Home Headline Polda Jateng Bongkar Sindikat Penipuan TKI dan Perdagangan Manusia

Polda Jateng Bongkar Sindikat Penipuan TKI dan Perdagangan Manusia

image

Semarang, 10/4, (Beritajateng.net) –  Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jateng membongkar sindikat traficking atau perdagan orang. Polisi menetapkan dua orang tersangka dalam kasus tersebut.

Dua pelaku yakni Didik Haryanto (43), warga Desa Cilempuyang, Cimanggu, Cilacap dan Wardoyo (36), warga asal Dusun Jagoan, Desa Krawen, Ngawen, Klaten. Dalam menjalankan aksinya kedua tersangka menggunakan modus memberikan pekerjaan kepada lulusan SMA menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKI).

Kepada polisi Didi Haryanto mengaku,  bahwa tindakan yang dilakukan sesuai dengan prosedur. Adapun, perusahaan PJTKI itu sudah mempunyai izin resmi.

“Kami punya ijin resmi. Maka dari itu perusahaan legal. Memang ada beberapa orang yang belum diberangkatkan,”katanya, Jumat (10/4).

Dikatakan bahwa tahu kalau bekerja dengan mempunyai ijin resmi, Didi langsung menawarkan ke sekolah-sekolah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

“Sistem saya ya langsung presentasi ke sekolah-sekolah. Dalih akan mendapatkan kerja dengan dikirim ke luar negeri dengan gaji tinggi,”akunya.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jateng, Kombes Purwadi Ariyanto mengatakan, modus pelaku dengan mengatasnamakan PT Sabrifna Pramitha sebagai perusahaan pengerah tenga kerja Indonesia swasta (PPTKIS).

Didi dibantu Wardoyo mendatangi sekolah-sekolah untuk bersosialisasi terkait pengrekrutan TKI. Mereka menjanjikan akan memberangkatkan para siswi saat dinyatakan lulus sekolah ke Kanada. Untuk bekerja di perusahaan pengolahan cacing dengan upah 14 dolar Kanada per jamnya. 

“Iming-iming itu yang membuat korban yang total sementara ada 100 orang tertarik,” ungkapnya, saat gelar perkara di Mapolda Jateng, Jumat (10/4).

Setelah tertarik, pelaku kemudian memberikan syarat yakni para calon TKI tersebut harus menyerahkan ijazah asli serta uang Rp 35 juta per orang. Bujuk rayu pelaku langsung membuat korban percaya sehingga banyak korban merasa tertipu dengan memberikan uang tersebut baik tunai maupuan sistem transfer.

“Namun setelah uang terkumpul pelaku tidak memberangkatkan namun menggunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadi,” jelasnya. 

Kepala Sub Direktorat IV Remaja Anak dan Wanita (Renata) Dit Reskrimum Polda Jateng, AKBP Susilowati mengungkapkan dalam praktiknya Didi merupakan otak dari kegiatan tersebut. Sedangkan Wardoyo hanya berperan sebagai membantu Didi untuk mendapatkan calon TKI tersebut. 

“Selama membantu Didi, Wardoyo diberi upah Rp 500 juta,” ungkapnya. 

Terkait tindakan yang dilakukan pelalu, setelah melakukan penelusuran lebih dalam, kedua pelaku tidak hanya melakukan penipuan namun juga dugaan percobaan perdagangan orang.

Dari tangan pelaku petugas menyita barang bukti 89 buku paspor calon TKI, 15 lembar kuitansi pembayaran, 19 ijazah SMA dan S-1, 24 bukti transfer serta uang tunai Rp 1,150 juta. Dalam praktik yang dijalankan sejak Februari 2013 itu, pelaku berhasil mengantongi uang milik para korbannya itu sebesar Rp 1,4 miliar. 

Adapun, pasal yang dikenakan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 21
tahun 2007 tentang pidana perdagangan orang. Lalu, Pasal 372 dan atau 378 KUHP Jo Pasal 64 KUHP. (BJ04)