Home Headline PMII PURWOKERTO TOLAK KENAIKAN HARGA BBM

PMII PURWOKERTO TOLAK KENAIKAN HARGA BBM

ilustrasi

ilustrasi
ilustrasi
Purwokerto, 10/11 (beritajateng) – Sekitar 50 aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto, Jawa Tengah, Senin, menggelar aksi unjuk rasa untuk menolak rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak.

Sebelum menggelar aksi di depan kompleks Pendapa Si Panji Kabupaten Banyumas, mahasiswa terlebih dulu melakukan “long march” dari Kampus STAIN Purwokerto.

Selama melakukan “long march”, mahasiswa meneriakkan “yel-yel” penolakan rencana kenaikan harga BBM.

Selain itu, mahasiswa juga membawa spanduk dan poster di antaranya bertuliskan “Makan Apa?”, “Tolak Kenaikan Harga BBM”, dan “Tambah Harga Pajak”.

Sesampainya di depan kompleks Pendapa Si Panji, mahasiswa pun segera menggelar orasi secara bergantian serta meminta anggota DPRD Banyumas untuk menemui mereka.

Koordinator aksi, Firdaus mengatakan bahwa pada 10 November telah ditetapkan sebagai Hari Pahlawan sebagai penghormatan terhadap para pejuang.

Menurut dia, spirit pantang menyerah dan antiputus asa merupakan roh sejati kepahlawan.

“Pemerintah Jokowi-JK (Joko Widodo-Jusuf Kalla) yang baru berumur jagung ini telah menunjukan diri sebagai pemerintah yang tidak prorakyat. Menggunakan argumentasi penyelamatan APBN, Jokowi-JK siap membuat tali gantungan massal untuk seluruh masyarakat miskin Indonesia,” katanya.

Ia mengatakan bahwa masyarakat yang sedianya menolak pemangkasan subsidi BBM pun berubah pikiran saat mendengar program unggulan Jokowi-JK berupa Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).

“Satu yang perlu dipahami, setiap program yang menggunakan APBN harus dibicarakan dengan DPR, namun kenyataannya berjalan sendiri tanpa koordinasi,” katanya.

Menurut dia, isu penaikan harga BBM telah memicu kenaikan harga sehingga menimbulkan keresahan masyarakat.

Terkait hal itu, dia mengatakan bahwa PMII Komisariat STAIN Purwokerto menolak rencana pencabutan subsidi BBM.

“Tambahkan pajak BBM nonsubsidi sebagai subsidi silang. Kami menuntut adanya penetapan mobil pribadi berpelat hitam wajib menggunakan BBM nonsubsidi, dan maksimalkan program kendaraan pelat merah wajib gunakan BBM nonsubsidi,” katanya.

Setelah menunggu cukup lama, peserta aksi akhirnya ditemui salah seorang staf Sekretariat DPRD Banyumas, Prawoto.

Dalam kesempatan tersebut, Prawoto mengatakan bahwa pihaknya akan menyampaikan aspirasi mahasiswa ke Komisi A yang saat ini masih melakukan kunjungan kerja.

“Oleh karena itu, untuk audiensi harus menunggu aggota DPRD Banyumas pulang dari kunjungan kerja,” katanya. (ant/puj)