Home Headline Petugas Gabungan Temukan Korban Longsor Banjarnegara

Petugas Gabungan Temukan Korban Longsor Banjarnegara

Longsor Banjarnegara

Banjarnegara, 31/1 (BeritaJateng.net) – Petugas gabungan kembali menemukan satu jenazah korban bencana longsor Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu siang.

“Jenazah tersebut ditemukan di sektor dua tepi aliran sungai pada pukul 13.00 WIB dan telah dievakuasi pukul 13.15 WIB,” kata Koordinator Posko Aju Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara Andri Sulistyo di Desa Ambal, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara.

Saat ditemukan, kata dia, kondisi jenazah berjenis kelamin laki-laki dan berusia sekitar 30 tahun itu telah rusak.

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa keluarga korban dapat mengenali korban dari pakaian yang dikenakan.

“Korban yang mengenakan celana jin warna biru dan celana dalam warna abu-abu itu diketahui bernama Latif bin Salmanto, warga Dusun Jemblung RT 05 RW 01, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar,” katanya.

Setelah berhasil diidentifikasi, kata dia, jenazah korban segera dimakamkan oleh keluarga dan petugas gabungan di pemakaman Desa Sampang.

Dengan ditemukannya jenazah Latif, lanjut dia, jumlah jenazah korban longsor Dusun Jemblung yang telah ditemukan sebanyak 100 orang.

Disinggung mengenai keberadaan pengungsi Dusun Jemblung, Andri mengatakan bahwa hingga saat ini mereka masih menempati hunian sementara (huntara) yang telah disediakan berupa rumah-rumah penduduk yang disewa oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara.

Menurut dia, Pemkab Banjarnegara tidak mewajibkan pengungsi untuk menempati huntara yang dibangun oleh sebuah lembaga kemanusiaan, Aksi Cepat Tanggap (ACT).

“Pengungsi dipersilakan untuk memilih huntara yang disediakan Pemkab Banjarnegara atau huntara yang dibangun ACT. Kadang ada yang menempati huntara yang dibangun ACT tapi tadi malam tidak ada,” katanya.

Seperti diwartakan, ACT membangun 37 unit huntara di Dusun Bandingan, Desa Ambal, Kecamatan Karangkobar, bagi para pengungsi longsor Dusun Jemblung, Desa Sampang.

Huntara tersebut diresmikan penggunaannya oleh Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo pada tanggal 21 Januari 2015.

Kendati demikian, Bupati tidak memaksa pengungsi yang selama ini menempati huntara yang disediakan Pemkab Banjarnegara untuk pindah ke huntara yang dibangun ACT.

“Kami tidak memaksa mereka untuk pindah ke sini (huntara, red.), kami cuma mengimbau. Kalau dipindah, berarti ada unsur paksaan,” kata Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo usai meresmikan 37 unit “Integrated Community Shelter” (ICS) atau huntara di Desa Ambal, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, Rabu (21/1).

“Kami tidak memaksa mereka untuk pindah ke sini (huntara, red.), kami cuma mengimbau. Kalau dipindah, berarti ada unsur paksaan,” kata Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo usai meresmikan 37 unit “Integrated Community Shelter” (ICS) atau huntara di Desa Ambal, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, Rabu.

Selama ini, kata dia, pengungsi bencana tanah longsor Dusun Jemblung yang berjumlah 27 keluarga itu tinggal di rumah-rumah warga yang disewa oleh Pemkab Banjarnegara sebagai huntara.

Oleh karena itu, lanjut dia, pihaknya tidak akan kembali uang sebesar Rp3 juta yang telah diberikan untuk menyewa rumah-rumah warga meskipun para pengungsi tersebut memilih pindah ke huntara yang dibangun ACT.

Menurut dia, pihaknya juga akan tetap menanggung kebutuhan hidup keluarga pengungsi yang memilih pindah ke huntara yang dibangun ACT hingga mereka dapat hidup mandiri di lahan relokasi yang sedang disiapkan Pemkab Banjarnegara.

“Bahkan, kebutuhan hidup pengungsi yang tinggal di rumah saudaranya seperti di Kendaga juga tetap kami urus,” katanya.

Lebih lanjut, Bupati mengatakan bahwa huntara yang dibangun ACT sangat layak huni meskipun hanya terbuat dari papan karena telah dilengkapi sejumlah fasilitas seperti kamar mandi, musala, klinik, dan tempat bermain anak-anak.

“Jika memungkinkan, huntara ini dapat dijadikan hunian tetap bagi para pengungsi,” katanya.

Sementara itu, Presiden ACT Ahyudin mengatakan bahwa huntara tersebut dibangun di atas lahan milik warga yang disewa dalam jangka waktu tidak terbatas.

“Untuk tahap awal, kami sewa selama dua tahun. Kalau memang diperlukan, akan kami beli,” katanya.

Ia mengatakan bahwa pihaknya tidak akan membongkar huntara tersebut meskipun penghuninya telah menempati hunian tetap yang disediakan Pemkab Banjarnegara di lahan relokasi.

Menurut dia, bangunan huntara yang nantinya bakal ditinggalkan penghuninya tersebut dapat dimanfaatkan warga untuk melakukan berbagai kegiatan atau digunakan oleh warga yang butuh tempat tinggal.

Lebih lanjut, Ahyudin mengatakan bahwa 37 unit huntara yang terbuat dari kayu tersebut dibangun secara bergotong-royong dengan dana sekitar Rp1,25 miliar.

“Setiap unit terdiri satu kamar tidur dan satu ruang keluarga,” katanya.

Salah seorang pengungsi, Sunarti mengaku bersyukur karena telah disediakan huntara karena selama ini dia beserta keluarganya tinggal di rumah kosong milik seorang kenalan di Desa Lesmana.

“Sebagian bangunan rumah saya di Dusun Jemblung terkena longsor yang terjadi pada tanggal 12 Desember 2014, sekarang rumah itu telah dihancurkan semua,” katanya.

Bencana tanah longsor yang melanda Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, pada hari Jumat, 12 Desember 2014, sekitar pukul 17.30 WIB, menimbun sekitar 35 rumah warga.

Sementara jumlah warga Dusun Jemblung yang tertimbun longsor diperkirakan mencapai 108 orang. Jumlah tersebut belum termasuk warga luar Dusun Jemblung yang kebetulan melintas saat bencana itu terjadi.

Dalam operasi pencarian korban longsor yang dilaksanakan hingga hari Minggu (21/12) sebanyak 95 jenazah berhasil ditemukan, 64 jenazah di antaranya teridentifikasi sebagai warga Dusun Jemblung.

Selanjutnya, lima jenazah korban longsor Dusun Jemblung ditemukan petugas gabungan secara bertahap di tempat terpisah sehingga secara keseluruhan jumlah jenazah yang ditemukan mencapai 100 orang. (ant/BJ)