak bisa dihubungi, Kustinah  mendapat informasi dari seseorang bahwa anaknya ditangkap polisi. Mendengar kabar itu, pasangan suami istri ini langsung menuju Polres Kudus menanyakan kebenaran kabar yang diterimanya.

“Tapi polisi bilang nggak ada penangkapan, tapi saya dengar dari tetangga anak saya dirawat di RSUD Kudus. Lalu saya ke rumah sakit tapi dilarang nengok sama polisi,” ujarnya.

Meski begitu ia memaksa masuk dan mengaku shock melihat kondisi anaknya. Saat itu, Kuswanto dijaga belasan polisi dan tidak seorang pun bersedia memberikan keterangan mengapa anaknya sampai mengalami luka separah itu.

Belakangan dia mengetahui bahwa luka yang diderita anaknya akibat dibakar polisi karena menolak ketika dipaksa mengaku terlibat perampokan di gudang ice cream Walls. “Saya hanya mengharapkan keadilan ditegakkan seadil-adilnya. Kalau anak saya bersalah silahkan diproses sesuai hukum yang berlaku, tetapi kalau memang tidak bersalah seharusnya tidak dipaksa mengaku bersalah bahkan sampai dibakar,” paparnya. (pjh/pj)

Advertisements